CARA MENYELAMATKAN UMAT DARI BERBAGAI FITNAH (KEJELEKAN) – Muqaddimah Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili -hafizhahullaah- (Bagian Ketiga/Terakhir)

CARA MENYELAMATKAN UMAT DARI BERBAGAI FITNAH (KEJELEKAN)

[Muqaddimah Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili -hafizhahullaah- (Bagian Ketiga/Terakhir)]

[1]- Berbagai fitnah (kejelekan) yang menimpa umat ini: tidak mungkin bisa dihilangkan hanya dalam waktu satu atau dua hari saja. Maka hendaknya kita membuka mata terhadap realita, dan janganlah kita hidup dalam khayalan semata.

[2]- Kita butuh waktu bertahun-tahun untuk mengeluarkan umat ini dari berbagai fitnah, dan kita harus memiliki program-program yang jelas dan metode-metode yang benar. Yaitu dengan cara: mendirikan sekolah-sekolah, pondok-pondok pesantren yang mengajarkan kepada manusia: agama yang benar dalam bidang ‘aqidah, ibadah, dan akhlak. Kita juga perlu mendirikan markas-markas dakwah (yang berisi para da’i) yang nantinya akan: berdakwah dengan cara yang syar’i sebagai usaha untuk menanggulangi berbagai fitnah tersebut, menghilangkan berbagai syubhat (kerancuan dalam masalah agama), dan mendakwahi umat dengan menggabungkan antara hikmah, dan nasehat yang baik, serta berdebat dengan cara yang baik -sebagaimana yang Allah perintahkan kepada kita-.

[3]- Selain itu, kita juga perlu untuk mengatasi orang-orang yang berani (bicara agama tanpa ilmu); dengan cara menasehati pemerintah agar mencegah mereka. Karena sebagian orang tidak bisa dinasehati dengan dibawakan ayat-ayat Al-Qur’an (dalil-dalil), akan tetapi bisa dihentikan (tindakan jeleknya) dengan bantuan penguasa. Kita harus menggunakan wasilah ini dalam mencegah mereka dari menambah fitnah (kerusakan) dalam tubuh umat ini.

[4]- Kemudian setelah itu: kita menghadap kepada Allah agar Allah memperbaiki keadaan umat ini, kita berdo’a kepada Allah dengan sungguh-sungguh ketika kita berada di keheningan (malam), juga dalam shalat-shalat kita, dan dalam sujud-sujud kita, kita minta agar Allah membebaskan umat ini dari berbagai fitnah (kejelekan), dan agar Dia mengembalikan umat ini kepada agama dan ‘aqidah mereka.

[5]- Dan betapapun besar dan banyak fitnah (kejelekan) yang menimpa umat ini; maka akan tetap ada sekelompok dari umat ini yang berada di atas kebenaran; tidak berbahaya bagi mereka orang-orang yang tidak mau menolong mereka -sebagaimana dikabarkan oleh Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Dan mereka adalah Ahlus Sunnah.

Terkadang jumlah mereka sedikit pada suatu negeri dan banyak di negeri yang lainnya. Terkadang mereka kuat keilmuannya dan terkadang juga melemah. Akan tetapi intinya: mereka akan tetap ada dalam umat ini.

Inilah yang dijanjikan oleh Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, beliau bersabda:

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ [مَنْصُوْرِيْنَ]، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَـهُمْ [أَوْ خَالَفَهُمْ]، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذٰلِكَ

“Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berada di atas kebenaran [mereka ditolong (oleh Allah)], tidak membahayakan mereka: orang yang membiarkan (tidak menolong) mereka [atau yang menyelisihi mereka], sampai datang perintah Allah dan mereka tetap berada dalam keadaan tersebut.”

[6]- Maka: Apa tugas kita? Tugas kita adalah: membantu kelompok ini; baik cara maknawi maupun materi, kita memberi semangat kepada mereka, dan mendo’akan taufik untuk mereka. Maka ini adalah perkara yang penting untuk perbaikan umat.

Kita memperingatkan orang-orang yang menyelisihi mereka dan mengarahkan orang-orang tersebut agar mengambil ilmu dari Ahlus Sunnah. Masing-masing dari kita wajib untuk merasa memiliki tanggung jawab (untuk mengarahkan manusia kepada Ahlus Sunnah).

Jika engkau mengarahkan manusia untuk mengambil ilmu dari fulan -yang merupakan seorang da’i Ahlus Sunnah-; maka anda bukan berdakwah mengajak kepada si fulan tersebut, akan tapi mengajak kepada agama Allah.

Maka wajib atas masing-masing dari kita untuk mengarahkan manusia agar menghadiri majelis-majelis para da’i Ahlus Sunnah, karena Ahlul Bid’ah mereka saling bekerja sama dan saling mewasiatkan untuk mengambil ilmu dari sesama mereka.

[7]- Dan di antara bentuk kejujuran, dan menjelaskan kenyataan -yang layak untuk disampaikan- adalah: apa yang saya rasakan berupa kerjasama di antara para da’i Ahlus Sunnah di negeri ini, dan saling tolong-menolong di antara mereka dalam kebaikan. Maka ini di antara keistimewaan saudara-saudara kita di negeri ini -alhamdulillaah-, berupa saling bahu-membahunya mereka dalam berdakwah mengajak kepada Allah.

Bahkan (selain kerjasama di antara para da’i) kami juga menyaksikan kerjasama antara orang kaya dengan da’i; orang kaya tersebut membantu sekolah milik da’i dan lainnya.

Maka bersyukurlah kepada Allah atas kerjasama (yang ada pada kalian) ini dan saling bahu-membahunya kalian dalam kebaikan.

Di negeri ini saya melihat tawadhu’ di antara para penuntut ilmu dan keceriaan dalam wajah mereka. Maka ini adalah kebaikan yang besar.

Sehingga kami melihat pengaruh dakwah di negeri ini terlihat setiap harinya. Dan Wallaahi (demi Allah), sungguh membekas pada diri ini ketika saya melihat masjid kecil di bandara: ada orang-orang yang mereka bukan penuntut ilmu, dan ternyata celana mereka tidak isbal, mereka merapikan shaff (barisan shalat),dan menutup celah-celah barisan, dan saya melihat mereka shalat sesuai dengan Sunnah. Maka ini adalah di antara pengaruh dakwah.

Setiap kali kami mengunjungi negeri ini; maka terlihat perkembangan dakwahnya. Maka ini -insya Allah- menunjukkan bahwa: dakwah Ahlus Sunnah di negeri ini adalah diberkahi.

[8]- Maka, kita berdo’a kepada Allah agar memberikan kepada kita: taufik untuk melakukan berbagai kebaikan, dan agar Dia menerima amalan-amalan kita.

-ditulis dengan ringkas oleh: Ahmad Hendrix-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.