🔥Tunaikan amanah dengan benar …

🔥Tunaikan amanah dengan benar …

✍Menjalankan amanah dan menjaganya bukanlah perkara yang bisa dilakukan semudah membalik tangan. Allah telah menjelaskan tentang beratnya amanah di dalam firman-Nya:

إِنَّا عَرَضْنَا اْلأَمَانَةَ عَلَى السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا اْلإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولاً
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah (yaitu menjalankan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan seluruh larangan-Nya) kepada seluruh langit dan bumi serta gunung-gunung. Maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu banyak berbuat dzalim dan amat bodoh. ” (Al-Ahzab: 72)

Menjalankan amanah adalah kewajiban setiap mukmin.
Allah berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.” (An-Nisa’: 58)

Sesungguhnya jabatan adalah amanah yang berat, yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di akherat kelak. Dan barangsiapa tidak melaksanakan amanah dengan baik maka akan menjadi penyesalan.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Sesungguhnya kalian akan berambisi merebut jabatan, dan nanti pada hari kiamat jabatan-jabatan itu akan menjadi penyesalan.” (HR. Bukhari, 6729)

Telah diriwayatkan dari Abu Dzar ketika dia meminta jabatan atau kekuasaan kepada Rasulullah, lalu beliau menasihati dengan keras kepada Abu Dzar.
Abu Dzar berkata, “Wahai Rasulullah kenapa engkau tidak memberi jabatan kepada saya?”
Beliau langsung menepukkan tangannya di atas pundakku, kemudian bersabda, “Ya Abu Dzar, sesungguhnya engkau ini lemah dan jabatan itu amanah, pada hari kiamat ia akan menjadi penghinaan dan penyesalan kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan hak jabatan yang menjadi kewajibannya.” (HR. Muslim, 1652)

Jabatan atau kekuasaan itu hakikatnya adalah anugerah dari Allah.
Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
(Ali Imran Ayat: 26)
Sehingga ketika menjalankan dengan amanah akan mendapat pahala yang besar.
Tapi sebaliknya jika dia khianat maka akan keras sekali ancaman Allah kepada mereka.

Penguasa yang berkhianat kepada rakyatnya akan dihisab dengan hisab yang berat
Rasululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَا مِنْ وَالٍ يَلِي رَعِيَّةً مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَيَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لَهُمْ إِلا حَرَّمَ الله عَلَيْهِ الْجَنَّة)
“Tidak ada seorang penguasa yang memerintah rakyatnya yang Muslim lalu dia meninggal dalam keadaan berkhianat kepada mereka melainkan Alloh haramkan atasnya surga.” (HR Buhory, 6732)

Rasulullah bersabda,
“Kalau kalian mau niscaya akan kukabarkan tentang kekuasaan, apakah itu? Kekuasaan itu awalnya adalah celaan, keduanya adalah penyesalan dan ketiganya adalah azab di hari kiamat, kecuali orang yang adil, dan betapa sulitnya ia berlaku adil tatkala berkaitan dengan orang terdekatnya.” [HR. Al-Bazzar, 2756 dan Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (18/71-72) disohihkan Ibnu Hajar]

Dan penguasa yang adil akan diistimewakan oleh Allah balasannya, yaitu dinaungi dalam naungannya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan Allah.
Nabi betsabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، …
“Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:
Imam yang adil …

Dan wajib bagi penguasa untuk memilih dan menyerahkan semua urusan kepada pembantunya yang sesuai dengan keahliannya.
Jika tidak, hal ini menjadi malapetaka yang bahaya.
Rasulullah صلى الله هليه وسلم bersabda:

إِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ
قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ
قَالَ إِذَا أُسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ
فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ
“Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘
Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR Al-Bukhory, 6015)

Ya Alloh jagalah para pemimpim kami.
Bimbinglah mereka kepada yang haq.
Mudahkanlah mereka berpegang kepada yang haq. Mudahkanlah mereka menjalankan amanah yang haq pula..
Amin…

🍃Abu Yusuf Masruhin, Lc

✏📚✒.🌾…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.