Nikmat Terbesar

Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahirabbil’alamin.
Washshalatu wassalamu ‘ala nabiyyil karim, muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi ‘ajmain.

Berikut ini pendahuluan dari kitab yang sangat indah, dengan judul yang indah, dan isi yang penuh faedah.

Tulisan pada versi ini adalah rangkaian tulisan yang merupakan metode kedua dari penulisan yang telah disampaikan pada awal materi. Adapun versi metode pertama dapat diikuti pada tautan ini.

Pada bagian pendahuluan,
penulis hafidzahullahu ta’ala memberikan sebuah nasehat yang sangat pantas untuk diperhatikan kita semua.

Ya. Kita semua. Saya dan Anda.
Perhatikanlah pendahuluan beliau.

BELIAU MENYAMPAIKAN BAHWA INI ADALAH ADAB SEORANG MUSLIM.

Ketika disebutkan kalimat muslim, kita perlu mengingat bahwa status sebagai seorang muslim ini adalah sebuah nikmat besar yang Allah berikan kepada kita, dan tidak Allah berikan kepada yang lain.

Allah, Rabbul ‘alamin, Sang Penguasa alam semesta berfirman dalam Al Maidah, surah ke-5 ayat ke-3.

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِينً۬ا‌ۚ 
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu

AL-MAIDAH:3

Syaikh As Sa’di di dalam tafsirnya menjelaskan:

“Dan Aku sempurnakan untukmu nikmatKu”, yaitu nikmat lahir dan batin, yang nampak dan yang tidak nampak secara materi.
“Dan Aku ridhai untuk kalian Islam sebagai agama”, yaitu Aku telah memilihkan bagi kalian agama ini, sebagaimana aku telah ridhai kalian untuk beragama dengan Islam, maka bersyukurlah kepada Rabb kalian, dan pujilah Dia yang telah memberikan nikmat kepada kalian dengan sebaik-baik agama.

BERBICARA MENGENAI NIKMAT,
ADA DUA HAL YANG PERLU KITA GARIS BAWAHI, YAITU: MERASAKAN DAN MENSYUKURI.

Nikmat lahiriah; nikmat fisik; nikmat yang nampak, ini lebih mudah untuk dirasakan.
Misal, rasa lezat makanan, aroma harum, pemandangan yang indah, suara yang merdu.
Ini semua mudah untuk dirasakan.

Tetapi, rasa tersebut akan menjadi sulit ketika indera yang bertugas untuk merasakannya dalam kondisi sakit.

Pernah sariawan? Rasa lezat sate kambing, misalnya, akan sulit dirasakan dengan lidah yang sedang sariawan. Semakin tinggi stadium sariawan-nya, semakin sulit kelezatan itu dirasakan.

Di masa pandemi ini, sebuah istilah yang cukup viral adalah “anosmia”. Kesegaran parfum kelas dunia, atau yang suka dengan kesegaran aroma papermint, akan sulit dirasakan, bahkan aroma tersebut bisa jadi hilang, meskipun disodorkan di depan muka, jika sang pencium mengalami anosmia.

Keindahan dasar laut ketika menyelam. Pernah melihat pemandangan seperti itu? Indah sekali. Tapi bagaimana jika si penyelam yang matanya minus 4 tidak menggunakan kacamatanya saat menyelam? Yang ada hanyalah kabut dan kabut.

Suara burung yang berkicau, atau suara celoteh anak kecil yang lucu. Itu sangat menyenangkan untuk didengar. Tetapi beberapa orang yang mengalami masalah pada pendengaran, akan sulit merasakan nikmat suara-suara tersebut.

Demikianlah nikmat lahiriah, meskipun terlihat tetapi akan sulit dirasakan jika indera perasanya sedang bermasalah. Semakin tinggi stadium masalah, semakin sulit merasakan nikmat.

Bagaimana dengan nikmat batin, nikmat ruh, nikmat yang cenderung tidak terlihat?
Ternyata kenikmatan yang dirasakan oleh ruh adalah nikmat yang mahal, lebih mahal dari nikmat yang dirasakan oleh fisik; nikmat yang terlihat.

Nah, di antara kenikmatan ruh – kita sering mendengar istilah santapan ruhani – adalah mengenal Islam dan menjadi seorang muslim.

Allah telah mewahyukan kepada sebaik-baik makhluk – yaitu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, melalui sebaik-baik kitab – yaitu Al Quran, dan pada waktu terbaik – yaitu hari arafah di saat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berhaji wada, mengenai nikmat terbesar ini – yaitu ayat ketiga dalam surah Al Maidah, yang menjelaskan bahwa nikmat besar itu adalah Al Islam, agama yang telah Allah ridhai, dan agama yang menjadikan kita masuk sebagai bagian dari kaum muslimin.

Akan tetapi nikmat sebesar dan seindah itu tidak akan dirasakan jika hati ini sakit, qalbu ini sakit. Sebagaimana lidah yang sakit tidak mampu merasakan lezatnya hidangan.

