SIKAP SEORANG MUSLIM DI DALAM MENYIKAPI IKHTILAF PARA ULAMA

SIKAP SEORANG MUSLIM DI DALAM MENYIKAPI IKHTILAF PARA ULAMA

Yang kami maksudkan dengan ikhtilaf ulama di sini adalah di antara para ulama yang terpercaya secara agama dan keilmuannya, bukan orang yang dianggap berilmu padahal mereka bukan ahlinya, karena mereka bukanlah ulama, akan tetapi kami maksudkan dalam hal ini adalah para ulama yang sebenarnya.

Al-Imam Ibnu Abdil Barr berkata : Telah sepakat para ahli fiqh dan atsar dari seluruh penjuru negeri bahwasanya ahli kalam, ahli bidah dan kesesatan, mereka semua tidak termasuk golongan ulama, karena ulama hanyalah ahli fiqh dan atsar, mereka bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkatan mereka dalam keahlian, ketelitian, dan pemahaman ( Jami Bayanil Ilmi 2/96 ).

Bagaimanakah sikap kita menghadapai ikhtilaf para ulama ?
Apakah manusia akan mengikuti seorang imam dan tidak akan keluar dari pendapat imamnya walaupun kebenaran berada pada ulama lainnya, seperti kebiasaan orang-orang fanatik madzhab? Ataukah akan mengikuti yang dalilnya lebih kuat walaupun menyeleisihi apa yang dinisbatkan kepada para imam?
Maka jawabnya adalah yang kedua yaitu wajib bagi orang yang mengetahui dalilnya untuk mengikuti dalil walaupun menyelisihi imam. Barangsiapa berkeyakinan bahwa ada seseorang selain Rasulullah ( itu wajib dipegangi ucapannya, baik berbuatnya maupun tidak berbuatnya pada setiap keadaan dan setiap waktu, maka sungguh ia telah bersaksi kepada selain Rasul dengan kekhususan-kekhususan kerasulan. Karena seseorang tidak bisa perkataannya itu menjadi hukum kecuali Rasulullah ( dan tidak ada seorangpun ucapannya wajib dipegangi dan larangannya harus ditinggalkan kecuali Rasulullah ( sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Malik :

ليس أحد بعد النبي صلى الله عليه وسلم إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه وسلم

” Tidak ada seorang pun setelah Nabi ( melainkan diambil dan ditinggalkan perkataannya kecuali Nabi ( ” ( Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr di dalam Jami’ Bayan Ilmi wa Fadhlihi 2/91 dan dishahihkan oleh Ibnu Abdil Hadi di dalam Irsyadi Salik 1/227 ).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata : ” Akan tetapi ada perkara yang masih harus dilihat lagi, karena kita masih tetap mempertanyakan siapa yang mampu untuk mengistinbatkan hukum (menarik kesimpulan) dari dalil-dalil ? Ini suatu problema, karena setiap orang bisa mengatakan: Sayalah orangnya yang berhak. Dan ini sebenarnya tidak baik. Ya dari segi tujuan dan asalnya adalah baik, yaitu kalau penuntun manusia itu kitab Alloh dan Sunnah rasul-Nya. Akan tetapi keberadaan kita membuka pintu bagi setiap orang yang mengerti untuk berbicara dengan dalil walaupun tidak tahu makna dan kandungan dalil. Kita katakan kepadanya : Kamu adalah mujtahid dan berkatalah semaumu !. Maka inilah yang mengakibatkan timbulnya kerusakan syari`at, kerusakan makhluk dan masyarakat.
Sedangkan manusia dalam hal ini terbagi menjadi 3 golongan:
1. Orang alim yang Allah beri rizqi ilmu dan kefahaman.
2. Penuntut ilmu yang memiliki ilmu, tetapi ia belum sampai derajat yang mendalam seperti golongan pertama.
3. Orang awam yang tidak tahu apapun.
Adapun yang pertama, ia berhak untuk berijtihad dan berkata, bahkan ia wajib mengatakan sesuatu yang dikehendaki oleh dalil sekalipun ia menyelisihi orang-orang yang menyelisihi dalil, karena ia diperintah untuk bersikap demikian. Alloh ( berfirman :
( (((((( ((((((( ((((( (((((((((( (((((((( ((((((( (((((((( (((((((( (((((((((( ((((((((( (((((((((((((((((( (((((((( ( (
“ Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri( Orang yang berwenang dan Ulama ) di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil Amri) ” (An-Nisaa`: 83).
Golongan ini adalah termasuk ahli istinbath yang mengetahui apa yang diitunjukkan oleh Al-Quran dan Sunnah.
Adapun yang kedua: Orang yang Allah beri rizqi ilmu dan kefahaman tetapi belum sampai derajat yang pertama itu maka dia tidak ada halangan apabila memegangi hal-hal yang umum, mutlak, dan yang telah sampai padanya. Tetapi ia wajib menjaga hal itu dan tidak boleh lengah untuk menanyakan kepada orang yang lebih tinggi darinya yaitu ahli ilmu, karena ia (si tingkat kedua ini) kadang-kadang salah, dan kadang ilmunya tidak sampai pada suatu pengkhususan dari suatu keumumam, atau taqyi ( batasan ) dari yang mutlak, atau pemansukhan hal yang dia pandang muhkam. Dalam keadaan ia tidak tahu tentang hal itu semua.
Adapun golongan yang ketiga: Yaitu orang yang tidak punya ilmu. Ia ini wajib bertanya kepada ahli ilmu berdasarkan firman Alloh ( :
( ( (((((((((((( (((((( (((((((((( ((( ((((((( (( ((((((((((( ((( (
“…maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui ” (Al-Anbiyaa`: 7).
Dan dalam ayat lain:
( ( (((((((((((( (((((( (((((((((( ((( ((((((( (( ((((((((((( (((( (((((((((((((((( ((((((((((( ( (

