Kenapa harus Belajar-Rutin

Bismillah.
Alhamdulillah.
Washalatu wasalamu ‘ala Rasulillah.

Belajar-Rutin.
Alangkah bagusnya jika dua kata ini menjadi sebuah kalimat yang senantiasa tidak berpisah antar satu dengan yang lainnya.
“Belajar” hendaknya menjadi teman bagi “Rutin”, sebagaimana janganlah “Rutin” meninggalkan sohib karibnya yang bernama “Belajar”.

KENAPA KITA HARUS BELAJAR?

Cukuplah sabda Sang Nabi shalallahu ‘alaihi, ketika beliau menyatakan bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim menjadi bukti bahwa belajar merupakan hal yang sifatnya darurat; harus ada; dan menjadi kebutuhan pokok bagi kita.

Berbicara tentang “kewajiban”, ada sebuah kaidah penting yang disebutkan oleh para ulama, di antaranya Syaikh As Sa’di dalam kitab qawaid fiqhnya menjelaskan

الشَّارِعُ لاَ يَأْمُرُ إِلاَّ بِمَا مَصْلَحَتُهُ خَالِصَةٌ أَوْ رَاجِحَةٌ وَلاَ يَنْهَى إِلاَّ عَمَّا مَفْسَدَتُهُ خَالِصَةٌ أَوْ رَاجِحَةٌ

Allah dan RasulNya tidaklah memerintahkan sesuatu kecuali perkara yang memberikan mashlahat; kebaikan, secara murni; mutlak, maupun secara dominan.
Dan tidaklah melarang kecuali perkara yang mendatangkan kerusakan, secara murni; mutlak, maupun secara dominan

Hal ini perlu kita tanamkan kuat-kuat pada diri kita, sehingga menumbuhkan keinginan untuk mengerjakan perintah ketaatan, karena kita yakin pasti ada kebaikan di dalamnya, meskipun mungkin kita belum tahu mashlahat apa saja yang akan kita dapatkan setelah mengerjakan perintah tersebut.

Di antara kebaikan dan keutamaan belajar; menuntut ilmu, ternyata sangat erat kaitannya dengan kehidupan, dan ada tidaknya ilmu akan mempengaruhi apakah seseorang itu hidup atau mati.

Salah satu hal darurat yang dibutuhkan oleh kita semua adalah “kehidupan”, dan ternyata faktor penting yang akan menjadikan kita hidup adalah ilmu.
Sebagaimana dinyatakan oleh seorang sahabat yang sangat faqih yaitu Muadz bin Jabal bahwa ilmu adalah kehidupan hati, dengan hati yang hidup maka anggota badan yang lain pun akan hidup, demikian pula kondisi sakit pada hati akan sangat mempengaruhi kesehatan anggota badan yang lain.

Oya, hati yang dimaksud adalah qalbu; jantung.
Karena memang itulah organ vital untuk kehidupan jasad kita, sebagaimana itulah organ vital untuk kehidupan ruh kita.

Allah Al ‘Aalim Al Hakim, Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana telah banyak mengajarkan kepada kita melalui KitabNya dan Sunnah NabiNya shalallahu ‘alaihi wa sallam mengenai keutamaan ilmu. Sangat banyak keterangan mengenai hal ini, salah satunya yang cukup menarik adalah bagaimana ilmu itu bisa membedakan antara binatang yang berilmu dengan yang tidak berilmu dalam hal hukum hasil buruannya.

Dalam surah Al Maidah, yaitu surah urutan ke-5 dalam mushaf Al Qur’an, ayat ke 4, Allah azza wa jalla menyebutkan hal ini:

MEREKA MENANYAKAN KEPADAMU: “APAKAH YANG DIHALALKAN BAGI MEREKA?”. KATAKANLAH: “DIHALALKAN BAGIMU YANG BAIK-BAIK DAN (BURUAN YANG DITANGKAP) OLEH BINATANG BUAS YANG TELAH KAMU AJAR DENGAN MELATIH NYA UNTUK BERBURU; KAMU MENGAJARNYA MENURUT APA YANG TELAH DIAJARKAN ALLAH KEPADAMU. MAKA MAKANLAH DARI APA YANG DITANGKAPNYA UNTUKMU, DAN SEBUTLAH NAMA ALLAH ATAS BINATANG BUAS ITU (WAKTU MELEPASKANNYA). DAN BERTAKWALAH KEPADA ALLAH, SESUNGGUHNYA ALLAH AMAT CEPAT HISAB-NYA.

