Tiga Orang Terjebak di Gua

Kisah ini dibawakan oleh Al Imam An Nawawi رحمه الله di dalam Riyadhush Shalihin, hadits terakhir pada bab pertama, yaitu Bab Ikhlas.

Faedah yang akan disampaikan di sini, berasal dari syarah yang dibawakan oleh Syaikh Al Utsaimin رحمه الله dan juga kajian rutin yang dibawakan oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri حفظه الله.

Silahkan untuk langsung merujuk ke kitab asalnya, yaitu Riyadhush Shalihin, jika ingin membaca detil kisahnya secara lengkap.

Secara singkat kisah ini menceritakan kejadian yang menimpa tiga orang di masa dahulu, sebelum masa Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم. Mereka bertiga terjebak dalam gua, terjebak dengan sebab adanya batu yang menutupi pintu gua. Mereka tidak mampu menggeser batu tersebut. Kemudian satu per satu mereka meminta kepada Allah dengan menyebutkan amal shalih yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Dengan perantara amal shalih tersebut, Allah menyelamatkan mereka dari kondisi genting yang mereka alami tadi.

Kisah yang diceritakan oleh Nabi صلى الله عليه و سلم pasti adalah kisah nyata. Dan yang lebih jelas lagi, pasti mengandung banyak pelajaran di dalamnya. Meskipun kisah tersebut singkat, namun para ulama dengan ilmunya yang dalam, mampu memberikan penjelasan atas kisah tersebut, serta mengambil banyak pelajaran di dalamnya.

Mari kita simak sedikit dari penjelasan mereka, para ulama kita.

Kejadian yang menimpa mereka cukup mencemaskan. Kondisi genting mengancam mereka. Bagaimana tidak, sebuah batu besar tiba-tiba menutup pintu gua tempat mereka berteduh. Tentu menutupnya bukan sekedar menutup, tetapi benar-benar menghalangi mereka untuk keluar dari gua tersebut. Jika kita bayangkan, mungkin kondisinya adalah gelap, pengap, sesak nafas, dan berbagai kondisi yang tidak nyaman bersama gelap dan keheningan.

Kondisi tersebut perlu kita jadikan perbandingan dengan kondisi-kondisi yang sering menimpa diri kita. Berupa ketakutan, kecemasan, rasa panik, dan hal-hal yang membuat jantung ini berdegup kencang, atau pikiran yang kacau dikarenakan kejadian-kejadian yang merupakan takdir dari Allah yang menghampiri kehidupan kita.

Dan setelah kita sadari bahwa kita pun berpotensi mengalami kejadian yang serupa, tentu kita ingin mendapatkan jalan keluar dari ketakutan, kecemasan, kepanikan dan segala bentuk ketidaknyamanan tersebut.

Apa jalan keluarnya? Diantaranya adalah upaya yang dilakukan oleh ketiga orang tadi. Mereka berhasil lepas dari kegelapan dan kondisi yang bisa jadi mengancam jiwa mereka dengan perantara kebaikan yang mereka lakukan.

Mereka bertiga sepakat untuk meminta keselamatan kepada Allah dengan menyebutkan amal kebaikan mereka.

Orang pertama menyebutkan baktinya yang besar kepada kedua orang tuanya.
Orang kedua menyebutkan upayanya yang berat untuk menjaga kehormatan.

Orang ketiga menyebutkan sifat amanahnya dan kehati-hatian dirinya dari mengambil hak orang lain.

Sebelum kita simak lebih detail dari kebaikan-kebaikan yang mereka telah lakukan tersebut, kita akan sebutkan ucapan yang mereka lantunkan dalam permohonan mereka setelah mereka menyebutkan kebaikan-kebaikan tersebut.

Apa ucapan tersebut?

Mereka mengatakan: Ya Allah, jika perbuatanku yang telah aku lakukan tersebut adalah perbuatan yang mengharapkan wajahMu, maka selamatkan kami dari kondisi yang menimpa kami ini.

Mereka semua mengatakan itu.
Dan batu besar itu bergeser sedikit demi sedikit, sampai orang ketiga menyebutkan amal shalihnya, dan akhirnya pergeseran batu tersebut dapat menjadikan mereka keluar dari gua yang gelap dan pengap tadi.

Syaikh Al ‘Utsaimin menjelaskan faedah tersebut, bahwa keikhlasan merupakan sebab keselamatan dari segala marabahaya.

Dan keikhlasan adalah faktor terbesar penyebab diterimanya amal. Maka Allah menerima amal shalih mereka bertiga dengan sebab keikhlasan yang mereka lakukan dalam amal tersebut.

Bagaimana menjadikan diri kita ikhlas dalam beribadah?
Pertanyaan ini dapat kita temukan jawabannya, diantaranya dengan mengikuti penjelasan yang dibawakan oleh Al Imam An Nawawi رحمه الله dalam bab pertamanya ini.

Mari kita simak detail kisah pada tulisan berikutnya, insyaAllah.

Kontributor: Anshori, Ilustrator: Abu Hanif, Muraja’ah: Ustadz Abu Hammam Kiryani, Lc.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.