Seandainya hati sehat; hati hidup, sungguh kenikmatan besar itu akan dapat dirasakan, kemudian akan muncul rasa syukur di dalam dirinya yang menjadikannya mudah melakukan ketaatan-ketaatan dalam agama.

Tidakkah kita lihat kondisi manusia di sekitar kita, atau bahkan kondisi diri kita sendiri, di saat kita tidak mengikuti petunjuk Allah dan RasulNya maka berbagai permasalahan akan datang, jauh dari ketenangan dan kenyamanan hidup.

Mungkin saja secara fisik sehat, secara duniawi memiliki harta, secara sosial berkedudukan, tetapi ketenangan hati bukan lah sesuatu yang dapat diperjual belikan.

Ketenangan hati adalah sesuatu yang mahal, dan itu merupakan karunia besar dari Allah.

KENAPA KITA HARUS SELALU MENGKAITKAN ISLAM DENGAN KENIKMATAN?

Karena Allah telah menjelaskan bahwa kelapangan dada, kenikmatan hidup, dan ketenangan hati hanya akan diberikan bagi orang yang menerima Islam.

Allah berfirman dalam Al An’an surah ke-6 ayat ke-125

فَمَن يُرِدِ اللَّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ
Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk [memeluk agama] Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya [1], niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman

AL-AN’AAM:125

Syaikh As Sa’di di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini mengandung petunjuk mengenai tanda kebahagiaan dan hidayah pada diri seseorang. Yaitu menerima Islam, hidupnya disinari dengan cahaya keimanan dan keyakinan, jiwanya tenang, mencintai kebaikan dan jiwanya mudah untuk diajak kepada kebaikan, merasakan kelezatan dalam berbuat baik, tidak merasakan kesusahan ketika menjalani ketaatan. Inilah tanda bahwa Allah telah memberinya hidayah dan mengaruniakan kepadanya nikmat taufiq, dan mengikuti jalan yang lurus.

Adapun tanda Allah menyesatkannya adalah kesempitan adalah hidup, tidak ada ilmu yang menunjukinya, penuh dengan ketidakpastian, jiwa dan keinginannya tenggelam dalam syubhat dan syahwat, tidak mengantarkannya kepada kebaikan dan tidak menjadikan dadanya lapang ketika diajak kepada kebaikan. Kondisinya seperti orang yang berjalan menaiki langit, sesak dan sempit dadanya; susah bernafas. Itulah bentuk siksa yang Allah berikan kepada dirinya dengan sebab tidak adanya iman dan ilmu dalam dirinya.

Hal ini sama dengan yang Allah sebutkan di dalam Al Lail, surah ke-92 ayat ke-5 sampai ayat ke-10, mengenai tanda kebaikan adalah Allah mudahkan berbuat baik, dan tanda keburukan adalah Allah mudahkan berbuat buruk.

CONTOH KENIKMATAN

Sesuatu yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya pasti berisi kebaikan bagi manusia, dan sebaliknya, sesuatu yang dilarang oleh Allah dan RasulNya pasti mengandung keburukan bagi manusia.

Mengerjakan perintah dan menjauhi larangan adalah pokok dari sifat seorang muslim, di mana seorang muslim adalah orang yang tunduk dan patuh terhadap hal-hal tersebut.

Jika kita kembali kepada penjelasan sebelumnya, maka ini menjadi sebuah rangkaian yang indah.
Perhatikan.
Islam adalah kenikmatan besar.
Kenikmatan bisa menjadi berharga jika dapat dirasakan.
Cara merasakan kenikmatan adalah dengan dengan menerima Islam.
Menerima dan mengamalkan konsep yang diajarkan oleh Allah dan RasulNya.

Mari kita perhatikan sebuah hal yang pernah dirasakan oleh kita semua.
Meskipun terkesan sepele dan remeh, ini bisa berefek fatal dan besar jika tidak disikapi dengan benar.
Hal tersebut adalah marah; kemarahan.

Marah, adalah sifat yang ada pada setiap kita. Kita semua pernah merasakan.
Bagaimana Islam berbicara tentang kemarahan?

Mari kita simak sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini.

عن أبي هريرة رضي الله عنه: (أن رجلاً قال للنبي صلى الله عليه وسلم: أوصني، فقال له النبي صلى الله عليه وسلم: لا تغضب، فكرر مراراً، قال: لا تغضب)، رواه البخاري.

ص7 – كتاب شرح الأربعين النووية العباد – شرح حديث لا تغضب – المكتبة الشاملة الحديثة

Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad menjelaskan hadits ini, di antara penjelasan beliau adalah:

Larangan dari marah, yang dimaksud adalah melarang dari hal-hal yang mengantarkan kepada kemarahan, dan melarang dari hal-hal yang memberikan dampak jika mengikuti kemarahan tersebut.

Adapun sifat marah, ini adalah sifat manusiawi yang ada pada diri setiap manusia. Hanya saja tingkat kemarahan masing-masing orang berbeda. Ada yang mudah marah, ada pula yang lembut, tidak mudah terprovokasi, dan tidak mudah marah.