Syaikh As Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan beberapa faedah dari ayat ini, diantaranya:

السادس: فيه فضيلة العلم، وأن الجارح المعلم -بسبب العلم- يباح صيده، والجاهل بالتعليم لا يباح صيده
faedah ke-6: di dalam ayat ini terdapat dalil mengenai keutamaan ilmu, di mana binatang yang sudah diajari berburu – dengan sebab ilmunya tersebut – hasil buruan yang dia tangkap boleh untuk kita makan, adapun binatang yang tidak diajari; tidak berilmu, maka tidak dihalalkan hasil buruannya.

Jika demikian kondisi perbedaan pada binatang yang disebabkan oleh ilmu – dengan konsekuensi hukum yang sangat berbeda, antara halal dan haram – maka bagaimana dengan ilmu yang ada pada manusia, makhluk yang tentu jauh lebih mulia daripada binatang.

Itu di antara bukti kemuliaan ilmu dan mengapa kita harus belajar menuntut ilmu.

Kembali ke kaidah yang disampaikan Syaikh As Sa’di di atas, jika dalam setiap perintah pasti mengandung kebaikan, maka dalam setiap hal yang dilarang pasti mengandung kerusakan/ keburukan.

Kaitannya dengan ilmu, hal yang dilarang adalah “tidak belajar”.

Terkadang ketika disampaikan bahwa salah satu manfaat ilmu adalah memberikan kemampuan kepada kita untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah, ada ucapan sebagian dari kita yang mengatakan: aku belum siap mendengar ilmu tersebut, karena kalau aku dengar, kemudian aku tahu itu kesalahan, jadinya aku kena dosa, mending ga tahu, biar ga berdosa.

Ini ucapan yang tidak tepat.
Karena terdapat perbedaan besar antara tidak tahu dengan tidak mau tahu.
Tidak tahu disebabkan memang kondisi menjadikan dirinya belum mengetahui sesuatu, ini dimaafkan.
Tetapi, tidak mau tahu dengan ilmu, ini dikategorikan sebagai sikap berpaling dari petunjuk, berpaling dari ilmu.

Ternyata sikap berpaling dari ilmu ini bukan hal yang sepele.
Para ulama menjadikannya sebagai salah satu pembatal keislaman, sebagaimana disebutkan pada sebuah kitab kecil yang menjelaskan 10 pembatal keislaman, pada poin ke-10 disebutkan permasalahan “berpaling dari ilmu” ini.

Berpaling dari ilmu akan memberikan dampak buruk bagi kehidupan, di antara dampak buruk berpaling dari ilmu adalah kehidupan yang sempit.
Allah menegaskan ini dalam surah Tha haa ayat ke 27.
Bacalah penjelasan para ulama mengenai ayat ini.
Kehidupan yang sempit, tidak ada ketenangan, tidak ada kelapangan dada, bahkan yang ada adalah kesempitan demi kesempitan dalam setiap sisi kehidupan nya – ضَنكًا

Itulah hal penting yang perlu kita ketahui mengenai keburukan jika kita sengaja tidak mau belajar.

Adapun “Rutin”, mari kita lanjutkan…

KENAPA KITA HARUS RUTIN DALAM BELAJAR?

Ada sebuah buku yang ditulis oleh seseorang yang menceritakan pengalaman pribadinya. Cerita tersebut berawal dari sebuah kecelakaan yang terjadi pada saat dia bermain baseball di sekolah, usianya kurang lebih setingkat anak SMA.

