💡 SYARAH HADITS KE 30 ARBA’IIN ANNAWAWIYYAH

💡 SYARAH HADITS KE 30
ARBA’IIN ANNAWAWIYYAH

الحديث الثلاثون
بشرح و تعليق : الشيخ محمد بن صالح العثيمين

Ditulis : Imam An-Nawawy
Syarah : Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin

📗 Hadits Ke 30:

عن أبي ثعلبة الخشني جرثوم بن ناشر رضي الله عنه، عن رسول الله ، قال: { إن الله تعالى فرض فرائض فلا تضيعوها، وحد حدوداً فلا تعتدوها، وحرم أشياء فلا تنتهكوها، وسكت عن أشياء رحمةً لكم غير نسيان فلا تبحثوا عنها }.

Dari abu Tsa’labah Al-Khusyani-Jurtsum bin Nasyir dari Rasulullah, beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah telah memfardhukan beberapa perkara, maka janganlah kalian menyia-nyiakannya, dan dia telah membuat batas-batas maka janganlah kalian melampauinya, dan dia telah mengharamkan beberapa perkara maka janganlah kalian melanggarnya, dan Dia mendiamkan sejumlah perkara sebagai rahmad nagi kalian bukan karena lupa, maka janganlah kalian mencari tahu tentangnya “

(Hadis hasan riwayat Daruquthni dan lain-lain, hadits ini shahih secara makna tetapi didha’ifkan Syaikh Al-Albani rahimahullah, karena ada keterputusan antara makhul dengan Abu Tsa’labah, Ghayatul Muram)

شرح :

قوله : { إن الله فرض فرائض فلا تضيعوها } أي: أوجب إيجاباً حتمياً على عباده فرائض معلومة ولله الحمد كالصلوات الخمس والزكاة والصيام والحج وبر الوالدين وصلة الأرحام وغيرذلك.

{ فلا تضيعوها } أي: لا تهملوها إما بالترك أو بالتهاون أو ببخسها أو نقصها.

Penjelasan:

Sabda beliau: “Sesungguhnya Allah memfardhukan beberapa perkara “, maksudnya adalah Allah telah mewajibkan berbagai kewajiban yang pasti telah dimaklumi- kepada para hamba-hamba-Nya.

Segala puji bagi Allah, seperti shalat lima waktu, zakat, puasa, haji, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung jalinan silaturahmi, dan kewajiban-kewajiban lainnya. “

Maka janganlah kalian menyia-nyiakannya”, maksudnya menelantarkan, baik dengan meninggalkannya, meremehkannya, menyelong, atau menguranginya.

{ وحد حدوداً } أي: أوجب واجبات وحددها بشروط وقيود.

{ فلا تعتدوها } أي: لا تتجاوزوها.

“Dan Dia membuat batas-batas “ maksudnya adalah mewajibkan beberapa kewajiban dan membatasinya dengan berbagai syarat dan ikatan.“
Maka janganlah melampauinya “, yakni melanggarnya.

{ وحرم أشياء فلا تنتهكوها } حرم أشياء مثل الشرك وعقوق الوالدين وقتل النفس التي حرمها الله إلا بالحق والخمر والسرقة وأشياء كثيرة.

“Dan dia mengharamkan beberapa perkara, maka janganlah kalian melanggarnya.” Yakni mengharamkan berbagai perkara, seperti syirik, durhaka terhadap kedua orang tua, membunuh jiwa yang telah Allah haramkan kecuali dengan cara yang benar, meminum khamr/bir, mencuri dan perkara-perkara yang lainnya.

{ فلا تنتهكوها } أي: فلا تقعوا فيها، فإن وقوعكم فيها انتهاك لها.

“Janganlah kalian melanggarnya.” Yakni janganlah kalian terjerumus kedalamnya, karena terjerumusnya kalian kedalam perkara-perkara tersebut berarti melanggarnya.

{ وسكت عن أشياء } أي: أي لم يفرضها ولم يوجبها ولم يحرمها.

{ رحمةً بكم } من أجل الرحمة والتخفيف عليكم.

