IKUTILAH JALAN PARA ULAMA RABBANI DAN JAUHILAH PARA PENYERU KEBINASAAN !

IKUTILAH JALAN PARA ULAMA RABBANI DAN JAUHILAH PARA PENYERU KEBINASAAN !

Ada sebuah riwayat dari sahabat yang mulia Alî bin Abî Thâlib, yang berisi tentang wasiat yang agung yang disampaikan beliau kepada salah seorang sahabatnya yang bernama Kumail bin Ziyâd. Wasiat beliau tersebut berbunyi :

النَّاسُ ثَلاثةٌ : فَعَالمٌ رَبَّانِيٌ ، وَمُتَّبِعٌ عَلى سَبِيْلِ نَجَاةٍ ، وَهَمَجٌ رَعَاعٌ أتْبَاعِ كُلِّ نَاعِقٍ

“Manusia itu ada tiga macam : yaitu seorang ‘âlim rabbânî, seorang yang meneladani di atas jalan keselamatan, dan orang-orang rendahan yang mengikuti setiap ocehan ” .

Manusia tidak akan keluar dari ketiga sifat tersebut, bagaimanapun dan dimanapun keadaannya. Yaitu, sebagai seorang âlim robbânî, yang dinisbatkan (nama ini) kepada Rabb yang Maha Agung Jalla Jalâluhu, dan yang mendidik manusia di atas sifat ini, atau sebagai seorang yang meneladani di atas jalan keselamatan. Dia bukanlah seorang muqollid (taklid buta), mutaashshib (fanatik) maupun mutahazzib (sektarian). Dia hanya mengharapkan Alloh dan negeri akhirat saja. Dia menginginkan Alloh dan negeri akhirat karena kedua hal inilah jalan keselamatan itu. Adapun selain daripada ini adalah jalan yang menuju kepada kerugian yang nyata, sesuai dengan kadar penyelisihannya yang mengantarkan kepada kerugian, sedikit maupun banyak.
Dan golongan ketiga yaitu orang rendahan yang mengikuti semua ocehan. Mereka tidak memiliki kaidah-kaidah ilmiah maupun landasan-landasan yang syari, dan tidak pula metoda dan asas yang diperhatikan di dalam kerangka syariat islam. Mereka ini turut berteriak bersama setiap penyeru dan mengembara di setiap lembah. Mereka ini adalah orang rendahan, yang tidak digerakkan oleh ilmu dan tidak pula dimotivasi oleh syariat. Mereka hanya mengikuti setiap ocehan, berdasarkan mana yang ocehan dan teriakannya paling keras, dan berdasarkan mana yang paling banyak jumlah dan kuantitasnya.