Menghindari hal-hal yang menimbulkan kemarahan, ini adalah hal penting, dan ini masuk ke dalam larangan “jangan marah” yang disebutkan dalam hadits ini.

Demikian juga dampak buruk dari kemarahan harus dihindari. Kemarahan bisa menjadikan seseorang melakukan perbuatan buruk, ataupun melontarkan sebuah perkataan dengan sebab kemarahan tersebut.

Maka kuncinya adalah, menghindari hal-hal yang bisa menimbulkan marah. Namun jika kemarahan telah muncul, tugas berikutnya adalah menekan kemarahan tersebut sehingga tidak disalurkan menjadi aktivitas berupa perbuatan atau perkataan, menggerakkan tangan atau lisan, yang menimbulkan keburukan; bahaya untuk diri sendiri maupun orang lain.

Hal-hal buruk dapat terjadi dengan sebab kemarahan, seperti berkata kotor, memukul, menghancurkan barang, dan seterusnya.

Berikutnya, apa yang perlu kita lakukan saat kemarahan itu datang, agar kita bisa menjauhkan diri dari kemarahan, mengakhiri kemarahan, dan menyelamatkan diri maupun orang lain dari keburukan marah?

Beliau melanjutkan beberapa poin penting dari jawaban pertanyaan tersebut.

Pertama, berta’awudz, minta perlindungan kepada Allah, karena ini termasuk perbuatan setan yang menginginkan kemarahan pada manusia, dan menginginkan keburukan yang terjadi dengan sebab kemarahan tersebut, keburukan pada agama maupun dunianya.

Kedua, jika dalam keadaan berdiri hendaknya merubah posisi menjadi duduk, jika dalam posisi duduk hendaknya diubah menjadi berbaring. Hal tersebut karena secara umum posisi berdiri lebih kuat dari posisi duduk, demikian juga posisi duduk lebih kuat dari posisi berbaring, dalam hal lebih kuat dan lebih memungkinan untuk melakukan tindakan-tindakan fisik yang merupakan dampak dari kemarahan.

Ketiga, jika penyebab kemarahan itu ada di sebuah tempat, hendaknya dia menjauh dari tempat tersebut. Ini akan menjadikannya tenang dan mengurangi kemarahan. Ini pernah terjadi pada diri seorang sahabat besar, yaitu Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu dalam sebuah kejadian antara dirinya dan istrinya Fathimah radhiyallahu’anhaa.

Inilah salah satu contoh kenikmatan yang akan kita dapat jika menerima Islam, menerima konsep-konsep yang diajarkan Allah dan RasulNya, kemudian mengamalkan semaksimal mungkin.

Ini adalah kenikmatan, karena jika kita tidak mengikuti petunjuk Nabi shalallahu’alaihi wa sallam dalam hal marah seperti hadits di atas, tentu berbagai keburukan akan kita dapatkan. Dan keburukan adalah lawan dari kenikmatan, karena kenikmatan sejati adalah kenikmatan yang mengandung kebaikan.

Mungkin seseorang “menikmati kemarahan” nya, tapi tentu ini kenikmatan semu, kenikmatan yang merupakan tipu daya setan, yang bisa kita ketahui dengan jelas dampak buruknya jika kita berpikir secara sehat dan jernih.

PENUTUP

Kembali ke pembahasan awal, ketika penulis menyampaikan bahwa materi pelajaran dalam buku ini adalah adab seorang muslim, sadarilah bahwa status muslim itu merupakan nikmat besar dari Allah, yang bisa jadi kita mendapatkannya tanpa kita meminta. Allah memilih kita menjadi seorang muslim, sementara Allah tidak memilih orang lain menjadi seorang muslim, tentu kita sangat berbahagia menjadi orang-orang yang Allah pilih tersebut.

Namun nikmat yang besar tadi tidak akan memberi manfaat jika tidak kita tindaklanjuti.
Maka jika kita sadari bahwa ini adalah sesuatu yang mahal, lanjutkanlah hal tersebut dengan bentuk mensyukuri pemberian yang mahal itu. Cara terbaik untuk mensyukurinya adalah dengan semakin bersemangat untuk mengerjakan ketaatan dan kebaikan yang dianjurkan oleh agama ini.

Cara terbaik untuk memulai kebaikan adalah dengan belajar, dan di antara materi pembelajaran yang sangat penting untuk dipelajari adalah materi mengenai adab.

Insyaallah kita lanjutkan pembahasan berikutnya dengan mengikuti pembelajaran dalam kitab ini.

Washalallahu ‘ala nabiyyinaa muhammad, wa akhiru da’wanaa ‘anil hamdulillahi rabbil’aalamin.

Yogyakarta, bada isya 2 Muharram 1443 H | 11 Agustus 2021.

Beberapa referensi tambahan:
– Mensyukuri nikmat Islam
– Nikmat yang dilupakan

tulisan ini merupakan re-post dari web
muhammadbasyiranshori.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.