{ غير نسيان } فإن الله تعالى لا ينسى كما قال موسى عليه الصلاة والسلام:  لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى  [طه:52]

“Dan dia mendiamkan berbagai perkara.” Maksudnya adalah dia tidak memfardhukan, tidak pula mengharamkan.

“Sebagai rahmat bagi kalian.”
Yakni sebagai rahmat dan keringanan bagi kalian. (bukan karena lupa), karena Allah tidak pernah lupa, sebagaimana perkataan Musa:
“Rabbku tidak akan salah dan tidak (pula) lupa.” ( Thaahaa: 52)

فهو تركها جل وعلا رحمةً بالخلق، وليس نسيان لها.
{ فلاتسألوا عنها } أي: لا تبحثوا عنها.

Jadi dia tidak menyebutkan hal itu sebagai rahmat bagi hamba-hamba-Nya.
Bukan karena lupa teradapnya.
“Maka janganlah kalian bertanya-tanya tentangnya.”

فوائد هذا الحديث:

Hadits ini mengandung beberapa faedah di antaranya adalah:

حسن بيان الرسول ، حيث ساق الحديث بهذا التقسيم الواضح البين.

1. Baiknya penjelasan Rasulullah, yang beliau menyebutkan hadits ini dengan pembagian yang sangat terang dan jelas.

ومن فوائد هذا الحديث: أن الله تعالى فرض على عباده فرائض أوجبها عليهم على الحتم واليقين، والفرائض قال أهل العلم: أنها تنقسم إلى قسمين:

2. Allah telah mewajibkan kewajiban kepada para hamba-hamba-Nya dan mewajibkan perkara-perkara tersebut dengan pasti dan menyakinkan. Sebagaimana yang dinyatakan para ulama bahwa perkara yang fardhu ada dua macam:

فرض كفاية، وفرض عين. فأما فرض الكفاية: فإنه ما قصد فعله بقطع النظر عن فاعله، وحكمه إذا قام به من يكفي سقط عن الباقين، وفرض العين هو: ما قصد به الفعل والفاعل ووجب على كل أحد بعينه.

فأما الأول : فمثله الآذان والإقامة وصلاة الجنازة وغيرها.

وأما الثاني: فمثل الصلوات الخمس والزكاة والصوم والحج.

a. Fardhu kifayah
b. Fardhu ‘Ain

Fardhu kifayah: kewajiban yang dituntut untuk dilakukan terlepas dari orang yang melakukan. Hukumanya: jika ada sejumlah orang yang dianggap cukup melakukan perkara tersebut, maka gugurlah kewajiban itu dari yang lainnya.

Sedangkan fardhu ‘Ain: perkara yang dimaksudkan dengannya adalah perbuatan dan pelakunya sekaligus. Perbuatan itu wajib untuk dilakukan setiap orang. Yang pertama (fardhu kifayah) contohnya adalah adzan, iqamat, shalat jenazah dan laimn-lain. Sedangkan yang kedua (fardhu ‘Ain) contohnya adalah shalat lima waktu, zakat, puasa dan haji.

وقوله: { وحد حدوداً } أي: أوجب واجبات محددة ومعينة بشروطها.

Sabdanya: “Dia telah membuat batas-batas “, yakni mewajibkan berbagai kewajiban yang sudah tertentu dan terikat dengan syarat-syaratnya.

فيستفاد من هذا الحديث: أنه لا يجوز للانسان أن يتعدى حدود الله، ويتفرع من هذه الفائدة أنه لا يجوز المغالاة في دين الله، ولهذا أنكر النبي  على الذين قال أحدهم: ( أنا أصوم ولا أفطر )، وقال الثاني: ( أنا أقوم ولا أنام )، وقال الثالث: ( أنا لا أتزوج النساء ) أنكر عليهم وقال: { وأما أنا فأصلي وأنام، وأصوم وأفطر، وأتزوج النساء، فمن رغب عن سنتي فليس مني }.

