Kajian Fikih Praktis (001) : KITAB THAHARAH (Tentang Air)

KITABUT THAHARAH

BAB 1 : Tentang Air
Secara umum, air yang berasal dari langit dan perut bumi adalah air yang thahur (suci dan mensucikan), air yang thahur itu meliputi:

1. Air hujan
2. Air sumur
3. Air laut
4. Air sungai
5. Air salju/es
6. Air telaga
7. Air embun

Diantara dalilnya adalah firman Allah ta’ala;
ﻭَﺃَﻧْﺰَﻟْﻨَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﻣَﺎﺀً ﻃَﻬُﻮﺭًﺍ ‏
Dan kami turunkan dari langit air yang suci dan mensucikan (Q.S Al Furqan : 48)

Nabi Shallallahu Alaihi wasallam juga bersabda tentang air laut;

هو الطهور ماؤه، الحل ميتته
Laut itu airnya suci dan halal bangkainya. (HR. Ibnu Majah dan lainya)

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang sumur;
إن الماء طهور لا ينجسه شيء
Air itu suci tidak ada sesuatu yang menjadikannya najis (HR. Abu Daud, Tirmizi, dinyatakan shahih oleh syeikh Al Albani)

Pada dasarnya semua itu suci dan mensucikan selama ia masih berada pada sifat aslinya dan tidak berubah.

Jika air itu telah berubah warnanya atau baunya atau rasanya karena tercampuri sesuatu yang najis maka ia menjadi najis sebagaimana ijma’ ulama.

Jika salah satu sifatnya berubah tapi karena tercampur dengan zat yang tidak najis (seperti teh, sabun, bidara, dll) maka;

1. Tetap suci dan mensucikan selama zat itu tidak dominan pada air itu dan tidak menjadikannya keluar dari sebutannya secara mutlak, yakni manusi masih menyebutnya dengan air.

2. Suci tapi tidak bisa mensucikan, yaitu ketia zat yang mencampurinya itu lebih dominan, sehingga manusia tidak lagi menyebutnya dengan sebutan air secara mutlaq, seperti.
Wallahu ta’ala a’lam bish shawab.

Maraji’
– Al Wajiz Fi Fiqhis Sunnah wal Kitabil ‘Aziz, Syeikh Abdul Azhim Al Badawi.
– Al Mulakhas Al Fiqhi, Syeikh Shalih Bin Fauzan Al Fauzan.

 

Ditulis oleh : Khoiri Assalaky.
Al Irsyad Tengaran, 6 Maret 2016

22 thoughts on “Kajian Fikih Praktis (001) : KITAB THAHARAH (Tentang Air)

    1. Khoiri Assalaky says:

      Jika ada air dalam ember terciprati air kencing, maka ada perbedaan ulama, kalangan syafiiah jika air itu lebih dari kullatain maka tidak menjadi najiz, namun yang lebih kuat insya Allah yang menjadikan patokan perubahan warna, rasa, atau aroma.. Baik air itu sedikit atau banyak. Jadi ketika air seember itu terpecik air dan tidak merubah bau, rasa atau aromanya maka airnya tetap thahur (suci dan mensucikan).

      Balas
  1. Angga S says:

    Air kolam renang umum bolehkah untuk wudhu? Daerah kami ada kolam umum bisa buat renang, cuci, dll

    Balas
    1. Khoiri Assalaky says:

      Air kolam renang, jika ia mengalir walaupun tercampuri air kencing maka tidak mengapa. Jika ia diam (tidak mengalir) maka tetap suci selama tidak berubah warna, rasa, aromanya sebab pengaruh barang yang najis. Jika ada perubahan warna karena sesutu yg najis, maka ia tidak lagi suci.

      Balas
  2. Widodo Kandangan says:

    Maaf ustadz, kalo mandi junub dgn air di ember dan air di ember tsb terkena tetesan air dari tangan sewaktu menuang air panas, dan ukuran ember kecil. Bagaimana apakah itu sah ustadz? Terimakasih.

    Balas
    1. Khoiri Assalaky says:

      Akhi widodo: tetap sah, dan air tetap suci dan mensucikan, hanya saja dalam pandangan fiqih syafiah masalah ini ada perinciannya, yakni tentang bab air mustakmal, namun yg tepat kembalikan kepada kaidah selama air itu masih mutlaq, maka tetap suci dan mensucikan,

      Balas
  3. Andri - Cileungsi says:

    Ustadz, kalau pulang kampung ana sering naek bis malam, sementara kalo bis malam kadang kalo waktu subuh tidak berhenti, saya bawa air botol 1 literan buat minum, nah kalo waktu subuh tiba, sebaiknya saya tayammum, atau wudhu pake air minum tadi ustadz?

