FAWAID NASEHAT DARI ULAMA

بسم الله الرحمن الرحيم

FAWAID NASEHAT DARI ULAMA

لقاء مفتوح أول مع الشيخ سليمان الرحيلي حفظه الله تعالى.

Syaikh Sulaimin bin Salimullah ar-Ruhaili hafizhahullah mengatakan di awal pertemuan soal jawab selepas makan malam di Daurah Syar’iyyah ke 19 di kota Batu Malang 20 Syawal 1439 H/03 Juni 2018

Syaikh Sulaiman bin Salimullah ar Ruhaili hafizhahullah memberikan nasehat:

– إذا دخلتم القاعة فكونوا كالمعتكفين فاقطعوا العلائق عن خلائق فلا تشتغلوا بالواتساب
Jika kalian telah memasuki ruangan (tempat belajar) maka jadilah seperti orang-orang yang duduk I’tikaf dan putuskanlah segala urusan yang berkaitan dengan orang lain dan jangan menyibukkan diri dengan Whatsapp.
Whatsapp itu ada kegunaannya namun lebih banyak mudhorotnya karena telah membunuh waktu yang bermanfaat buat kita. Bangun tidur bukannya membaca doa tidur namun langsung lihat status di whatsapp.

– إن الله تعالى يحب ويحب، وحبنا له سبحانه وتعالى فرض وحق، وحب الله تعالى لنا فضل وشرف. ويكتسب العبد حب الله تعالى باتباع النبي صلى الله عليه وسلم، وبالإخلاص.

Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai dan mencintai, dan cinta kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah suatu kewajiban dan kebenaran. Dan Cinta Allah kepada kita adalah diberikannya keutamaan dan kemuliaan. Seorang hamba akan mendapatkan kecintaan Allah manakala dia mengikuti ajaran Nabi ﷺ dengan keikhlasan.
Allah berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imron: 31)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ- رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ : »
إنَّ الله تَعالَى قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيّاً فَقَدْ آذنتُهُ بالحربِ وما تَقَرَّب إليَّ عَبْدِي بشيءٍ أحَبَّ إليَّ مِمَّا افترضتُ عَليهِ ولا يَزالُ عَبْدِي يَتَقرَّبُ إليَّ بالنَّوافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ فإذا أَحْبَبْتُهُ كُنتُ سَمعَهُ الّذي يَسمَعُ بهِ وبَصَرَهُ الّذي يُبْصِرُ بهِ ويَدَهُ الَّتي يَبطُشُ بها ورِجْلَهُ الّتي يَمشي بِها ولَئِنْ سأَلنِي لأُعطِيَنَّهُ ولَئِنْ استَعاذَنِي لأُعِيذَنَّهُ « رواه البخاري

“Dari Abu Hurairah radhiallaahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘ Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: ‘barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka sungguh! Aku telah mengumumkan perang terhadapnya. Dan tidaklah seorang hamba bertaqarrub (mendekatkan diri dengan beribadah) kepada-Ku dengan sesuatu, yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Ku-wajibkan kepadanya, dan senantiasalah hamba-Ku (konsisten) bertaqarrub kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya; bila Aku telah mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang digunakannya untuk mendengar, dan penglihatannya yang digunakannya untuk melihat dan tangannya yang digunakannya untuk memukul dan kakinya yang digunakannya untuk berjalan; jika dia meminta kepada-Ku niscaya Aku akan memberikannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya Aku akan melindunginya”. (HR.al-Bukhari no. 6137)

ولا يَزالُ عَبْدِي يَتَقرَّبُ إليَّ بالنَّوافِلِ

senantiasalah hamba-Ku (konsisten) bertaqarrub kepada-Ku dengan amalan Sunnah
ini adalah ikhlas.
حتَّى أُحِبَّهُ
hingga Aku mencintainya;

وهذا إخلاص بعد أن أقام الفرائض مخلصا متبعا ثم الاجتهاد في النوافل مخلصا متبعا فنال منزلة عالية وشرفا عظيما
Dan ini adalah bentuk ikhlas setelah bersungguh-sungguh dalam menjalankan kewajiban dengan ikhlas dan mengikuti Sunnah kemudian bersungguh-sungguh dalam mengerjakan amalan Sunnah ikhlas dan mengikuti Sunnah Nabi ﷺ maka seseorang itu akan mendapatkan kedudukan yang tinggi dan kemuliaan yang besar.

