NASEHAT-NASEHAT PARA ULAMA AGAR KAUM MUSLIMIN MENYIBUKKAN DENGAN ILMU DAN MENJAUHI OBROLAN POLITIK

NASEHAT-NASEHAT PARA ULAMA AGAR KAUM MUSLIMIN MENYIBUKKAN DENGAN ILMU DAN MENJAUHI OBROLAN POLITIK

1. Nasehat Fadhilatusy Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin:

Kemudian sesungguhnya fiqih waqi yang dikatakan dia adalah pemahaman realita apa referensinya ?, referensinya adalah koran, majalah, dan siaran radio!, alangkah banyaknya propaganda dalam koran, majalah, dan siaran radio ! karena itulah media-media massa sekarang tidak mungkin dijadikan rujukan, karena kadang di sana ada prediksi-prediksi lama yang kemudian menjadi tidak akurat karena berubahnya keadaan, karena itulah jika seorang yang berakal mau memperhatikan dengan seksama kronologi peristiwa dalam rentang waktu 20 tahun, maka akan nampak jelas baginya bahwa semua prediksi-prediksi yang sebelumnya dilontarkan tidaklah menjadi realita, karena inilah kami memandang bahwa jika ada yang menyibukkan para pemuda muslim dalam fiqih waqi melalui majalah, koran, siaran radio, dan yang semisalnya, sehingga menjauhkan mereka dari mendalami agama Allah … kami memandang bahwa ini adalah kesalahan dalam manhaj… ( Dari kaset Liqo Abil Hasan Al-Mariby maa Syaikh Ibn Baz wa Syaikh Ibn Utsaimin sebagaimana dalam Madarikun Nazhar hal. 280 ).

2. Nasehat Syaikh Al-Allamah Shalih bin Fauzan Al-Fauzan :
Ketika ditanya tentang fiqih waqi beliau menjawab :

Fiqih yang diperintahkan dan sangat dianjurkan untuk dipelajari adalah fiqih Kitab dan Sunnah, inilah fiqih yang diperintahkan untuk dipelajari… adapun lafadz fiqih jika dimutlakkan sebagaimana dalam firman Allah ( :
(لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ(
“untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama “ ( At-taubah : 122 ), dan dalam sabda Rasulullah ( : “ Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah jadikan dia faham tentang agama ( Muttafaq Alaih, Shahih Bukhari : 71 dan Shahih Muslim : 1037 )… maka maksudnya adalah fiqih tentang agama dengan mempelajari hukum-hukum syari, inilah yang diperintahkan , dan inilah yang diwajibkan atas kaum muslimin untuk memperhatikan dan mempelajarinya.
Tetapi yang dimaksud fiqih waqi menurut mereka ( yang mendengung-dengungkannya ) bukanlah fiqih secara bahasa, tetapi maksudnya menurut mereka adalah : Menyibukkan diri dengan masalah politik dan pergerakan politik, serta menghabiskan waktu dan perhatian kepadanya.
Adapun fiqih tentang hukum-hukum agama mereka namakan fiqih parsial dan fiqih haidh dan nifas ; untuk memperburuk citranya dan membuat manusia lari darinya . ( Ajwibah Mufidah an Asilatil Manahijil Jadidah hal. 4-5 ).

3. Nasehat Syaikhuna Al-Allamah Abdul Muhsin bin Hamd Al-Abbad :

… Meluruskan pemahaman para pemilik fiqh baru : yaitu fiqh berkubang dalam politik ( kafir ) dan peristiwa-peristiwa politik, dan fiqh waqi ( realita ) kisah-kisah dari koran dan majalah, mengikuti berita-berita radio orang-orang kafir, dan menerima berita-beritanya, dan membahasnya dengan prediksi-prediksi yang seakan-akan berita-berita kuffar itu adalah hal-hal yang bisa dipercaya begitu saja, realita menunjukkan bahwa prediksi-prediksi ini secara umum menyelisihi realita, mereka tidak berhenti sampai di sini saja, bahkan beranjak kepada pencelaan ulama-ulama yang terkemuka yang masyhur dengan pemahaman agama yang mendalam, dan pembawa warisan Nabi yang mulia ( , di antara mereka adalah Samahatu Syaikhuna Al-Allamah Al-Jalil Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz , dan Fadhilatusy Syaikh Al-Allamah Al-Jalil Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin … ( Pengantar terhadap kitab Madarikun Nazhar fis Siyasah oleh Syaikh Abdul Malik Romadhony Al-Jazairy ).

4. Nasehat Maali Syaikh Shalih bin Abdul Aziz bin Muhammad Alu Syaikh :

Banyak orang-orang yang mengatakan bahwa para ulama kita sekarang ini tidak faham waqi !!, sampai ada di antara mereka yang mengatakan kepada sesama komunitas mereka : Kita mendapat faidah dari peristiwa-peristiwa ini bahwasanya para ulama ada yang memahami waqi dan menyimpulkan hukum-hukum syari darinya, dan ada para ulama yang tidak faham waqi !!!
Demi Allah sungguh ini adalah perkataan yang keji, menunjukkan bahwa pengucapnya tidak faham apa landasan penyimpulan hukum-hukum syari, apa yang diambil oleh para ulama, apa yang perlu difahami, dan apa yang tidak perlu difahami.
Sesungguhnya pemahaman terhadap waqi ( realita ) menurut para ulama terbagi menjadi dua bagian :
Yang pertama : Pemahaman terhadap waqi yang merupakan landasan hukum syari, maka hal ini perkara yang harus difahami, barangsiapa yang menghukumi suatu masalah tanpa memahami waqinya maka sungguh dia telah berbuat kesalahan :
Sebagai contoh untuk hal ini adalah munculnya kelompok-kelompok Islam sekarang ini yang masing-masing berbeda dengan yang lainnya, apakah pantas bagi seorang ulama syari untuk menghukumi kelompok-kelompok Islam ini tanpa memahami waqinya, apa aqidah-aqidahnya?, apa landasan-landasannya?, apa manhaj-manhajnya?, apa pemikiran-pemikirannya?, dan bagaimana cara dawahnya?
Jelas tidak mungkin baginya …
Maka pemahaman waqi ( realita ) kelompok-kelompok Islam ini punya pengaruh terhadap penilaian syari atas kelompok-kelompok Islam ini.
Yang kedua : Keadaan-keadaan dan hal-hal yang pemahaman waqinya tidak berpengaruh sama sekali kepada hukum syari :
Sebagai contoh untuk hal ini apa yang banyak terjadi antara dua pihak yang bertikai yang mengadu kepada hakim, yang masing-masing mengadukan perkaranya kepada hakim dengan perkataan yang panjang lebar, tetapi banyak dari kejadian yang diungkapkan oleh pihak yang berselisih tidak dijadikan landasan hukum oleh hakim, karena meskipun hal itu terjadi, tetapi tidak berpengaruh sama sekali kepada hukum ( Dhawabith Syariyyah Limauqifil Muslim fil Fitan hal. 44-47 ).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.