🔥Ketika Allah mencintai hambanya atau membencinya …?

🔥 Ketika Allah mencintai hambanya atau membencinya …?

✍ Mutiara nasehat para Ulama Salaf.

Diantara tanda cinta Allah kepada hamba-Nya adalah Allah menjadikan hamba-nya tersebut senantiasa mengikuti ajaran Nab.
Sebagaimana Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [Al-Maidah: 54].

Ada 4 tanda yang ada pada suatu kaum yang dicintai oleh Allah, yaitu:
⁰ Mereka bersikap lemah lembut dan kasih sayang terhadap orang-orang yang beriman.
⁰ Mereka bersikap keras kepada orang-orang kafir sebagaimana sikap singa terhadap mangsanya.
⁰ Mereka berjuang (berjihad) di jalan Allah ta’ala untuk meninggikan kalimat-Nya (agama-Nya).
⁰ Mereka tidak takut terhadap celaan orang lain.

Cinta Allah kepada hamba-Nya lebih besar daripada cinta ibu kepada anaknya. Maka jangan ragukan lagi bahwa Allah Dzat yang paling penyayang.
Imam Ibnu Katsir رحمه الله tatkala menafsirkan surat Al-Ahzab : 43,

وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
“Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman”.

Beliau berkata,

عَنْ أَنَسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِهِ وَصَبِيٍّ فِي الطَّرِيقِ، فَلَمَّا رَأَتْ أُمُّهُ الْقَوْمَ خَشِيَتْ عَلَى وَلَدِهَا أَنْ يُوطَأَ، فَأَقْبَلَتْ تَسْعَى وَتَقُولُ: ابْنَيِ ابْنِي، وَسَعَت فَأَخَذَتْهُ، فَقَالَ الْقَوْمُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا كَانَتْ هَذِهِ لِتُلْقِيَ ابْنَهَا فِي النَّارِ. قَالَ: فَخَفَّضهم رسول الله صلى الله عليه وسلم وقال: “وَلَا اللَّهُ ، لَا يُلْقِي حَبِيبَهُ فِي النَّارِ”.
Dari Anas رضي الله عنه yang mengatakan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersama sejumlah sahabatnya bersua dengan seorang anak kecil di tengah jalan. Ketika ibu si anak kecil itu melihat adanya sejumlah orang dewasa yang akan melewati jalan tersebut, maka timbullah rasa khawatirnya akan keselamatan anaknya; ia khawatir anaknya akan terinjak. Lalu si ibu segera berlari memburu anaknya seraya berkata, “Hai anakku, hai anakku,” lalu ia menggendong anaknya ke pinggir jalan.
Maka para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, wanita itu tidak akan mencampakkan anaknya ke dalam api.”
Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Rasulullah menenangkan mereka supaya berjalan agak pelan dan bersabda: Benar tidak, dan Allah tidak akan melemparkan kekasih-Nya ke dalam neraka.(HR Ahmad)
(Tafsir Al-Qur’an Al-Adhim, Imam Ibnu Katsir)

Namun, kecintaan Allah kepada hamba-nya akan ada konsekuensinya, yaitu datangnya ujian kepada mereka. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
“Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah.” (HR. At-Tirmidzi: 2396, Ibnu Majah: 4031, dihasankan Al-Albany)

Hadits diatas menjadi kabar gembira bagi setiap hamba-Nya yang sedang mendapatkan ujian dari Allah. Apabila dia diuji dengan musibah maka hendaklah dia tidak berprasangka bahwa Allah murka kepadanya, bahkan terkadang musibah tersebut menjadi tanda kecintaan Allah kepadanya. Allah mengujinya dengan berbagai macam musibah; apabila ia rida, bersabar dan mengharap pahala maka Allah rida kepadanya, namun jika ia tidak rida maka Allah akan murka kepadanya. (Syarh Riyadhis Shalihin: 1/259, Syaikh Ibnu Utsaimin)

قال فضيل بن عياض رحمه الله:
إن الله إذا أحب عبدا أكثر غمه،
وإذا أبغض عبدا وسع عليه في دنياه.

📚سير أعلام النبلاء : ١/٤٣٣.

Berkata Imam Fudhoil bin ‘Iyadh رحمه الله berkata :
“Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba niscaya Allah akan memberikan banyak kesusahan namun apabila Allah membenci kepada seorang hamba niscaya Allah akan meluaskan dunianya kepadanya”

📚Siyar a’lam am nubala 1/ 433.

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.