– والمعلوم عند المحققين أن أعلى النوافل طلب العلم، وهو موصل إلى محبة الله تعالى بشروط ثلاثة:

Sebagaimana yang diketahui menurut para ahli tahqiq bahwa tingkatan tertinggi dari berbagai amalan Sunnah adalah menuntut ilmu, dan dengan ilmu itu dapat menghantarkan kepada kecintaan Allah dengan syaratnya ada 3:

١. أن تكون مادة العلم صحيحة ولن تكون صحيحة إلا إذا كانت من الكتاب والسنة أو خادمة للكتاب والسنة أو من العلوم الدنيوية النافعة، وما سوى ذلك فليس بنافع ولا رافع.

1⃣. Materi yang dipelajari adalah ilmu yang shohih, dan tidak akan mungkin mendapatkan ilmu yang shohih kecuali berdasarkan Al-Quran dan as-Sunnah ataupun apa saja yang memudahkan untuk mempelajari Al-Quran dan As-Sunnah ataupun boleh dari perkara ilmu dunia yang bermanfaat. Dan apa saja selain itu maka tidaklah bermanfaat dan tidak pula memberikan ketinggian derajat.

Tidak setiap apa yang dipelajari manusia itu adalah ilmu yang bermanfaat, namun ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang didasari dengan al-Quran dan as-Sunnah

٢. الإخلاص لله، يبتغي بذلك وجه الله تعالى. والانحراف عن هذا مبعد له عن الجنة، الذي يتعلم العلم لاغرض له سوى الدنيا لم يجد عرف الجنة.

2⃣ Ikhlas karena Allah, semata-mata dalam rangka mencari wajah Allah Ta’ala, dan menyimpang dari keikhlasan akan menjauhkan diri dari surga. Orang yang menuntut ilmu semata-mata karena tujuan duniawi maka dia tidak akan mendapatkan surga.

وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ اْلقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ

Dan orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau.’ Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca al Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. (HR. Muslim no. 1905)

وعالم بعلمه لم يعملن … معذَّبٌ من قبل عُبَّادِ الوثن
وكل من بغير علم يعملُ … أعماله مردودة لا تقبلُ
Dan seseorang yang berilmu tapi tidak mengamalkan ilmunya ## ia akan diadzab sebelum para penyembah berhala diadzab
Dan setiap orang yang melakukan amalan ibadah maka amalan ibadahnya ditolak alias tidak diterima

Betul niat itu naik turun butuh untuk diluruskan lagi. Seharusnya menuntut ilmu itu hanya karena Allah

٣. العمل بالعلم ولا سيما فيما يتعلق بفعل الواجبات وترك المحرمات، ومن أخطر ما يكون به العبد أن يتعلم العلم ولكن لا يعمله
3⃣ Beramal dengan ilmu yang telah dipelajarinya, terlebih lagi apa yang berkaitan dengan amalan wajib dan meninggalkan apa saja yang diharamkan, dan yang paling berbahaya adalah seorang yang menuntut ilmu namun tidak mengamalkannya.

Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) bersabda:

«ليلة أسري بي رأيت قوما تقرض ألسنتهم بمقاريض من نار – أو قال: من حديد – قلت: من هؤلاء يا جبريل؟ قال: خطباء من أمتك». يقولونَ ما لا يَفْعَلونَ

“Ketika aku di-isra (dinaikan ke langit) aku melihat suatu kaum di parut lidah-lidah mereka dengan parutan dari api –atau dia berkata-: “Parutan dari besi” Maka aku bertanya: “Siapa mereka wahai Jibril?” Jibril menjawab: Para khotib dari umatmu”. Mereka berkata dan tidak mengamalkannya. (HR. Ahmad no. 13515 Shohih at-Targhib wa Tarhiib no. 2327)

▪Wahai penuntut ilmu, engkau berada di jalan untuk mendapatkan surga
▪Wahai penuntut ilmu, engkau berada di jalan untuk mendapatkan ridho-Nya
Maka perbaikilah kendaraan Dan luruskanlah niat itu dengan ilmu dan amal.

Semoga bermanfaat
🍫Zaki Abu Kayyisa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.