Tongkat baseball yang dipukulkan temannya terlepas dan terlempar ke wajahnya, mengenai kepala, lebih tepatnya di area sekitar hidung. Pukulan itu menyebabkan dia mengalami koma dan juga cidera parah di tulang hidungnya. Singkat cerita dia bisa sembuh meskipun harus menjalani proses pemulihan yang tidak sebentar dan penuh rasa sakit. Sampai-sampai pernah ketika dia meniup dengan agak kencang, ternyata udara yang keluar melalui hidung tersebut menembus ke area mata melalui retakan akibat pukulan tadi, sehingga matanya bergerak keluar dari lobang mata… huffhh.

Setelah pemulihan, dia ingin lagi main baseball sebagaimana dulu dia berprestasi di permainan tersebut. Tapi kondisi tidak mudah lagi, dia harus melalui fase-fase yang sulit untuk kembali dapat bermain dengan baik seperti dulu.

Nah, justru di saat-saat kesulitan tersebut dia menemukan sebuah pola perubahan yang berhasil dia terapkan untuk kembali bisa bermain dengan baik, bahkan lebih baik dari sebelumnya. Dan juga perubahan tersebut berpengaruh terhadap banyak aspek kehidupannya, sehingga dia pun menuliskan pengalamannya tersebut dalam sebuah buku yang cukup tebal.

Pola perubahan yang dia fokuskan adalah “atomic habit”. Fokus pada kebiasaan-kebiasaan kecil, tetapi secara rutin dilakukan.

Dalam bukunya tersebut ada sebuah fakta yang dia ungkapkan mengenai kebiasaan.

Sebagaimana kita ketahui, kebiasaan ada yang bersifat positif, ada yang negatif. Ada yang baik dan ada yang buruk.

Menariknya, ternyata jika suatu kebiasaan itu bersifat baik; positif, meskipun hanya sebuah hal sepele, kemudian dilakukan secara rutin, maka kebiasaan itu akan membentuk kurva yang melengkung ke atas secara perlahan namun pasti, dengan bentuk lengkungan yang semakin tinggi.

Adapun, jika kebiasaan itu adalah hal yang buruk; negatif, meskipun hanya sebuah hal sepele, kemudian dilakukan secara rutin, maka kebiasaan itu akan membentuk sebuah garis yang menurun kemudian garis tersebut akan bergerak cenderung statis; lurus dibawah sumbu normal.

Seperti ini gambarnya, dengan periode simulasi 1 tahun…

Subhanallah, terlihat jelas sekali perbedaannya yaaa.

Kita lanjutkan…

Apa yang penulis buku tadi lakukan, membuktikan sebuah hal yang jauh-jauh hari sudah disampaikan oleh Rabbul ‘Alamin. Bukankah Allah telah menyatakan bahwa manusia akan mengalami kerugian, kecuali dengan 4 hal yang disebutkan dalam Al Ashr itu?

Dalam tafsir As Sa’di disebutkan bahwa kerugian yang dimaksud terkadang bisa dimaksudkan dengan kerugian mutlak, berupa kerugian dunia dan akhirat, tidak mendapatkan kenikmatan dan malah mendapatkan azab.

Terkadang kerugian itu menimpa beberapa sisi kehidupan saja. Untuk itulah Allah menyatakan keumuman sifat rugi itu bagi seluruh manusia, kecuali yang memenuhi 4 hal dalam ayat ketiga surah tersebut.

Kalau kita lihat kembali grafik di atas, kemudian kita membuat simulasi, si A melakukan 1% kebaikan, si B melakukan 1% keburukan.
Mereka rutin melakukan itu selama setahun.
Adakah di antara kita yang tidak sepakat jika kita katakan si B rugi besarrrr??

Di akhir tahun jarak yang memisahkan mereka berdua sangat jauuuhh.
Sementara itu mereka diberi modal waktu yang sama.
Sama-sama 365 hari.
Sama-sama 24 jam sehari.
Sama-sama 60 menit per-jam nya.

Jika itu hanya sebuah kebaikan dan keburukan duniawi, kita pun sepakat tidak akan mau berada pada posisi si B.
Maka, bagaimana pula jika itu terkait dengan kebaikan dan keburukan akhirat, yang waktunya jauuhh lebih lama, bahkan kekal.

