🔵Menjaga Fitrah Anak Dengan Tauhid

🔵Menjaga Fitrah Anak Dengan Tauhid

✍Allah menjadikan doa utama ibadurrohaman untuk keluarganya sebagai ciri keutamaan mereka.

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Dan (ibadurrohaman itu) adalah orang-orang yang berdoa:
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”(Al-Furqon: 78)

Anak adalah amanah dari Allah yang harus kita jaga. Anak kita adalah harapan kita. Ketika kita mati akan terputus semua amal kita kecuali 3 hal, diantaranya adalah anak solih. Jika kita ingin mendapatkan kebaikannya kita harus menjaga dan mentarbiyahnya dengan sebaik-sebaiknya.
Sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :
كل مولود يولد على الفطرة فأبواه أن يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه. متفق عليه.
“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitroh, maka kedua orang tua nyalah yang menjadikanny jadi yahudi atau nasrani atau majusi”. Muttafaq alaihi.

Orang tua adalah yang awal menentukan kepribadian anak. Anak yang baik diawali dari orang tua yang baik. Sebaliknya kenakalan anak juga bersumber dari orang tuanya. Hendaklah orang tua itu memperbaiki dirinya lebih dahulu jika menginginkan kebaikan anaknya.

Dan menjaga fitrah anak yang pertama adalah aqidahnya.
Sebagaimana Lukman Al-Hakim menjaga fitrah anaknya dengan ditanamkan ketauhidan.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِالَّهِ ۖإِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.(Lukman: 13)

Ada kisah menarik dimasa Amirul Mukminin Umar bin Khaththab kehadiran seorang tamu lelaki yang mengadukan kenakalan anaknya, ‘Anakku ini sangat bandel. “tuturnya kesal.
Mendengar pengaduan itu Amirul Mukminin lantas memanggil anak itu dan berkata,” Hai Fulan, apakah kamu tidak takut kepada Allah karena berani melawan ayahmu dan tidak memenuhi hak ayahmu? ”
Anak ini menyela,” Wahai Amirul Mukminin, apakah orang tua tidak punya kewajiban memenuhi hak anak? ”
Umar bin Khaththab menjawab,” Ada tiga, yakni: pertama, memilihkan ibu yang baik, jangan sampai kelak terhina akibat ibunya. Kedua, memilihkan nama yang baik. Ketiga, mendidik mereka dengan Al-Qur’an. ”
Mendengar uraian dari Khalifah Umar anak tersebut menjawab,” Demi Allah, ayahku tidak memilihkan ibu yang baik bagiku, ibuku seorang majusi hamba hitam yg jelek, akupun diberi nama ju’al “kepik hitam”, sedang dia juga mengabaikan pendidikan Islam padaku. Bahkan walau satu ayat Al-Qur’an pun aku tidak pernah diajari olehnya. ”
Lalu Umar menoleh kepada ayahnya seraya berkata ,” Kau telah berbuat durhaka kepada anakmu, sebelum ia durhaka kepadamu… “(tanbihul ghofilin, As-Samarqondy)

Jika anak kita tumbuh menjadi pribadi yang rusak boleh jadi salah satu sebabnya adalah kesalahan kita selaku orangtuanya, sebab orangtua adalah sosok yang seharusnya paling dekat & berpengaruh kepadanya. Jika ada anak yang mencuri tentu ditanya terlebih dahulu siapa orangtuanya. Sebaliknya jika ada anak yang solih juga akan ditanya siapa orangtuany.

Inilah benteng yang sering dilupakan para orangtua, atau mungkin juga tidak dilupakan tapi tidak ditegakkan, yaitu benteng keimanan. Benteng paling kuat untuk menahan godaan di dunia juga siksa di akhirat.

Anak bisa menjadi musuh orang tuanya jika anak tidak dididik dengan benar. Sebagaimana peringatan Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚوَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ الَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(At-Taghabun: 14)

Padahal Allah juga telah mengingatkan,

يا أيها الذين آمنوا قوا أنفسكم وأهلبكم نارا
” Wahai orang-orang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari siksa neraka. “(QS. At-Tahrim : 6)

Menjaga keluarga, terutama anak adalah dengan mengajari mereka Islam dan adab-adabnya. Terutama mengenalkan ma’rifatullah, ma’rifatur Rasul dan ma’rifatu dinil Islam.
Sebagaimana yang dilakukan Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada keponakannya Abdulloh bin Abbas walau masih diusia belianya sudah dikenalkan dengan Tauhid dalam hal takdir.
Dari Abdullah bin Abbas berkata,

كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ.
“Aku pernah berada di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pada suatu hari, beliau bersabda: “Hai ‘nak, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat; jagalah Allah niscaya Ia menjagamu, jagalah Allah niscaya kau menemui-Nya dihadapanmu, bila kau meminta, mintalah pada Allah dan bila kau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah, (HR. Tirmidzi: 2440 dishohihkan Al-Albany)
Wallahu a’lam

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

✏📚✒.📚..🌹

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.