“…maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui keterangan-keterangan (mu`jizat) dan kitab-kitab.“ ( An-Nahl : 43-44 ).
Tugas orang awam ini adalah bertanya, tetapi siapakah yang akan ditanya? Di negerinya banyak ulama, masing-masing berkata, bahwa dirinya alim, atau masing-masing dikatakan alim, maka siapakah yang akan ditanya? Apakah kita katakan kepadanya : ‘ Wajib atasmu untuk berusaha mencari yang lebih dekat kepada kebenaran kemudian kamu bertanya kepadanya dan kamu ambil perkataannya ‘ , ataukah kita katakan padanya : ‘ Bertanyalah kepada siapa yang kamu kehendaki dari para ulama, karena kadanga orang yang lebih rendah ilmunya kadang diberi taufiq di dalam suatu masalah tertentu yang orang lebih utama darinya dan lebih berilmu tidak diberi taufiq ‘.
Para ulama berselisih di dalam hal ini : Ada yang berpendapat: Wajib atas orang awam untuk bertanya kepada ulama di negerinya yang paling terpercaya dalam hal keilmuannya. Karena sebagaimana orang yang tertimpa penyakit di badannya maka ia mencari dokter yang paling ahli, maka demikian pula hal ini, karena ilmu itu adalah obat hati. Sebagaimana kamu pilih dokter paling ahli untuk penyakitmu maka wajib pula kamu pilih ulama yang paling ahli ilmu, jadi tiada beda.
Ada yang berpendapat bahwa hal itu tidak wajib, karena orang yang paling ahli kadang tidak lebih tahu dalam setiap masalah secara sebenarnya. Pendapat ini menguatkan bahwa manusia pada zaman sahabat mereka bertanya kepada orang-orang yang lebih rendah ilmunya padahal ada orang yang lebih utama darinya.
Yang saya pandang dalam masalah ini bahwa hendaklah ia bertanya kepada orang yang dipandang lebih utama dalam hal agama dan ilmunya, akan tetapi hal ini bukanlah hal yang wajib, karena orang yang dirinya dipandang lebih utama itu kadang salah dalam masalah tertentu, sedangkan orang yang tidak di bawahnya kadang dia benar, maka hal di atas adalah secara prioritas. Dan pendapat yang terkuat adalah : hendaknya bertanya kepada orang yang lebih dekat kepada kebenaran karena ilmunya, wara`nya (sikap hati-hatinya), dan agamanya ” ( Al-Khilaf Bainal Ulama hal. 7 ).

Inilah yang bisa kami sampaikan di dalam bahasan ini dan kami nasehatkan kepada saudara-saudara kami kaum muslimin semuanya apabila terjadi problema-problema di dalam masalah agama maka hendaknya mengikatkan hati kepada Alloh dan bersikap butuh padaNya agar Dia memberi pemahaman dan jalan keluar.
Demikian juga hendaknya memperbanyak istighfar, karena akan menjadi sebab Alloh membukakan jalan keluar bagi kita semua.
Semoga Alloh selalu memberikan taufiq dan kelurusan jalan kepada kita, meneguhkan kita semua di dalam yang haq di dunia dan di akhirat, dan tidak menyesatkan kita setelah mendapatkan petunjuk serta selalu mencurahkan rahmatNya atas kita semua . Amin.

والله أعلم بالصواب

Akhukum Abu Ahmad Arif Fathul Ulum bin Ahmad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.