Terakhir…
Berbicara tentang “Ilmu”, ternyata erat hubungannya dengan kehidupan.
Sementara itu…
Berbicara tentang “Rutin”, ternyata erat hubungannya dengan kematian.

Bagaimana maksudnya?
Sebuah ayat dalam Al Qur’an akan menyadarkan kita tentang pentingnya rutinitas dalam kebaikan, dan bahayanya rutinitas dalam keburukan.

Allah Al Hakim berfirman dalam surah Ali Imran, yaitu surah urutan ke-3 dalam mushaf Al Qur’an, ayat 102

HAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN, BERTAKWALAH KEPADA ALLAH SEBENAR-BENAR TAKWA KEPADA-NYA; DAN JANGANLAH SEKALI-KALI KAMU MATI MELAINKAN DALAM KEADAAN BERAGAMA ISLAM

Ini sebuah perintah yang cukup sulit, kita diperintahkan jangan meninggal kecuali dalam keadaan beragama Islam.
Pertanyaannya adalah: bagaimana kita bisa menentukan waktu kematian kita? bagaimana kita bisa memastikan ketika mati kita berada di atas Islam?

Para ulama menjelaskan, di antaranya adalah Al Imam Ibnu Katsir dan Syaikh As Sa’di rahimahumallahu di tafsir mereka mengenai ayat ini

Ibnu Katsir mengatakan:

وقوله : ( ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون ) أي : حافظوا على الإسلام في حال صحتكم وسلامتكم لتموتوا عليه ، فإن الكريم قد أجرى عادته بكرمه أنه من عاش على شيء مات عليه ، ومن مات على شيء بعث عليه ، فعياذا بالله من خلاف ذلك

As Sa’di mengatakan:

هذا أمر من الله لعباده المؤمنين أن يتقوه حق تقواه، وأن يستمروا على ذلك ويثبتوا عليه ويستقيموا إلى الممات، فإن من عاش على شيء مات عليه، فمن كان في حال صحته ونشاطه وإمكانه مداوما لتقوى ربه وطاعته، منيبا إليه على الدوام، ثبته الله عند موته ورزقه حسن الخاتمة

Ada dua kalimat yang sama dari tafsir dua ulama tersebut

من عاش على شيء مات عليه

SIAPA YANG HIDUP DI ATAS SEBUAH POLA (KEBIASAAN) TERTENTU, DIA AKAN MATI DI ATAS POLA (KEBIASAAN) TERSEBUT

Rutinitas kita.
Ternyata itulah sebab utama yang akan menentukan kondisi akhir kehidupan kita.

Kondisi kematian adalah kondisi paling genting dalam kehidupan manusia.
Kondisi kematian adalah kondisi yang tidak dapat direkayasa.
Mungkin sekarang kita bisa berpura-pura di hadapan manusia.
Namun saat kematian itu datang, akan terungkap siapa sebenarnya kita, dan apa rutinitas yang kita lakukan sepanjang kehidupan yang dijalani.

Untuk itulah, kembali kepada kalimat pertama di atas:

Belajar-Rutin.
Alangkah bagusnya jika dua kata ini menjadi sebuah kalimat yang senantiasa tidak berpisah antar satu dengan yang lainnya.
“Belajar” hendaknya menjadi teman bagi “Rutin”, sebagaimana janganlah “Rutin” meninggalkan sohib karibnya yang bernama “Belajar”.

Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini semoga bisa memotivasi kita dalam merutinkan sesuatu.

Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahih-nya).

Semoga ini bisa menjadi salah satu rutinitas kebaikan kita.
Sehingga kita bisa berharap memiliki pola kebiasaan baik, di antaranya adalah “Belajar”.
Dan akhirnya kita bisa berharap Allah memudahkan kita untuk mendapatkan akhir yang baik.

Wa shalallahu ‘ala nabiyyinaa muhammad.
Wa akhiru da’wanaa ‘anil hamdulillahi rabbil ‘alamin.

Yogyakarta, dhuha di hari Sabtu, 28 Dzulhijjah 1442 H | 7 Agustus 2021.

tulisan ini merupakan re-post dari web muhammadbasyiranshori.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.