🔥Amal Yang Paling Utama… 🍒

🔥Amal Yang Paling Utama… 🍒

✍Diantara yang membedakan antara orang berilmu dan orang yang jahil adalah dalam memilih amalan. Karena amal itu berbeda-beda keutamaan dan fadilahnya. Inilah yang disebut dengan siyasah amal. Mereka yang berilmu akan berusaha memilih amal yang paling ringan dan mudah pelaksanaannya, tetapi paling besar pahalanya.

Sebagaimana Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah mengajarkan istrinya Juwairiyah binti Harits, ketika berdzikir sepanjang pagi sampai pertengahan siang di masjid, beliau bertanya kepadanya,”Kamu terus menerus seperti ini dari tadi?” Dia menjawab,”Iya”. Kemudian Nabi berkata,”Maukah engkau aku ajari beberapa kalimat yang kau ucapkan bisa menandinginya timbangannya, yaitu

سُبحانَ اللَّهِ عددَ خلقِهِ (ثلاث مرات) سُبحانَ اللَّهِ رِضا نفسِهِ (ثلاث مرات) سُبحانَ اللَّهِ زِنةَ عرشِهِ (ثلاث مرات) سُبحانَ اللَّهِ مِدادَ كلماتِهِ (ثلاث مرات).
(HR Buhory dalam Adabul Mufrod, 503 disohihkan Al-Albany)

Di dalam Al Qur’an maupun Assunnah, Allah dan Rasul-Nya telah menjelaskan macam-macam ibadah yang memiliki keutamaan serta kedudukan yang berbeda-beda. Beberapa diantaranya ada yang wajib dikerjakan, ada yang sunah dan ada pula yang menjadi pondasi atau asas. Tak hanya itu saja karena beberapa ibadah pun memiliki keterkaitan yang erat sehingga menjadi sebuah syarat atau rukun sebelum melakukan ibadah yang lainnya.
Karena perbedaan-perbedaan tersebut, beberapa dari para sahabat banyak yang menanyakan kepada Rasulullah perihal ibadah atau amalan yang paling utama dalam islam.

Dari Abi Amr Asy-Syaibany berkata,

حَدَّثَنِي صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ -وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى دَارِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ
قَالَ : سَأَلْتُ النَّبِيَّ : أَيُّ العَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ ؟ قَالَ : ((الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا)). قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : ((بِرُّ الوَالِدَيْنِ)). قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قال : ((الجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ)). قَالَ : حَدَّثَنِي بِهِنَّ رَسُولُ اللهِ , وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
“Telah bercerita kepada saya pemilik rumah ini –dia mengisyaratkan dengan tangannya ke rumah Abdullah bin Mas’ud berkata :
Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam:
“Amal perbuatan apa yang paling dicintai Allah ?”.
Beliau menjawab : “Shalat pada waktunya”.
Saya bertanya : “Kemudian apa ?”.
Beliau menjawab : “Berbakti kepada kedua orang tua”.
Saya bertanya : “Kemudian apa ?”.
Beliau menjawab : “Jihad di jalan Allah”.
Ibnu Mas’ud berkata : “Rasulullah menyampaikan ketiganya kepada saya, jika saya menambah pertanyaan tentangnya, niscaya beliau menjawabnya”. Muttafaq Alaih.

Dalam penelitian Ibnu Hajar al Asqalani, ada banyak hadis yang menunjukkan bahwa shalat lebih utama ketimbang sedekah, namun pada saat yang sama tak sedikit hadis yang menjelaskan jika sedekah lebih utama dibanding shalat.
Pernyataan pernyataan berbeda dari sumber yang sama, Rasulullah. Dan hadis hadis tersebut sama sama berstatus sahih. Jadi, apakah amal yang paling utama?
Dalam disiplin ilmu hadis, jika ada dua atau lebih hadis yang redaksi masing masing menunjukkan makna berbeda beda (bahkan bertentangan)—pada tema yang sama—dan hadis hadis tersebut sama sama berstatus sahih maka tindakan yang pertama dipilih adalah al jam’u atau kompromi makna, yaitu (di antara caranya) dengan menelaah asbab al wurud atau konteks hadis hadis yang dimaksud. Metode al jam’u memberikan kesimpulan bahwa tiap tiap hadis yang tampaknya saling bertentangan adalah benar menurut asbab al wurud masing masing.

Selanjutnya Ibnu Hajar al Asqalani berkata, perbedaan jawaban Rasulullah tentang amal yang paling utama di atas lahir dari perbedaan kondisi sahabat si penanya. Rasulullah mempertimbangkan apa sebenarnya yang dibutuhkan si penanya; apa kecenderungan yang disukai si penanya; apa yang pantas dan prioritas bagi kehidupan si penanya. Dengan begitu, jawaban Rasulullah atas setiap pertanyaan tepat sasaran, mudah diterima, dan tidak memberatkan.
Selain pertimbangan kondisi pribadi si penanya, kondisi sosial juga menjadi pertimbangan Rasulullah dalam menjawab pertanyaan. Pada masa permulaan Islam, yang menjadi prioritas adalah memperjuangkan eksistensi dan stabilitas Islam. Maka, amal yang paling utama pada masa itu adalah jihad, menjaga dan mempertahankan diri dari segala sesuatu yang tak menghendaki benih benih Islam tumbuh dan berkembang. Tatkala eksistensi dan stabilitas itu telah diraih, saat shalat dan ritual lain dijalankan tanpa rasa takut dan tiada lagi intimidasi dari orang orang Quraisy, maka jihad bukan lagi prioritas. Tak lagi menjadi amal yang paling utama.”(Mukaddimah Fathul Bary, Syarh Shohih Al-Bukhiry)

Semoga bermanfaat

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

✏📚✒ 🌿..🌱

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.