Berbakti + Ikhlas = Selamat

Inilah kisah dari orang pertama yang memanjatkan doanya kepada Allah.
Ingat, kapan dia memanjatkan permohonan tersebut? Di saat kondisi mencekam, dalam kegelapan, kepengapan, dan segudang kecemasan lainnya.

Kita perlu mengingat kondisi ini, karena di awal kisah, setelah batu itu menutup pintu gua, dan kondisi mencekam terjadi, mereka berkata: sungguh, tidak ada yang dapat menyelamatkan kita dari batu besar yang menutupi gua ini, kecuali kalian meminta kepada Allah dengan menyebutkan amal-amal shalih kalian.

Dari sini kita mengetahui, bolehnya menyebutkan amalan shalih, jika diperlukan. Khususnya sebagai perantara do’a kepada Allah, Rabbul Alamin.

Orang pertama tersebut mulai berkisah… 

Jangan lupakan juga, bahwa ini kisah nyata. Sebuah kisah yang benar-benar pernah terjadi di muka bumi ini. Karena Nabi صلى الله عليه و سلم yang menceritakannya, dan beliau tidaklah berkata kecuali wahyu yang diwahyukan kepadanya.

Orang pertama tadi memiliki ayah ibu, yang keduanya sudah berada dalam kondisi sepuh sekali. Dia selalu mendahulukan ayah ibunya dibandingkan yang lain, khususnya dalam hal pemberian makan dan minum.

Tidak pernah dia dahulukan pihak lain, baik itu anak, istri, atau siapapun ketika dia memberikan makan dan minum. Selalu dia dahulukan kedua orang tuanya yang sudah dalam usia lanjut tadi.

Orang tersebut bercerita, bahwa dia memiliki kambing, yang dia gembalakan, kemudian dia pulang di sore hari dengan membawa susu kambing untuk diberikan kepada kedua orang tuanya terlebih dulu, sebelum keluarga dan yang lainnya.

Suatu hari dia pulang terlambat, dikarenakan hari itu dia mencari kayu di tempat yang cukup jauh dari rumahnya. Saat dia sampai di rumah, ternyata kedua orang tuanya telah tertidur.
Dia pun berpikir, apakah dia akan berikan susu yang dibawanya itu untuk keluarganya terlebih dulu sebelum kedua orang tuanya, atau… menunggu kedua orangtuanya terbangun terlebih dulu.

Dia memilih pilihan kedua. Dia tunggu kedua orangtuanya bangun sambil memegang tempat susu dengan tangannya. Diapun tidak mau membangunkan keduanya, agar tidak mengganggu tidur keduanya.

Dan ternyata penantiannya tersebut bukanlah perkara yang mudah dan cepat. Berapa lama dia menanti?

Setengah jam? Satu jam? Dua jam?

Dia menunggu kedua orangtuanya bangun, sampai terbit fajar!

Subhanallah!

Semalaman suntuk dia tidak tidur, menunggu ayah ibunya bangun. 

Semalaman suntuk dia tidak tidur, memegang tempat susu, dengan harapan tidak terlambat memberikan susu untuk ayah ibunya jika mereka bangun dari tidurnya.

Dan anak-anaknya, merengek, memegang kakinya, meminta susu tersebut. Tapi dia tetap tidak memberikannya, dia tunggu ayah dan ibunya bangun.

Dan setelah terbit fajar itulah, kedua orangtuanya bangun.
Maka mereka berdua bangun dan meminum susu yang telah disiapkan anaknya tadi.
Setelah itu barulah keluarga dan yang lainnya minum.

MasyaAllah, menakjubkan!

Setelah menyebutkan cerita amal shalihnya tadi, diapun berucap dengan ucapan yang telah kita sebutkan sebelumnya, yang menunjukkan bahwa amal yang luar biasa tersebut menjadi bertambah luar biasa disebabkan keikhlasannya dalam beramal. Keikhlasannya dalam berbakti kepada kedua orang tua.

Birrul walidain; berbakti kepada kedua orang tua adalah amalan besar.

Dan keikhlasan itu juga amalan besar, bahkan di situlah letak kunci diterimanya ibadah.

Maka ketika kedua hal ini bergabung, melahirkan kebaikan yang besar.

Ya Allah, jika perbuatanku yang telah aku lakukan tersebut adalah perbuatan yang mengharapkan wajahMu, maka selamatkan kami dari kondisi yang menimpa kami ini.

Batu besar itupun bergeser, namun pergeserannya tidak cukup menjadikan mereka bertiga dapat keluar dari kondisi genting tersebut, mereka masih tersekap di dalam gua!

Maka orang kedua pun melanjutkan kisahnya…

muraja’ah: ustadz abu hammam kiryani, lc
kontributor: anshori
ilustrator: abu hanif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.