STUDI KRITIS BUKU PELATIHAN SHALAT KHUSYU’

STUDI KRITIS BUKU PELATIHAN SHALAT KHUSYU’
Disusun oleh : Abu Ahmad Arif Fathul Ulum

Telah sampai kepada kami sebuah buku yang berjudul Pelatihan Shalat Khusyu’, Shalat sebagai meditasi tertinggi di dalam Islam.
Di dalam pengantar buku ini dikatakan bahwa penulis hendak memberikan teknik pelatihan sholat khusyu’ , baik secara psikologis maupun fisiologis, yaitu berkaitan dengan mental dan sikap yang tepat dengan menggunakan metoda-metoda yang diajarkan Nabi dan diterapkan beliau semasa hidupnya.
Hanya saja setelah kami telaah buku ini dari awal hingga akhir ternyata dia tidak memakai metoda-metoda Nabi akan tetapi memakai ” metode pribadinya “.
Karena itulah Insya Alloh dalam pembahasan kali ini kami berusaha melakukan telaah kritis terhadap buku ini sebagai nasehat kepada kaum muslimin secara umum dan para pembaca buku ini secara khusus.

PENULIS DAN PENERBIT BUKU INI

Buku ini ditulis oleh Abu Sangkan, lahir pada tanggal 8 Mei 1965 di desa Alasbuluh pinggiran pantai selat Bali Banyuwangi Jawa Timur. Sejak awal Abu Sangkan sudah tertarik dengan ilmu hakikat marifat, inilah yang mendorong dia untuk belajar dan memperdalam ilmu Tasawuf dan ilmu Filsafat, karena memang hanya di sanalah dipelajarinya ilmu hakikat dan marifat. Maka mulailah Abu Sangkan melanglang berguru mencari ilmu hakikat marifat. Tercatat di antara guru tasawuf yang paling dia kagumi adalah Bapak Haji Slamet Oetomo, dia juga belajar di pesantren al-Ihya di Bogor, di pesantren al-Ghozali Bogor pimpinan KH. Abdulloh bin Nuh, dan di pesantren al-Baqiyatush Sholihat Bekasi pimpinan KH. Yusuf Kamil dan ilmu filsafatnya belajar di IAIN Syarif Hidayatulloh Jakarta ( Lihat Buku Pelatihan Shalat Khusyu’ hal. 131-133 di bawah judul : Tentang Penulis ).
Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Baitul Ihsan Jakarta, cetakan kelima, Mei 2005.

KERANCUAN DAN KEDUSTAAN PENULIS

1. Penulis berkata di dalam hal. 16 dari bukunya ini : Rasulullah SAW sendiri bersabda dalam sebuah haditsnya, bahwa shalat itu adalah mi’raj-nya orang-orang mukmin .
Kami katakan : Demikianlah penulis menyebutkan bahwa itu adalah hadits padahal bukan hadits, dan tidak ada di dalam satu pun dari kitab-kitab hadits, yang benar dia adalah perkataan As-Suyuthi di dalam Syarah Sunan Ibnu Majah 1/313 terbitan Qadimi Kutub Khanah Karachi yang mengatakan : صلاة هي معراج المؤمن : ” Sholat adalah mi’raj orang-orang yang beriman “. kemudian perkataan ini dinukil oleh Al-Manawi di dalam Faidhul Qadir 1/497 – terbitan Darul Fikr cetakan kedua 1391 H -.
2. Penulis di dalam hal. 21 membawakan hadits :
يأتي على الناس زمان يصلون و لا يصلون ( رواه أحمد )
“ Akan datang satu masa atas manusia, mereka melakukan shalat namun pada hakikatnya mereka tidak shalat “.
Kami katakan : Demikianlah penulis menyatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, padahal dia tidak ada di dalam Musnad Ahmad dan tidak ada di dalam kitab-kitab hadits.
3. Penulis berkata di dalam hal. 41 menyebutkan hadits :
كم من قائم حظه من صلاته التعب و النصب ( رواه أبو داود )
“ Berapa banyak orang yang shalat namun hanya mendapatkan rasa capek dan lelah .
Kami katakan : Demikianlah penulis menyebutkan bahwa hadits dengan lafadz ini diriwayatkan oleh Abu Dawud padahal tidak ada di dalam Sunan Abu Dawud dan tidak ada di dalam satu pun dari kitab-kitab hadits.

TAHRIF-TAHRIF PENULIS

1. Penulis berkata di dalam hal. 15-16 : ” Ruh ini dituntun kembali untuk memperoleh pencerahan melalui cara yang diajarakan oleh penciptanya sebagaimana tercantum di dalam Al Qur’an surat Al-An’am. 6 : 79 : Inni Wajjahtu wajhiya lilladzi fatharassamawati wal ardh hanifan, wama ana minal musyrikin : Aku hadapkan wajahku kepada wajah Zat Yang menciptakan langit dan bumi selurus-lurusnya dan ruhku tidak terhambat oleh benda-benda ( syirk ) “.
Kami katakan : Penulis telah melakukan tahrif ( penyelewengan ) terhadap makna ayat di atas, pertama : dia menambahkan kata ” Zat ” yang tidak ada dalam ayat, kedua : dia mengartikan ( و ما أنا من المشركين ) : ” Tidaklah aku termasuk orang-orang yang musyrik ” dengan : ” Ruhku tidak terhambat oleh benda-benda ( syirk ) “.
2. Penulis berkata di dalam hal. 83 : ” La Ilaha Illallah menunjukkan, bahwa tiada yang tinggi kecuali Yang tertinggi “.
Kami katakan : Ini adalah tahrif terhadap makna kalimat tauhid, karena yang benar maknanya adalah tiada Ilah ( sesembahan ) yang haq disembah kecuali Alloh.sebagaimana Alloh berfirman :

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ

“ yang demikian itu, adalah Karena Sesungguhnya Alloh, dialah (Tuhan) yang Haq dan Sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, Itulah yang batil, ( Al-Hajj : 62 ).

TAFSIR AKAL PENULIS

1. Penulis berkata di dalam hal. 16 : ” Sebuah cara yang sederhana untuk menempatkan ruhani kembali pada hakikatnya yang sejati. Ruh ingin lepas bebas di saat terjadi musibah atau persoalan yang sulit untuk dipecahkan, lalu ia berkata ” Sesungguhnya aku berasal dari Allah dan kepadaNya aku kembali “. Idza Ashabathum mushibah qaalu inna lillahi wa inna ilaihi raji’un ( Al Qur’an surat Al-Baqarah 2 : 156 ) “.
Kami katakan : Demikianlah penulis dengan akalnya menafsirkan ayat di atas bahwa maksudanya ruh ingin lepas bebas saat terjadi musibah, maka penulis telah terjatuh ke dalam kesalahan yang fatal di dalam metode penafsiran ayat-ayat Al-Quran, karena merupakan hal yang dimaklumi oleh setiap orang yang memiliki perhatian terhadap ilmu tafsir bahwa metode terbaik dalam menafsirkan AlQuran adalah Al-Quran ditafsirkan dengan Al-Quran, karena yang global disuatu ayat diperinci di ayat lain, dan jika ada yang diringkas dalam suatu ayat maka dijabarkan di ayat yang lainnya. Jika hal itu menyulitkan maka wajib dicari didalam sunnah Rasululloh , karena sunnah adalah syarah bagi AlQur’an dan penjelas dalam AlQur’an. Dan jika kita tidak menjumpai Tafsir didalam Kitab dan Sunnah kita kembalikan hal itu kepada perkataan para shahabat karena mereka lebih tahu tentang hal itu ( Lihat Muqaddimah fi Ushuli Tafsir hal. 93 ), adapun tafsir dengan sekedar akal manusia maka hukumnya adalah haram sebagaimana dalam atsar yang shahih dari Ibnu Abbas :
من قال في القرآن برأيه أو بما لا يعلم فليتبوأ مقعده من النار
“ Barang siapa yang berkata tentang AlQuran dengan akalnya atau dengan tanpa ilmu maka hendaknya mengambil tempat duduknya di neraka ( Lihat Tafsir Ibnu Katsir 1/10 cet. Darul Fikr ).
Tentang ayat 156 dari surat Al-Baqarah yang disebutkan penulis di atas telah datang tafsirnya dari sahabat Ibnu Abbas sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir di dalam Tafsirnya 2/42 :

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ﴿١٥٦﴾أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ﴿١٥٧﴾

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” ( artinya: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali ). Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang Sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. ( Al-Baqarah : 156-157 )
قال : أخبر الله أن المؤمن إذا سلم الأمر إلى الله ورجع واسترجع عند المصيبة كتب له ثلاث خصال من الخير الصلاة من الله والرحمة وتحقيق سبيل الهدى
Ibnu Abbas berkata : ” Alloh mengkhabarkan bahwa seorang mukmin jika menyerahkan perkara kepada Alloh, kembali dan istirja’ di saat musibah maka Alloh menetapkan baginya tiga kebaikan : sholawat dari Alloh, rahmat, dan penetapan jalan petunjuk “.
2. Penulis berkata di dalam hal. 23-24 dari bukunya ini : ” Jika kita tidak memahami kesadaran akan diri kita dan kepadaNya ruh itu akan kembali, maka perjalanan ruhani kita berhenti atau terlena ke dalam ilusi pikiran. Akibatnya respon dari Alloh itu tidak ada. Padahal pertemuan dengan Alloh yang disebutkan di atas terjadi pada waktu sekarang atau sedang berlangsung. Ada sebagian orang menerjemahkan bahwa ” bertemu Allah ” hanya di akhirat kelak. Pendapat ini tidak sesuai dengan kata yang tercantum dalam ayat tersebut, sebab pada kalimat alladzina yadhunnuna annahum mulaaquu rabbihim wa annahum ilaihi raji’un adalah orang yang ( sedang ) meyakini atau menyadari bertemu dengan Tuhannya dan kepadaNya mereka kembali “.
Kami katakan : Ini adalah tafsir akal penulis, adapun tafsir yang ma’tsur tentang ayat ini adalah :
Al-Imam Ibnu Katsir berkata : ” Yaitu mereka mengetahui bahwa mereka akan dikumpulkan kepada Alloh pada hari kiyamat ” ( Tafsir Ibnu Katsir 1/113 terbitan Darul Fikr tahun 1412 H -.
Al-Imam Ibnu Jarir berkata : ” Yaitu yang yakin bertemu denganku dan kembali sesudah mereka mati ” ( Tafsir Ath-Thabari 1/263 terbitan Darul Fikr tahun 1405 H -.

HADITS-HADITS LEMAH DAN TIDAK ADA ASALNYA

1. Penulis berkata di dalam hal. 27 bahwa Rasulullah ( bersabda : Mengapa masih ada kaum yang dibacakan kitab Allah, lalu tidak mengerti ayat-ayat yang tertinggal tidak terbaca ? Karena demikian itulah maka keagungan Allah dikeluarkan dari hati kaum Bani Israil, badan wadagnya menyaksikan sedang hatinya kosong. Allah tidak akan menerima amal seorang hamba, sehinggah hati dan badan wadagnya bersama-sama menyaksikan ( hadir ) .
Kami katakan : Hadits ini tidak ada asalnya, tidak ada di dalam satu pun dari kitab-kitab hadits yang mu’tabar.
2. Penulis berkata di dalam hal. 63 membawakan hadits :
من ذكر الله عند الوضوء طهر جسده كله فإن لم يذكر اسم الله لم يطهر منه إلا ما أصاب الماء ( لعبد الرزاق في الجامع الصغير )
“ Barangsiapa mengingat Allah ( dzikrullah ) ketika waudhu’, niscaya disucikan oleh Allah tubuhnya secara keseluruhan. Dan barangsiap tiada mengingat Allah ( dzikrullah ) niscaya tiada disucikan oleh Allah dari tubuhnya selain yang kena air saja ( HR Abdurrazzaq Filjam Ishaghir ) “.
Kami katakan : Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Mushonnafnya 1/12 dari jalan Laits bin Abi Sulaim dari Husain bin Imarah dari Abu Bakr. Laits bin Abi Sulaim adalah lemah ( Lihat Tahdzibut Tahdzib 8/465-468 ), dia dikatakan oleh Adz-Dzahabi di dalam Al-Kasyif : Tidak pernah bertemu dengan seorang pun dari sahabat, sehingga haditsnya dari sahabat terputus. Husain bin Imarah dikatakan Majhul oleh Abu Zur’ah sebagaimana di dalam Al-Jarh wa Ta’dil 3/61.
Hadits ini dilemahkan oleh Abdul Haq Al-Isybilli dalam Tahqiq al-Ahkam hal. 249, Suyuthi dalam Jami’ Shaghir 6/128 dengan Al-Faidh -, dan Syaikh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ hal. 804.
3. Penulis berkata di dalam hal. 68 membawakan hadits :
أربع من سنن المرسلين الحياء والتعطر والسواك والنكاح ( رواه الترمذي و قال : حديث أبي أيوب حديث حسن غريب , باب ما جاء في فضل التزويج والحث عليه , رقم 1080)
“ Ada empat karakteristik yang berkaitan dengan amalan para Nabi ( Rasul ) : Malu, memakai wangi-wangian, memakai siwak, dan nikah ( HR Tirmidzi ) “.
Kami katakan : Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Jami’nya 3/391 dari jalan Hajjaj bin Abi Artho-ah dari Makhul dari Abu Syamal dari Abu Ayyub.
Hadits ini lemah karena Abu Syamal adalah majhul sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam Taqribut Tahdzib. Syaikh Al-Albani melemahkan hadits ini dalam Irwaul Ghalil hal. 116 dan Silsilah Dha’ifah 10/24.
4. Di dalam hal. 933 penulis berdalil dengan sebuah hadits yang berbunyi :
من عرف نفسه فقد عرف ربه
“ Barang siapa yang mengenal dirinya maka sungguh telah mengenal Tuhannya “
Kami katakan : Hadits ini tidak ada asalnya dan sebagian ulama seperti Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa hadits ini adalah palsu sebagaimana dinukil oleh Al-Qari di dalam kitab Maudhu’at hal. 83 ( Lihat Silsilah Dha’ifah : 66 ).

SHOLAT ADALAH KONSEP MEDITASI ?!

Penulis berkata di dalam hal. 15 : ” Jalan spiritual shalat merupakan sebuah konsep meditasi yang sesuai dengan fitrah manusia “.
Kami katakan : Demikianlah penulis menganggap sholat sebagai konsep meditasi, karena itulah agar khusyu’ di dalam ” meditasi sholat ” penulis banyak mencomot konsep-konsep meditasi orang-orang kafir seperti konsep psikologi transpersonal oleh Carl Gustav Jung ( disebut oleh penulis di dalam hal. 15 dari bukunya ini ), konsep meditasi Rosalind Widdowson ( disebut oleh penulis di dalam hal. 34 dari bukunya ini ), dan meditas tai chi dari Cina( disebut oleh penulis di dalam hal. 46 dari bukunya ini ).

KHUSYU’ DIDAPATKAN DENGAN ILHAM BUKAN DENGAN SYARI’AT ?!

1. Penulis berkata di dalam hal. 43 : ” Selama ini kita shalat hanya selalu menggunakan tata aturan otak kiri ( hukum-hukum fiqih ) yang kenyataannya adalah menghasilkan ketidaknyamanan dan rasa jenuh “.
2. Penulis berkata di dalam hal. 132 : ” Datanglah kepada Allah dengan ikhlash niscaya kalian akan mendapatkan keadaan khusyu’ itu secara benar. Bukan kita menciptakan rasa khusyu’, tetapi kita hanya menerima ilham ( rasa khusyu’ ) dan ketenangan yang diturunkan ke dalam hati kalian “.
3. Penulis berkata di dalam hal. 108 : ” Marilah kita buktikan keyakinan kita kepada Allah sampai betul-betul terasa, bahwa Allah telah memberikan berita secara nyata atas permohonan kita. Baik melalui ilham ( dihembuskan ke dalam hati sebagai sebuah pengertian yang tidak meragukan ), isymat ( pemberitahuan atau isyarat melalui alam ), kinayah ( gambaran yang jelas ) atau melalui mimpi yang nyata “.
4. Penulis berkata di dalam hal. 109 : ” Duduklah dengan tenang da rileks. Sediakan hati anda untuk menerima hembusan ilham dan pengetahuan Allah “.
Kami katakan : Penulis telah menjadikan ilham sebagai landasan khusyu’ yang merupakan ibadah, inilah agama Tashawwuf atau Shufiyyah yang sesat yang menyandarkan ajaran agama mereka kepada hawa nafsu mereka yang mereka namakan dengan kasyaf dan ilham, mereka begitu menjauhi ilmu yang diambil dari para ulama Sunnah dan lebih mengutamakan ilmu kasyaf yang digambarkan oleh Ibnu Arabi dengan perkataannya :
Sesungguhnya seseorang tidak akan sempurna di sisi kami dalam maqam ilmu sehingga ilmunya diambil langsung dari Alloh Azza wa Jalla … maka bukanlah ilmu melainkan yang berasal dari kasyaf dan syuhud ( Thabaqah Syarani 1/5 ).
Abu Yazid Al-Busthami berkata kepada para ulama zamannya : Kalian mengambil ilmu dari para ulama tulisan dari yang sudah mati dari yang sudah mati, sedangkan kami mengambil ilmu dari Dzat Yang Maha Hidup yang tidak pernah mati, kami katakan: Telah mengkhabarkan kepadaku hatiku dari Tuhanku ! ( Thabaqah Syarani 1/5 ).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah membantah perkataan ini dengan mengatakan : ” Adapun yang dinukil dari orang-orang tsiqah dari Nabi ( yang ma’shum maka dia adalah haq, seandainya bukan karena penukilan yang ma’shum maka sungguh kamu dan orang-orang yang semisalmu boleh jadi termasuk orang-orang muyrik dan boleh jadi termasuk orang-orang Yahudi dan Nashara. Adapun yang datang kepadamu maka dari mana kamu tahu bahwa itu adalah wahyu dari Alloh dan dari mana kamu tahu bahwa itu bukan wahyu dari syaithan ?. Sedangkan wahyu ada dua : wahyu dari Alloh dan wahyu dari syaithan, Alloh ( berfirman :

وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ

Sesungguhnya syaitan itu mewahyukan ( membisikkan ) kepada sekutu-sekutunya ( dari manusia ) agar mereka membantah kamu; ( Al-An’am : 121 ) dan Alloh ( berfirman :

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

Dan Demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka mewahyukan ( membisikkan ) kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia) ( Al-An’am : 112 ) dan Alloh ( berfirman :

هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَىٰ مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ﴿٢٢١﴾

Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan- syaitan itu turun? ( Asy-Syu’ara’ : 221 ).
Adalah Mukhtar bin ‘Ubaid termasuk model orang seperti ini hingga disampaikan hal itu kepada Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, dikatakan kepada salah seorang dari keduanya bahwa Mukhtar bin ‘Ubaid mendapat wahyu maka dia berkata mengomentari : Sesungguhnya syaitan itu mewahyukan ( membisikkan ) kepada sekutu-sekutunya ( dari manusia ) agar mereka membantah kamu; dan dikatakan kepada yang lain bahwa ada yang turun menyampaikan wahyu kepadanya maka dia mengomentari : Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan- syaitan itu turun? ( Majmu’ Fatawa 13/73 ).

PRAKTEK SHOLAT DAN WUDHU ALA ABU SANGKAN

1. Penulis di dalam hal. 58 membawakan ayat 45-46 dari surat Al-Baqarah kemudian sesudah itu mengatakan : ” Cara memasuki shalat, menurut ayat tersebut di atas, dalam bentuk praktek adalah seperti di bawah ini :
1)    Heningkan pikiran anda agar rileks. Usahakan tubuh anda tidak tegang. Tak perlu konsentrasikan pikiran sampai mengerutkan kening
2)    Biarkan tubuh anda meluruh, agak lemaskan atau bersikap serileks mungkin
3)    Kemudian rasakan getaran qolbu..
4)    Bangkitkan kesadaran diri..
( Dan seterusnya ada sembilan poin sampai halaman 59 ) “.
2. Penulis di dalam halaman 64 ketika berkata: ” Mari kita mencoba memasuki proses wudhu’ sebagai ajang pembersihan jiwa, agar kita mendapatkan Nur dari wudhu’ yang akan membekas ketika memasuki ibadah shalat :
1)    Mulailah dengan mengucapkanHubungkan jiwa anda kepada Alloh
2)    Cucilah kedua tangan Anda dengan air mutlak. Pastikan hati tetap bersambung dengan Allohdst
3)    Hadirkan jiwa Anda kepada Alloh… ( Dan seterusnya sampai 8 poin ).”
Kami katakana : Cara-cara wudhu dan sholat sebagaimana yang disebutkan oleh penulis di atas tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah ( , maka dia adalah perkara baru di dalam agama, sedangkan Rasulullah ( bersabda :
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan kami ini yang bukan darinya maka dia tertolak “ ( Muttafaq Alaih ).
Hadits ini menunjukkan bahwa segala amalan yang tidak berdasar kepada urusan Rasulullah ( maka dia akan tertolak, dan maksud urusan Rasulullah ( adalah agama dan syariatnya , maka barangsiapa yang melakukan amalan tanpa ada tuntunan dari Rasulullah ( maka amalannya akan tertolak kembali kepada pelakunya tanpa mendapatkan pahala sedikitpun dari Allah ( .
Maka penulis telah mengadakan bid’ah dalam kaifiyat sholat, dan setiap bidah adalah sesat dan setiap kesesatan adalah di neraka sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah ( dalam haditsnya yang shahih :
كل محدثة بدعة و كل بدعة ضلالة و كل ضلالة في النار
“ Setiap perkara yang baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan adalah di neraka “ ( Diriwayatkan oleh Nasai dalam Sunannya 1/234 dan Baihaqy dalam Sunan Kubro 3/214, dan dishahihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu Fatawa 3/58 dan disetujui oleh Syaikh Al-Albany dalam Khutbatul Hajah hal. 26 ).

PENUTUP

Inilah di antara hal-hal yang bisa kami paparkan dari sebagian penjelasan terhadap buku ini, sebetulnya masih banyak hal-hal lainnya belum kami bahas mengingat keterbatasan tempat.
Dan sebagai kesimpulannya bahwa buku ini sangat berbahaya, hendaknya setiap muslim waspada dari buku ini, dan barangsiapa yang ingin mendapatkan ilmu tentang khusyu’ dalam sholat hendaknya merujuk kepada kitab-kitab para ulama Sunnah yang membawakan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman Salafush Shalih seperti Al-Khusyu’ Fish Sholat oleh Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali.
Akhirnya semoga Alloh selalu menunjukkan kita ke jalanNya yang lurus dan dijauhkan dari semua jalan-jalan kejelekan. Amin.

والله أعلم بالصواب

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.