    Balas
    1. Khoiri Assalaky says:

      Akhi andri: jika antum membutuhkan air itu untuk minum, maka hukumnya seperti orang yang tidak mendapatkan air untuk bersuci, karena kebutuhan minum dan memasak itu lebih mendesak, maka di saat seperti itu kembali ke tayammum, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Quddamah dalam Al Mughni, dan beliau menukil Ijma’ (Kesepakatan Ulama) dalam masalah ini.

      Balas
  4. Yoga - Temanggung says:

    1. Bagaimana jika berwudhu melalui kran, kemudian kran menutup (air terhenti) apakah batal wudhu kita (mengulangi wudhu) atau meneruskan wudhu?

    2. Saat kita membasuh wajah kemudian, apabila air yang tertampung di tangan kita, tertetesi air dari wajah kita masih sah kah air tersebut untuk membasuh wajah?

    َجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا كَثِيْرًا

    Balas
    1. Khoiri Assalaky says:

      Akhi Yoga:

      1. Di antara syarat sah wudhu adalah muwalah (yaitu perbuatan berkesinambungan antara yang satu dg yang berikutnga) sebagaimana dalam hadits kholid bin Ma’dan. Namun jika hanya terputus kran, atau mematikan kran maka itu tidak merusak muwalah, maka tetap sah, yang merusak adalah jika wudhu belum selesai, kemudian air mati, hingga waktu yang lama, (anggota yg sudah dibasuh sudah kering misalnya) maka ketika mendapatkan air kembali maka harus mengulang dari awal.

      2 masih sah, karena air yang tertetesi bekas basuhan wajah tidak berubah warnanya, rasanya ataupun aromanya.. (Dalam hal ini ada rincian dalam fikih syafii) namun yang rajih insya Allah tetap sah, sebagaimana keumuman hadits.

      Wallahu ta’ala a’lam bishawab.

      Balas
    1. Khoiri Assalaky says:

      Abu daffa : Thahir = suci tapi belum tentu bisa mensucikan, seperti air teh, kopi, air susu. dia suci / tidak najis, tetapi tidak memiliki sifat bisa mensucikan benda lainnya.

      Thahur : suci dan bisa menjadikan benda lain menjadi suci, yaitu semua air mutlaq yg telah disebutkan dalam pembahasan.

      Balas
  5. Muhammad Subagiono - Riau says:

    Assalamu’alaikum ustadz, Ana muhamad subagiono dari riau,
    Ana mau tanya, bagaimana cara berwudu ketika air kita hanya sedikit. Seperti contoh, air nya cuman satu ember, bolehkah kita berwudu memakai gayung? atau harus buat pancuran terlebih dahulu?

    Balas
    1. Khoiri Assalaky says:

      Waalaikumussalam, akhi muhammad subagiono, satu ember itu sangat banyak jika hanya untuk berwudhu, bahkan wudhunya Nabi itu hanya 1 mud (1 cakupan 2 telapak tangan), dengan satu gayung itu sudah sangat cukup, tidak harus dibikin pancuran, yang penting ketika pertama kali (selepas tidur) membasuh tangan tidak dicelupkan, tetapi dialirkan, baru berikutnya dicelupkan, sebagaimana disebutkan dalam hadits..

      Balas
  6. Rinto says:

    Afwan tanya ustadz, kalau air yg berwarna hijau karena lumut/ganggang, bolehkah digunakan untuk wudhu?

    Balas
    1. Khoiri Assalaky says:

      Akhi Rinto : dalam hal ini ada dua pendapat ulama, sebagaimana dikatakan oleh syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan yg lebih kuat adalah ia suci dan mensucikan selama namanya masih air, (tanpa ada penambahan air tertentu), seperti halnya air sungai yang keruh karena lumpur yang terbawa maka ia tetap suci dan mensucikan, dan pendapat inilah yg dipilah oleh syeikh fauzan hafizhahullah.

      Balas
    1. Khoiri Assalaky says:

      Dengan Centimeter (Luas) : 60 cm x 60 cm x 60 cm.
      Dengan Centimeter (Volume) : 216.000 cm³.
      Dengan Liter (Volume) : 216 liter.
      Dengan Kilogram (Berat) : 216 kg.
      Dengan Rithal (Berat) : 500 Rithal Bagdad

      Namun dalam masalah ini banyak sekali perbedaan ulama, ada yg mengatakan 160 liter, namun yang tepat dalam masalah ini adalah dikembalikan kepada perubahan air, baik itu banyak atau kurang daru qullatain, sebagaimana dijelaskan oleh syeikh Bin Baz Rahimahullah.

      Balas
  7. Hery - Gresik says:

    Hukumnya air dibak mandi yang kejatuhan kotoran cecak bagaimana? Apakah selama ketiga sifat tadi tidak berubah, tetap suci? jazakallah khair.

    Balas
  8. Angga S says:

    Ustadz, maksud dari “Apabila sudah mandi maka tak perlu wudhu lagi”
    Maksudnya mandi wajib atau termasuk mandi biasa sehari-hari?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: