📗 Al-Ghayah wat Taqrib | Kitab An-Nikah – 001 Mukadimah

🌐 WAG Dirosah Islamiyah
Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad

👤 Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A.
📗 Al-Ghayah wat Taqrib | Kitab An-Nikah

🔊 Mukadimah
~~~~~~

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إن الحمد لله نحمده و نستعينه و نستغفره و نعوذ بالله من شرور انفسنا و سيئات اعمالنا، من يهده الله فلا مضلله و من يضلله فلا هادي له. أشهد ان لا اله لا الله وحده لا شريك له و اشهد ان محمد عبده و رسوله. اما بعد

Saudaraku seiman dan seaqidah, anggota group whatshap dirasah islamiyah yang senantiasa dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala.

Pada kesempatan ini saya mengajak ikhwah sekalian untuk bersama-sama mengkaji satu bab dalam kitab matan ghayyah wa taqrib  buah karya Syaikh Ahmad Ibnul Hasan Ibnu Ahmad Al Ashbahani atau yang lebih dikenal di negeri kita dengan sebutan Al Imam Abu Syuja’ rahimahullahu ta’ala.

Kitab ini tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, terlebih bagi mereka yang pernah mengenyam pendidikan di dunia pesantren, karena kitab matnu ghayyah wa taqrib ini telah menjadi referensi utama dalam kajian-kajian fiqih di negeri kita di kalangan para penganut madzhab Syafi’i secara umum.

Secara khusus kita akan membahas kitabun nikah, karena pembahasan tentang hukum-hukum pernikahan dan etika-etika pernikahan tersebut sangat penting bagi kita semua. Utamanya, bagi kawula muda yang hendak menikah, yaitu yang baru berencana memasuki pintu pernikahan maupun bagi yang telah menikah. Karena permasalahan pernikahan seringkali dianggap mudah, ringan, dan simple, sehingga seringkali terabaikan seiring dengan menipisnya sekat-sekat sosial, rasa malu, rasa sungkan, dan rasa segan yang terus menipis dan bahkan bisa jadi sirna setelah seseorang menikah.

Sebelum menikah seringkali seseorang merasa sungkan, malu, segan, dan hormat dengan calon pasanganya. Hal itu juga terbawa sampai di awal-awal pernikahan. Namun, seiring berjalannya usia pernikahan, hal itu terus menipis dan bahkan bisa jadi akhirnya sirna sehingga tidak ada lagi rasa sungkan dan segan dari seorang suami/istri kepada pasangannya, dan bahkan kepada keluarga pasangannya. Terlebih lagi bagi seorang suami yang merupakan  kepala rumah tangga, di mana ia merasa memiliki power, kekuatan, dan kekuasaan untuk berbuat sesuka hatinya.

Dengan demikian apabila setelah menikah seorang suami masih mampu mempertahankan akhlak karimahnya terhadap istrinya, masih tetap memuliakan istrinya, masih memiliki rasa malu dan segan kepada istrinya, sehingga ia tidak ceroboh dalam bertindak, tidak berlaku semena-mena kepada istrinya, serta tetap memuliakan dan menghormatinya, maka itu merupakan pertanda bahwa ia adalah betul-betul orang yang baik sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, di mana beliau menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam telah bersabda,

خَيْرُكُمْ خُيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَ اَنَا خَيْرُكُمْ لِأَْهِلي

Artinya:

Orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik dalam bergaul dengan keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik dalam bergaul dengan keluargaku.

Oleh karena itu, sepatutnya kita terus berusaha untuk memuliakan keluarga kita sebagai upaya kita semua untuk menjadi orang yang paling bertaqwa dan sebagai upaya untuk merealisasikan nilai-nilai taqwa karena orang yang bertaqwa itu adalah orang yang berbuat karena Allah, bukan karena segan kepada manusia. Maka seorang suami hendaknya berbuat baik karena mengharapkan mardhatillah, walaupun ia berada di posisi berkuasa dan mampu, serta bukan karena takut kepada manusia. Sehingga, ketika ia menggauli istrinya yang lemah serta di bawah kuasanya, maka ia tidak berbuat semena-mena, tetapi betul-betul karena menjalankan perintah Allah Subhanahu wa ta’ala sebagaimana yang dipesankan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam ketika haji wada’:

إِسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّ هُنَّ عَوَانٌ عِنْدَكُمْ

Artinya:

Hendaknya kalian senantiasa mewaspadai dan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk berbuat baik kepada istri-istri kalian, karena mereka itu bagaikan tawanan di sisi kalian, yaitu karena mereka harus mengabdi, berbakti, serta tunduk dan patuh kepada kalian (para suami).

Oleh karena itu, sebagai timbal baliknya, suami harus berusaha semaksimal mungkin untuk tetap berbuat baik dan memuliakan istrinya karena mereka adalah manusia yang Allah muliakan sebagaimana disebutkan dalam hadits:

لاَ يُكْرِمُ هُنَّ إِلاَّ كَرِيْمٌ، وَلاَ يُهِيْنُ هُنَّ إِلاَ اللَّئِيْم

Artinya:

Tidaklah memuliakan seorang wanita kecuali orang yang mulia juga, dan tidaklah merendahkannya kecuali seorang yang rendah dan tidak pandai bersyukur.

والله تعالى اعلم

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.