Memuliakan orang yang pantas dimuliakan …

Memuliakan orang yang pantas dimuliakan …

✍ Mutiara nasehat para sahabat Nabi.

Allah tatkala memerintahkan hambanya untuk membersihkan ibadah hanya kepada-Nya juga memerintahkan hambanya untuk menjaga dan memuliakan hak-hak yang lain terutama orang tua.
Hal ini menunjukkan bahwa memuliakan orang-orang yang pantas dimuliakan karena mengikuti perintah Allah adalah bagian dari ibadah juga.
Allah menyuruh mereka untuk beribadah kepada-Nya dan patuh kepada-Nya semata, dan Dia melarang mereka mengadakan bagi-Nya sekutu dalam rububiyyah dan peribadahan. Dan supaya mereka berbuat baik kepada kedua orang tua dan penuhi hak-hak mereka berdua, dan hak-hak karib kerabat, anak-anak yatim yang maeninggal bapak-bapaknya sedangkan mereka masih berusia sebelum balignya, orang-orang yang membutuhkan yang tidak memiliki harta untuk mencukupi dan menutupi kebutuhan mereka, tetangga yang dekat dengan mereka dan tetangga jauh, teman dalam perjalanan dan dalam pemukiman, orang yang safar yang terdesak kebutuhan dan budak-budak belian dari hamba sahaya mereka, baik lelaki maupun perempuan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dari kalangan hamba-hamba-Nya lagi membanggakan diri terhadap manusia.
Allah berfirman,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.” [An-Nisa’: 36]

Berkata Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar,
Abdullah bin Waqid berkata :
Tidaklah kamu mendapati seburuk-buruknya penguasa melainkan dia adalah orang yang sombong dan membangga-bangakan diri, kemudian ia membaca ayat
{ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا }
“dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”, dan tidak pula orang yang durhaka melainkan dia adalah orang yang sombong dan pasti akan celaka, kemudian ia membacakan ayat :
{ وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا }
“dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka” [Maryam : 32].
(Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar-tafsirweb)

Bahkan dalam beberapa hadits, Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjadikan hal memuliakan orang yang berhak dimuliakan sebagai ciri kesempurnaan iman.

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya”.”
(HR Al-Bukhory, 6018; Muslim, 47)

Para sahabat telah menjadi teladan yang terbaik dalam memuliakan orang-orang yang pantas dimuliakan, sebagaimana yang disampaikan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib.

قال علي بن ابي طالب رضي الله عنه:
أكرم ضيفك وإن كان حقيراً، وقُم على مجلسك لأبيك ومعلمك وإن كنت أميراً.

📚تحف العقول، ص : ١٧
(mawdoo3.com)

Berkata Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه,
Muliakanlah tamumu sekalipun dia orang rendahan. Berdirilah dari tempat dudukmu untuk memuliakan orang tuamu dan pendidikmu sekalipun engkau seorang penguasa.

📚Tuhaf Al-‘Uqul, h. 17.
(mawdoo3.com)

Wallahu a’lam

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.