KHURUJ DAN MAFSADAHNYA

KHURUJ DAN MAFSADAHNYA

Para ulama ahli sunnah wal jama’ah telah sepakat atas haramnya khuruj ( memberontak ) kepada para penguasa yang zhalim dan fasik dengan cara revolusi atau kudeta atau dengan cara yang lainnya, berdasarkan hadits-hadits di atas dan akibat buruk yang ditimbulkan oleh pemberontakan dari timbulnya fitnah, tertumpahnya darah, kekacauan, dan kerusakan-kerusakan, jadilah pokok ini merupakan pokok yang terpenting dari ahli sunnah wal jama’ah yang menyelisihi semua kelompok-kelompok yang sesat dan ahlil ahwa’, sehingga banyak dari para ulama yang menuliskan pokok ini dalam kitab-kitab mereka :
Al-Imam Abu Utsman Ash-Shabuni berkata : “ Ashabul hadits memandang sholat Jum’at, Iedain, dan sholat-sholat yang lainnya di belakang setiap imam yang muslim yang baik maupun yang fajir, mereka memandang hendaknya mendoakan para pemimpin dengan taufiq dan kebaikan, mereka tidak membolehkan khuruj ( pemberontakan ) kepada para pemimpin, meskipun mereka melihat dari para pemimpin berpalingnya mereka dari keadilan kepada kecurangan dan ketidakadilan “ ( Aqidah Salaf Ashabil Hadits hal. 106 ).
Al-Imam Ath-Thahawi berkata : “ Kami tidak memandang bolehnya memberontak kepada para pemimpin dan para waliyyul amr kami, meskipun mereka berbuat kecurangan, kami tidak mendoakan kejelekan kepada mereka, kami tidak melepaskan diri dari ketaatan kepada mereka, kami memandang ketaatan kepada mereka adalah ketaatan kepada Alloh Azza wa Jalla sebagai suatu kewajiban selama mereka tidak memerintah kepada kemakshiyatan, dan kami doakan mereka dengan kebaikan dan keselamatan “ ( Aqidah Thahawiyyah beserta Syarahnya 2/540 ).
Banyak dari para ulama yang menukil ijma’ ( kesepakatan ) dalam masalah ini seperti Al-Imam Nawawi yang beliau mengatakan : “ Adapun khuruj dan memerangi para pemimpin maka hukumnya haram dengan kesepakatan kaum muslimin, meskipun para pemimpin ini fasik dan zhalim “ ( Syarah Nawawi atas Shahih Muslim 12/229 ).
Al-Hafidz Ibnu Hajar juga menukil ijma’ para ulama dalam masalah ini dari Ibnu Baththal yang berkata : “ Para fuqaha’ telah sepakat atas wajibnya taat kepada pemerintah yang menguasai keadaan, wajibnya berjihad bersamanya, bahwasanya ketaatan kepadanya lebih baik daripada memberontak kepadanya, karena dengan ketaatan akan bisa menjaga tertumpahnya darah, dan menenangkan keadaan … mereka tidak mengecualikan dari hal ini kecuali jika telah terjadi kekufuran yang jelas dari penguasa “ ( Fathul Bari 13/7 ).
Yang sangat mengherankan bahwasanya Dr. Ali Abu Ghuraisah memandang adanya perselisihan dalam masalah ini di antara ahli sunnah dalam kitabnya Masyru’iyah Islamiyyah Ulya hal. 273 – 278 !!!.

MAFSADAH KHURUJ

Di antara hal lain yang mendukung kesepakatan ahli sunnah atas haramnya khuruj ( memberontak ) kepada pemerintah yang fasiq atau zhalim dengan cara revolusi berdarah atau kudeta adalah dengan memperhatikan maqashid syari’ah “ Karena sesungguhnya Alloh Ta’ala telah mengutus Rasulullah ( untuk menghasilkan mashlahat-mashlahat dan menyempurnakannya, sekaligus menghilangkan mafsadah-mafsadah dan menguranginya, demikian juga menepis mafsadah yang lebih besar dengan mengambil yang lebih kecil mafsadahnya, jikasaja amar ma’ruf nahi mungkar termasuk kewajiban-kewajiban dan syari’at yang agung, maka tidak boleh tidak bahwasnya mashlahat yang dihasilkannya lebih besar diabndingkan dengan mafsadahnya, bilamana mafsadah yang ditimbulkan dari amar ma’ruf nahi mungkar lebih besar dibandingkan dengan mafsadahnya maka hal itu tidak termasuk yang diperintahkan oleh Alloh “ ( Majmu’ Fatawa 28/126 ).
Al-Imam Ibnul Qayyim berkata : “ Sesungguhnya Nabi ( telah mewajibkan umatnya agar mengingkari kemungkaran, agar didapatkan hal yang ma’ruf yang dicintai oleh Alloh dan RasulNya, jikasaja mengingkari kemungkaran akan menghasilkan kemungkaran yang lebih besar dan sesuatu yang lebih dibenci oleh Alloh dan RasulNya maka tidak selayaknya diingkari, meskipun Alloh membencinya dan memurkai pelakunya.
Hal ini semisal pengingkaran kepada para penguasa dan para pemimpin dengan cara memberontak kepada mereka, karena inilah yang merupakan biang segala kejelekan dan fitnah sepanjang masa, sungguh para sahabat telah meminta izin kepada Rasulullah ( untuk memerangi para penguasa yang mengakhirkan sholat dari waktunya, mereka mengatakan : “ Tidakkah kami memerangi mereka ? “, maka Rasulullah ( menjawab : “ Jangan, selama mereka menegakkan sholat “ ( Shahih Muslim : 1855 ).
Barangsiapa yang menelaah fitnah-fitnah yang banyak menimpa kaum muslimin maka akan melihat bahwa fitnah-fitnah tersebut disebabkan karena pengabaian kepada pokok ini, dan ketidaksabaran atas terjadinya kemungkaran, dan berusaha menghilangkannya ( tanpa memperhatikan pokok ini ) sehingga melahirkan kemungkaran yang lebih besar lagi, adalah Rasulullah ( melihat kemungkaran terbesar di Makkah ( dari peribadahan kepada berhala ) yang beliau tidak mempu menghilangkannya, bahkan sampai ketika Makkah sudah ditaklukkan menjadi darul Islam Rasulullah ( berniat hendak membongkar Ka’bah dan mengembalikannya kepada pondasi Ibrahim, beliau tidak jadi melakukan hal itu – padahal beliau mampu – karena khawatir terjadinya hal yang lebih besar dari kemarahan orang-orang Quraisy karena mereka barusaja masuk Islam dan baru saja keluar dari kekufuran, karena ini maka Rasulullah ( tidak mengizinkan mengingkari para penguasa dengan tangan karena akan menimbulkan terjadinya kemungkaran yang lebih besar dari yang sebelumnya “ ( I’lamul Muwaqqi’in 3/4 ).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “ Karena inilah merupakan hal yang masyhur dari madzhab ahli sunnah bahwasanya mereka tidak membolehkan khuruj kepada para pemimpin dan memerangi mereka dengan pedang, walaupun pada mereka ada kezhaliman, sebagaimana hal ini telah dinashkan oleh hadits-hadits yang banyak sekali yang shahih dari Nabi ( , karena kerusakan yang ditimbulkan oleh peperangan dan fitnah lebih besar daripada kerusakan yang terjadi dari kezhaliman mereka jika tidak terjadi peperangan dan fitnah … barangkali tidak pernah diketahui dari kelompok manapun yang memberontak kepada penguasa melainkan kerusakan yang ditimbulkan oleh pemberontakan tersebut lebih besar dari kerusakan yang dihilangkan, Alloh tidak pernah memerintahkan untuk memerangi setiap orang yang zhalim dan setiap orang yang melampaui batas apapun keadaannya, … bagaimana memerintahkan memulai peperangan kepada para waliyyul amr ?! “ ( Minhajus Sunnah 3/391 ).
“ Karena inilah ketika Husain bin Ali hendak keluar menuju ke Iraq ketika para penduduk Iraq menulis surat yang banyak kepadanya ( untuk memimpin pemberontakan kepada Bani Umayyah ), maka para pemuka sahabat dan ulama seperti Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Abu Bakr bin Abdurrahman bin Harits bin Hisyam, mengisyaratkan kepada Husain agar tidak memberontak, mereka menduga dengan sangat bahwa Husain akan terbunuh, sampai-sampai sebagian dari mereka mengatakan : “ Aku menitipkan Engkau kepada Alloh dari pembunuhan …“, ternyata kenyataan yang terjadi seperti yang mereka duga, maka tidaklah ada dalam khuruj ( pemberontakan ) mashlahat agama dan tidak juga mashlahat dunia, bahkan akhirnya orang-orang yang zhalim tersebut berhasil memperdaya cucu Rasulullah ( tersebut sehingga mereka bisa membunuhnya dalam keadaan syahid dan dizhalimi, maka keluarnya Husain dan terbunuhnya mengakibatkan kerusakan yang tidak akan terjadi kalau dia duduk di negerinya, maka yang dia kehendaki dari mendatangkan kebaikan dan menepis kejelekan tidak terjadi samasekali, bahkan kejelekan bertambah dengan keluarnya dia dan terbunuhnya, dan berkurangnya kebaikan dengan sebab hal itu, jadilah hal itu menjadi sebab kejelekan yang besar, adalah terbunuhnya Husain merupakan pemicu fitnah-fitnah sebagaimana terbunuhnya Utsman juga memicu fitnah. Ini semua menunjukkan bahwa perintah Nabi ( agar bersabar atas kezhaliman para pemimpin, serta larangan beliau dari memerangi dan memberontak kepada mereka, adalah perkara-perkara yang paling membawa mashlahat bagi para hamba dari segi dunia dan akhirat, dan bahwasanya setiap orang yang menyelisihi hal-hal tersebut baik secara sengaja maupun tidak sengaja tidak mendapatkan kebaikan dari perbuatannya bahkan kerusakan yang didapatkannya, karena inilah maka Nabi ( memuji Hasan bin Ali dalam sabdanya : “ Sesungguhnya anakku ini adalah sayyid, Alloh akan mendamaikan dengan perantaraannya dua kelompok yang besar dari kaum muslimin “ ( Shahih Bukhari : 3746 ), tidak pernah Nabi ( memuji seorangpun yang berperang dalam fitnah, tidak juga kepada pemberontak kepada penguasa, tidak juga kepada pencabut tangannya dari ketaatan, dan tidak juga kepada orang yang keluar dari jama’ah “ ( Minhajus Sunnah 4/530-531 ).
Ringkasnya bahwa khuruj akan “ mengubah keadaan yang aman menjadi ketakutan, penumpahan darah, leluasanya gerak orang-orang yang dungu, membuka pintu kehancuaran bagi kaum muslimin dan kerusakan di muka bumi “ ( Tafsir Qurthubi 2/109 ).

PEMBERONTAKAN TIDAK MEMPERBAIKI AGAMA DAN DUNIA

Siapa saja yang mau menelusuri perjalanan sejarah manusia dari dahulu hingga sekarang akan jelas baginya bahwa tidak pernah terealisasi tujuan-tujuan dan maksud-maksud dari para pemberontak, bahkan tidak pernah didapatkan kecuali kejelekan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “ Tidaklah ada seorang yang memberontak kepada penguasa melainkan kejelekan yang ditimbulkannya jauh lebih besar daripada kebaikan yang dihasilkan, seperti orang-orang di Madinah yang memberontak kepada Yazid, seperti Ibnul Asy’ats di Iraq yang memberontak kepada Abdul Malik Bin Marwan, seperti Ibnul Muhallab di khurasan yang memberontak kepada Walid bin Abdul Malik, seperti Abu Muslim di Khurasan juga yang memberontak kepada Bani Umayyah, seperti orang-orang di Madinah dan Bashrah yang memberontak kepada Al-Manshur, dan orang-orang yang semisal mereka.
Hasil maksimal yang mereka dapatkan adalah adakalanya mereka kalah dan adakalanya mereka menang kemudian hilang kekuasaan mereka tidak ada bekasnya, seperti Abdullah bin Ali dan Abu Muslim yang ( memberontak kepada Bani Umayyah dan menang ) keduanya telah membunuh orang-orang yang banyak sekali ( dari Bani Umayyah ), kemudian keduanya dibunuh oleh Abu Ja’far Al-Manshur, adapun Ahlul Harrah dari Madinah, Ibnul Asy’ats, Ibnul Muhallab, dan yang lainnya, mereka kalah dan dihancurkan beserta pengikut mereka, sehingga mereka tidaklah menegakkan agama dan tidak menyisakan dunia, dalam keadaan Alloh tidak pernah memerintahkan suatu perkara yang tidak mendatangkan kebaikan agama dan dunia samasekali “ ( Minhajus Sunnah 4/527-528 ).