Setiap orang yang berakal dan memiliki hati nurani, pasti akan menolak jika dikategorikan sebagai golongan ketiga ini. Walaupun terkadang, di saat emosi lebih dominan dan luapan semangat yang menggebu-gebu, acap kali mereka ini termasuk golongan ketiga ini, atau berada di antara mereka atau bahkan yang dikedepankan di kalangan mereka. Karena itu hendaknya mereka mengevaluasi diri mereka, dan memperhatikan tempat berpijak kedua kakinya, serta memperhatikan gerakan hatinya dan pergerakan lisannya. Agar tidak ada lagi pada dirinya dosa dan penyelewengan sesuai dengan kadar sikap ikut-ikutannya, fanatismenya, kebodohannya dan sikap pembelaannya.
Demikian juga dalam keadaan dia menolak untuk digolongkan kepada golongan ketiga ini, maka sesungguhnya dia dengan lantaran Alloh menganugerahkan akal kepadanya, ia mengetahui bahwa dirinya tidak termasuk golongan pertama.
Golongan pertama ini adalah para ulama robbâniyîn, yang umat ini wajib mencontoh mereka, bukan sebagai bentuk fanatik kepada mereka namun sebagai bentuk peneladan. Bukan pula sebagai bentuk sikap tahazzub ( sektarianisme ) namun sebagai bentuk keteguhan dan istiqômah di atas syariat Alloh, yaitu di atas Kitâbullâh dan Sunnah Rasulullâh (.
Dan karena dia tidak termasuk kepada kelompok yang pertama dan bukan pula yang ketiga, maka hendaknya dia berupaya mengerahkan kesungguhan dan kemampuannya agar bisa menjadi golongan yang pertengahan diantara dua golongan tadi. Dia bukanlah seorang pantas untuk menyandang sebutan âlim robbânî, dan dirinya juga enggan dan tidak suka jika dianggap seperti golongan orang rendahan, – yang sungguh amat disayangkan – betapa banyak mereka ini di seluruh penjuru dan belahan dunia.
Akan tetapi, jika ia ridha untuk digolongkan sebagai golongan pertengahan, yang mengikuti jalan keselamatan, lantas apakah status golongan pertengahan ini dapat dicapai hanya dengan sekedar angan-angan? Atau dicapai hanya dengan sekedar mimpi dan khayalan belaka? Tidak boleh tidak hingga dia menjadi golongan pertengahan ini dengan mengerahkan segala daya upaya dan kesungguhan jiwa, bersabar di dalam menuntut ilmu dan teguh di atas perintah Alloh, walaupun apa yang di dalam jiwanya merasa enggan di dalam sebagian perkara kecuali meniti sebagian jalan dan mengikuti sebagian jalan, walaupun tidak di atas petunjuk dari Alloh, dan meskipun tidak berada di atas keitiqomahan di dalam perintah Alloh, maka orang yang seperti ini hendaknya yang seperti ini dapat menepisnya dan menjaga jiwanya dari hal tersebut.
Dan hendaknya dia selalu ingat perkataan seorang penyair yang mengingatkan dirinya sendiri dan selainnya :
فهذا الحق ليس به خفاء *** فدعني من بنيات الطريق
Inilah kebenaran yang tidak ada padanya kesamaran
Maka tinggalkanlah aku dari persimpangan-persimpangan jalan
Semua ini adalah termasuk persimpangan-persimpangan jalan, dari jalan-jalan yang berliku-liku dan berkelok-kelok, yang pendek yang tidak lurus, yang terletak di atas kedua sisi jalan dan manhaj yang lurus, yang Alloh dan Rasul-Nya yang mulia Shallallâhu alaihi wa ala Âlihi wa Shohbihi ajmaîn- memerintahkan untuk mengikutinya. Jalan ini adalah jalan yang Alloh dan Rasulullah ( perintahkan kepada umatnya, para pengikutnya, para sahabatnya dan saudara-saudaranya yang hidup setelah beliau (, agar mengikuti jalan keselamatan ini, maka sesungguhnya hal ini membutuhkan jihad melawan hawa nafsu dan Alloh Ta’âlâ berfirman :

والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, maka benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami.” (Al-‘Ankabût : 69)

Dan Nabi yang mulia Shallallâhu ‘alaihi wa ‘ala Âlihi wa Shohbihi ajma’în bersabda :

المجاهد من جاهد هواه في ذات لله

“Seorang mujahid itu adalah orang yang berjihad melawan hawa nafsunya di jalan Alloh.”

Berjihad melawan hawa nafsu itu – wahai saudara-saudaraku – tidaklah selalu berjihad melawan syahwat-syahwat, karena terkadang di dalam sebagian perkara adalah berjihad melawan syubhat-syubhat. Dan jihad melawan syubhat-syubhat ini, adalah lebih utama dan lebih besar tingkatan dan derajatnya daripada jihad melawan syahwat-syahwat. Mudah bagimu berjihad melawan syahwatmu jika Alloh memberikanmu taufiq, namun tidaklah mudah berjihad melawan syubhat yang datang menghampiri atau menyusup lalu menyesatkanmu, dan menjauhkanmu dari al-haq dan kebenaran. Ini adalah poin yang mendasar. ( Petikan dari ceramah Syaikh yang berjudul Kalimat Haula Ahdats Mishr tanggal 23 Shofar 1432 )

Akhukum Abu Ahmad Arif Fathul Ulum bin Ahmad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.