KEGELAPAN YANG MENJADI CAHAYA

KEGELAPAN YANG MENJADI CAHAYA

Sebaik-baik manusia itu kata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah seorang hamba yang paling banyak memberikan manfaat untuk orang lain. Khairunnaas, an fa’uhum linnaas.. Sebagai seorang hamba yang kecil, memberikan manfaat kepada dan untuk orang lain itu bukan soal mampu ngga mampu atau punya atau ngga punya. Bukan soal miskin atau kaya. Karena setiap hamba diberikan kesempatan yang sama oleh Rabbnya untuk berbuat baik sebanyak-banyaknya. Kalau kejelekan itu milyaran jumlahnya, maka jumlah kebaikan adalah trilyunan. Tidak ada alasan untuk berdiam diri menunggu kesempatan berbuat baik itu datang di hadapan kita. Bahkan yang sesungguhnya terjadi adalah betapa banyaknya tawaran kebaikan tapi lewat begitu saja di depan kita. Seakan kita tak sempat meraihnya.

Menolong orang berbuat baik, sama dengan berbuat kebaikan itu sendiri.

Soal kebaikan itu bertingkat-tingkat, kita sudah mafhum. Yang tertinggi adalah kalimat Laa ilaaha illa Allah, yang terendah adalah menyingkirkan gangguan di tengah jalan. Ini artinya tidak lain dan tidak bukan adalah ILMU. Ilmu itu adalah firman-firman Allah, ianya ada di dalam Al Quran. Ilmu juga perkataan nabi shallallahu alaihi wa sallam yang terangkum dalam kitab-kitab hadits. Jangan lupa, perkataan dan bimbingan para sahabat nabi shallallahu alaihi wa sallam yang dahulu mendampingi beliau semasa hidup dalam suka dan duka juga merupakan ilmu.

Keutamaan ilmu itu sangatlah tinggi dibandingkan dengan harta benda dunia seisinya. Tapi tak banyak manusia mau mengerti. Bahkan para ulama mengisyaratkan, bahwa sesungguhnya kebutuhan manusia akan ilmu itu jauh lebih penting daripada butuhnya manusia terhadap makanan. Ilmu menjadi asupan ruh, membimbing jiwa ke arah kebaikan. Menunjukkan manusia jalan ke taman surga. Sedangkan makanan cuma sekedar menjadi pengganjal perut yang keesokan harinya berubah warna menjadi sangat menjijikkan. Tapi kebanyakan manusia tidak menyadarinya. Sebagian mereka menghabiskan waktunya untuk mengumpulkan harta dan kurang peduli dengan makanan ruhnya.

Maka jika ada sekelompok manusia, yang berupaya mengkreasi taman-taman surga di dunia sebelum berlari-lari berkejar-kejaran dengan kekasihnya sambil tertawa bahagia di taman surga akherat.. Patutlah mereka kita beri dukungan dan bantuan.

KAJIAN KADANG TEMANGGUNG itu sekedar komunitas kecil. Berisi beberapa pemuda yang mempunyai tanggungan keluarga dan hidup bahagia bersama mereka. Sama seperti kita. Namun mereka meluangkan waktunya – sedikit waktunya untuk memaksa jiwa dan egonya membentuk pengajian-pengajian kecil di lebih 25 masjid di pelosok-pelosok desa di wilayah Kabupaten Temanggung. Sebuah kota dengan semilyar kenangan bagi siapa saja yang pernah menjejakkan kakinya di Bumi Phala itu. 25 masjid itu akan terus bertambah insyaa Allah, dengan atau tanpa peran kita.

Saya sebagai penonton anak-anak muda itu cuma bisa turut berdoa, mudah-mudahan bagi mereka kesabaran dan surga itu sendiri. Iya, sesekali merogoh dompet saya yang isinya tak seberapa..

Kemarin malam, dikirimi seorang sahabat yang ikut serta hadir di salah satu kajian. Lampu mati kajian tetep jalan, jamaah tetap semangat. Dan itu, membikin terharu. Bahwa perjuangan, sekecil apapun bentuknya tetaplah perjuangan. Tetaplah perjuangan menolong agama Allah.. Tetaplah penolong-Nya juga akan mendapatkan pertolongan balasan dari Allah sekaligus kekokohan hidup di dunia sampai akherat. Dan satu hal, bahwa kegelapan yang ada saat itu adalah cahaya di masa mendatang. Yang kelak akan menjadi penerang bagi orang-orang yang berjuang.

Sahabat, tolonglah agama Allah, niscaya Allah akan tolong balik kalian dan kokohkan kedudukan kalian. Selamat berbahagia menuju surga bersama keluarga.

Magelang, 26 Agustus 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.