Al-Imam Abul Hasan Al-Asy’ari menyebut 25 pemberontak dari ahlil bait, tidak ada satupun yang mendapatkan maksud yang mereka inginkan ( Maqalat Islamiyyin 1/150-166 ).
Di antara contoh yang terjadi pada masa sekarang adalah kejadian di Shomalia, meskipun pemerintahan yang dipimpin oleh Siad Beri begitu jelek tetapi kehidupan rakyat tetap berlangsung dengan kebaikan dan kejelekan yang ada, pedagang dengan tenang bekerja di tokonya, petani di sawahnya, para pekerja di pabrik-pabrik mereka, orang-orang berangkat dan pulang dengan tenang untuk mencari penghidupan, ketika terjadi kudeta dan pemerintahan terguling maka kekacauan terjadi di mana-mana, jadilah negeri tanpa penguasa, terjadi peperangan antar suku, bergelimpanglah ratusan mayat, jutaan para pengungsi dan orang-orang yang kelaparan, semua ini adalah realita yang memilukan ( Lihat Wujubu Tha’ati Sulthan oleh Al-Uraini hal. 20 ).
Peristiwa-peristiwa yang terjadi di Suriah, Mesir, dan Al-Jazair tidak jauh berbeda dengan keadaan di Shomalia, benarlah apa yang dulu pernah dikatakan “ 60 tahun dengan pimpinan yang jelek lebih baik daripada satu malam tanpa ada pimpinan “ !.
“ Jikasaja khuruj selamanya selalu membawa kerusakan – meskipun pelakunya berniat amar ma’ruf nahi mungkar – maka tidaklah dibolehkan karena Pembuat syari’at tidak pernah memerintahkan kecuali yang ada mashlahat di dalamnya “ ( Al-Ghuluw fid Diin hal. 424 ).

NASEHAT DAN PELAJARAN YANG SANGAT BERHARGA

Karena hal-hal di atas maka Salafush Shalih memerintahkan agar selalu sabar dan melarang pemberontakan karena akan menyebabkan kerusakan-kerusakan yang besar dan kejelekan-kejelekan yang banyak.
“ Adalah para pemuka kaum muslimin melarang khuruj dan berperang dalam fitnah, sebagaimana Abdullah bin Umar, Sa’id bin Musayyib, Ali bin Husain bin Ali, dan yang lainnya melarang kaum muslimin dari memberontak kepada Yazid pada peristiwa Harrah, dan sebagaimana Hasan Al-Bashri, Mujahid, dan yang lainnya melarang khuruj saat terjadinya fitnah Ibnul Asy’ats “ ( Minhajus Sunnah 4/529 ).
Dari Zubair bin Adi bahwasanya dia berkata : “ Kami mendatangi Anas bin Malik mengadukan kepadanya apa yang kami alami dari penindasan Hajjaj, maka dia berkata : “ Bersabarlah, karena tidak datang kepada kalian suatu zaman melainkan yang sesudahnya lebih jelek darinya hingga kalian menemui Rabb kalian “ Ini aku dengar dari Nabi kalian “ Shahih Bukhari : 7067 ).
Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata : “ Ketika para penduduk Madinah pulang dari sisi Yazid, Abdullah bin Muthi’ dan para pengikutnya berjalan menuju ke tempat Muhammad bin Hanafiyyah, mereka mengajak Muhammad bin Hanafiyyah ( Muhammad bin Ali bin Abi Thalib ) untuk menurunkan Yazid, tetapi dia enggan menuruti kemauan mereka.
Abdullah bin Muthi’ berkata : “ Sesungguhnya Yazid meminum khamr, meninggalkan sholat, dan melanggar hukum Al-Kitab “.
Muhammad bin Hanafiyyah berkata kepada mereka : “ Aku tidak pernah melihat apa yang kalian sebutkan, aku pernah hadir di sisi Yazid, dan aku tinggal beberapa lama dengannya, aku lihat dia selalu melaksanakan sholat, melaksanakan kebaikan, bertanya tentang fiqih, dan iltizam kepada sunnah “.
Mereka berkata : “ Dia melakukan itu karena berpura-pura terhadapmu “.
Muhammad bin Hanafiyyah berkata : “ Apa yang dia takutkan dariku atau harapkan dariku sehingga dia berpura-pura khusyu’ di hadapanku ?, apakah dia menampakkan kepada kalian seperti yang kalian sebutkan dalam hal minum khamr ?, jika dia menampakkan kepada kalian hal itu maka sungguh kalian adalah para komplotannya, dan jika dia tidak menampakkan itu kepada kalian maka tidak halal bagi kalian untuk bersaksi pada hal yang kalian tidak mengetahuinya “
Mereka berkata : “ Sesungguhnya yang ada pada kami adalah kebenaran meskipun kami tidak melihatnya “.
Muhammad bin Hanafiyyah berkata : “ Alloh enggan hal seperti itu dari orang yang bersaksi, Dia berfirman :
( إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ(
“ Akan tetapi orang yang mempersaksikan kebenaran dalam keadaan mereka mengetahuinya “ ( Az-Zukhruf : 86 )
Aku tidak akan ikut pada perkara kalian sedikitpun “.
Mereka berkata : “ Barangkali Engkau tidak suka kalau yang memimpin adalah selainmu, kalau begitu kami menyerahkan pimpinan kepadamu “.
Muhammad bin Hanafiyyah berkata : “ Aku tidak menghalalkan peperangan yang kalian inginkan, sebagai pengikut atu sebagai pempimpin “.
Mereka berkata : “ Kamu pernah berperang bersama ayahmu ( yaitu Ali bin Abi Thalib ) “.
Muhammad bin Hanafiyyah berkata : “ Datangkanlah orang seperti ayahku maka aku akan berperang dengan tujuan seperti tujuannya “.
Mereka berkata : “ Kalau begitu perintahlah kedua anakmu Abul Qasim dan Qasim untuk berperang bersama kami ! “.
Muhammad bin Hanafiyyah berkata : “ Jika aku perinahkan pada keduanya pasti aku juga ikut berperang “.
Mereka berkata : “ Kalau begitu ikutlah bersama kami sebagai juru kampanye dalam perang kami “.
Muhammad bin Hanafiyyah berkata : “ Subhanallah ! aku memerintahkan orang-orang untuk melakukan hal yang tidak aku kerjakan dan tidak aku ridhai, jika begitu maka aku tidaklah memberi nasehat kepada para hamba Alloh “.
Mereka berkata : “ Kalau begitu kami membencimu “.
Muhammad bin Hanafiyyah berkata : “ kalau demikian maka aku perinthakan manusia agar bertakwa kepada Alloh, jangan sampai mereka mencari keridhaan makhluk dengan kemurkaan Alloh “.
Maka pergilah Muhammad bin Hanafiyyah ke Makkah “ ( Bidayah wan Nihayah 8/233 ).
Dari Abul Harits Ash-Sha-igh dia berkata : “ Aku berkata kepada Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal tentang peristiwa yang terjadi di Baghdad, yang menyebabkan sekelompok orang berniat memberontak, aku berkata : Wahai Abu Abdillah, bagaimana pendapatmu tentang ikut memberontak bersama mereka ? “.
Beliau mengingkari perbuatan mereka, seraya mengatakan : “ Subhanallah, darah darah !, aku tidak memperbolehkan itu dan tidak memerintahkan kepada hal itu, bersabar atas apa yang kita alami lebih baik daripada fitnah, darah akan ditumpahkan, harta akan dihalalkan, hal-hal yang haram akan dilanggar, tidakkah Engkau tahu bagaimana keadaan manusia di zaman fitnah ? “.
Aku berkata : “ Bukankah manusia sekarang dalam fitnah ? “
Dia berkata : “ Meskipun demikian sesungguhnya dia adalah fitnah yang khusus, jika pedang telah terhunus maka meluaslah fitnah dan terputuslah jalan, sabar atas hal ini dan menyelamakan agamamu lebih baik bagimu “ ( Diriwayatkan oleh Al-Khallal dalam As-Sunnah hal. 89 ).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.