Tipu daya yang manis tapi membahayakan

🔥Tipu daya yang manis tapi membahayakan

✍ Istidroj yaitu disaat seorang hamba berbuat maksiat, tetapi Alloh membukakan pintu kebaikan untuknya. Sehingga ketika dia terlena dengan hal itu tiba-tiba datanglah adzab kepadanya.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Jika engkau melihat bahwa Alloh memberikan kepada seorang hamba segala yang dia senanginya dari urusan dunia, padahal ia banyak melakukan kemaksiyatan maka ketahuilah bahwa itu adalah istidroj.
Selanjutnya beliau membacakan firman Alloh:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”(Al-An’am : 44)

Sebagian para Salaf mengatakan,
“Jika engkau melihat Alloh terus saja mencurahkan nikmatnya kepadamu, sedangkan engkau masih terus saja berbuat maksiat kepadanya, maka waspadalah. Sesungguhnya yang demikian adalah bentuk iatidroj Alloh terhadapmu.

Alloh berfirman dalam surat Az-Zukhruf,

(33). وَلَوْلَا أَنْ يَكُونَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً لَجَعَلْنَا لِمَنْ يَكْفُرُ بِالرَّحْمَٰنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِنْ فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ
Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya.

(34). وَلِبُيُوتِهِمْ أَبْوَابًا وَسُرُرًا عَلَيْهَا يَتَّكِئُونَ
Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya.

(35). وَزُخْرُفًا ۚوَإِنْ كُلُّ ذَٰلِكَ لَمَّا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚوَالْآخِرَةُ عِنْدَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِينَ
Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”

Dan Alloh telah membantah fikiran orang-orang yang menyangka bahwa ukuran kemulyaan dan kerendahan itu dari kenikmatan dunia.

Alloh berfirman dalam Al-Fajr,

15). فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”.

(16). وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ
Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.

Itu semuanya tidak benar.
Artinya,”Tidak setiap yang Aku (Allph) luaskan rezekinya berarti Aku memuliakannya. Sebaliknya tidak setiap orang yang Aku beri cobaan dan Aku sempitkan rezekinya berarti Aku menghinakannya.
Yang sebenarnya adalah Aku memberikan bencana kepada orang pertama dengan nikmat, dan memuliakan orang yang kedua ini dengan cobaan.

Lalu Alloh mementahkam argumen mereka lebih detail lagi dengan firmannya yang berikutnya dalam Al-Fajar,

(17). كَلَّا ۖبَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ
Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim,

(18). وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,

(19). وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَمًّا
dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil),

(20). وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا
dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.

Itulah kesalahan fatal kalian.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Sesungguhnya Alloh memberikan dunia ini kepada orang yang dicintainya maupun kepada orang yang tidak dicintainya.
Namun Alloh tidak akan memberikan iman kecuali kepada orang yang dicintainya.”(HR Al-Bukhory dalam Adabul Mufrod, 275 dishohihkan Al-Albany)

Wallohu a’lam

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

✏📚✒.🔥…💧

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.