💧Nafsumu, peganglah tali kekangnya … !

💧Nafsumu, peganglah tali kekangnya … !

✍Allah menciptakan Adam dan keturunannya dengan nafsunya.
Ada dua macam nafsu yang menyertai manusia, yang jelek dan yang baik.
Sebagaimana perkataan Nabi Yusuf عليه السلام,

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚإِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚإِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Yusuf : 53)

Allah berfirman,

فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang bertakwa.” (An-Najm: 32)

Sehingga jihad melawan nafsu merupaka jihad yang paling agung.
Dan kebanyakan manusia tidak memahami maknanya, karena mereka tidak memberikan kebutuhan-kebutuhan nafsunya sama sekali. Hal ini salah karena 2 hal,
⏺Ketika seorang menghalangi pemenuhan nafsunya terhadap hal yang mubah, akhirnya dia mendapatkan ganti yang lebih besar, seperti pujian banyak manusia. Tetapi hal itu menjerumuskan kepada perilaku yang tidak benar sehingga dia memandang dirinya lebih baik dari siapapun.
⏺Nafsu itu harus dijaga dengan memberikan hal-hal yang dapat meluruskannya. Dan hal yang harus dikekang itu kebanyakan sesuatu yang menyenangkan jiwa. Karena kita bukan pemilik penuh nafsu, tapi sekedar perwakikan dan tempat penitipan, sehingga mencegah memenuhinya secara total itu dapat membahayakan. Sehingga ketika seseorang mencegahnya secara keras akan membuat lari, dan ketika ketika sudah lari dari jalan yang lurus akan sulit untuk mengembalikannya.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

لكلِّ عمل شِرَّة، ولكلِّ شِرَّة فَتْرة، فمن كانت فَتْرته إلى سنَّتي، فقد أفلح، ومن كانت إلى غير ذلك، فقد هلك
“Setiap amal itu ada masa semangat dan masa lemahnya. Barang siapa yang pada masa lemahnya ia tetap dalam sunnah (petunjuk) ku, maka ia telah beruntung. Namun barang siapa yang beralih kepada selain itu berarti ia telah celaka.” (HR. Ahmad, 3782 dishohihkan Al-Albany dalam Al-Jami’, 2152).

Sehingga, seharusnya seseorang itu memberikan hak nafsunya sesuai porsi yang pas untuknya.
Allah memerintahkan untuk melakukan segala sesuatu secara seimbang dan tanpa melampaui batas.
Allah berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Al-A’raf: 31)

Allah berfirman,

فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang bertakwa.” (An-Najm: 32)

Firman Allah:

وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Al-An’am: 141).

Jihad melawan nafsu adalah seperti jihadnya orang sakit yang berakal sehat, sehingga mendorongnya untuk melakukan hal yang tidak disukainya dengan minum obat yang pahit karena besarnya keinginan dia untuk sembuh dan sehat.
Demikian pula seorang mukmin yang berakal cerdas, dia tidak akan membiarkan dan mengabaikan kendali nafsunya, tetapi dia melonggarkannya sekali waktu dengan tetap memegang tali kendalinya dengan kuat.
Jika nafsunya berada di jalan benar maka dia tidak menekannya, tetapi jika suatu waktu melenceng dan bermalas-malasan maka dia mencabuknya untuk meluruskannya.

Jika nafsunya dalam kondisi congkak dan condong kepada dosa, dengan segera ditakutinya dan diperingatkan dari hukuman Allah, sebagaimana firmannya,

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَخَذَ اللَّهُ سَمْعَكُمْ وَأَبْصَارَكُمْ وَخَتَمَ عَلَى قُلُوبِكُمْ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِهِ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ ثُمَّ هُمْ يَصْدِفُونَ
Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?” Perhatikanlah, bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga).”(Al-An’am: 46)

Atau diperingatkan dari hukuman maknawi, seperti dalam firman Allah,

سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الأرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لا يُؤْمِنُوا بِهَا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الرُّشْدِ لا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ
“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat (Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai daripadanya.”(Al-A’raf: 146)

Inilah bentuk jihad melawan nafsu.
Dan dari sini, kita memahami, mengapa jihad melawan nafsu itu merupakan jihad yang besar..?!
Wallohu a’lam

Disarikan dari kitab Shoidul khotir, Ibnul Jauzy رحمه الله

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

✒📚✏.💧…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.