3. Seseorang tidak diperbolehkan melanggar batas-batas Allah. Bercabang dari faedah ini, tidak bolehnya bersikap ghuluw dalam agama Allah. Oleh karena itu, Nabi mengingkari beberapa orang shahabatnya yang salah seorang diantara mereka mengatakan: “Saya akan terus berpuasa dan tidak akan berbuka.”
Orang kedua mengatakan: “Saya akan terus bangun (untuk shalat atau ibadah lainnya) dan tidak akan tidur.”
Orang ketiga mengatakan: “ saya tidak akan mengawini wanita.”
Maka Nabi mengingkari mereka.
Beliau bersabda: “Adapun saya, saya shalat dan tidur, saya berpuasa dan berbuka, dan saya mengawini para wanita. Maka barang siapa membenci sunnahku maka dia bukan dari golonganku.”

ومن فوائد الحديث: تحريم انتهاك المحرمات لقوله: { فلا تنتهكوها } ثم إن المحرمات نوعان كبائر وصغائر:

فالكبائر: لا تغفر إلا بالتوبة، والصغائر: تكفرها الصلاة والحج والذكر وما أشبه ذلك

4. Melanggar perkara-perkara yang diharamkan hukumnya haram, berdasarkan sabda beliau: “ janganlah kalian melanggarnya.” Kemudian perkara yang haram itu ada dua macam:
a. Dosa-dosa besar
b. Dosa-dosa kecil. Dosa-dosa besar tidak diampuni kecuali dengan taubat, sedangkan dosa kecil dapat gugur dengan ibadah shalat, haji, dzikir dan ibadah-ibadah lainnya.

ومن فوائد الحديث: أن ما سكت الله عنه فهو عفو، فإذا أشكل علينا حكم الشي هل هو واجب أم ليس بواجب ولم نجد له أصلاً في الوجوب؛ فهو مما عفا الله عنه، وإذا شككنا هل هذا حرام أم ليس حراماً وهو ليس أصله التحريم؛ كان هذا أيضاً مما عفا الله عنه.

5. Bahwa apa-apa yang Allah diamkan adalah perkara-perkara yang dimaafkan. Oleh karena itu jika kita mengalami kesulitan dalammenentukan hukum sesuatu, apakah hukmnya wajib ataukah tidak wajib, dan kita tidak mendapatkan suatu dasar untuk mewajibkannya, maka itu merupakan perkara yang dimaafkan. Dan jika kita diliputi keraguan, apakah ini halal atau tidak. Dan hukum asal itu bukanlah suatu keharaman, maka inipun termasuk hal-hal yang dimaafkan.

ومن فوائد الحديث: إنتفاء النسيان عن الله عز وجل، وهذا يدل على كمال علمه وأن الله عز وجل بكل شئ عليم فلا ينسى ما علم ولم يسبق علمه جهلاً، بل هو بكل شئ عليم أزلاً وأبداً.

6. Meniadakan sifat lupa dari Allah.
Hal ini menunjukkan kesempurnaan ilmunya ridak didahului oleh kebodohan. Namun dia maha mengetahui segala sesuatu sejak dulu kala dan untuk salama-lamanya.

ومن فوائد الحديث: أنه لا ينبغي في البحث والسؤال إلا ما دعت إليه الحاجة، وهذا في عهد النبي ؛ لأنه عهد التشريع ويخشى أن أحداً يسأل عن شئ لم يجب فيوجبه من أجل مسألته أو لم يحرم فيحرم من أجل مسألته ولهذا نهى النبي  عن البحث عنها فقال: { فلا تبحثوا عنها }.

7. Tidak sepatutnya membahas dan bertanya kecuali hal-hal yang memang perlu untuk ditanyakan. Ini berlaku pada zaman Nabi karena zaman beliau ini zaman diturunkannya syari’at karena dikhawatirkan seseotang bertanya tentang sesuatu yang tidak wajib.
Lalu perkara itu diwajibkan lantaran pertanyaan yang ia lontarkan, atau hal yang tidak diharamkan namun akhirnya diharamkan dengan sebab pertanyaan yang ia lontarkan.

Maka Nabi melarang untuk mencari tahu tentang hal itu, beliau bersabda:

“Janganlah kalian mencari tahu tentangnya”

(In Syaa Allah Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.