KHILAFAH BUKAN TUJUAN DAKWAH

KHILAFAH BUKAN TUJUAN DAKWAH

Dakwah Ilallah adalah jalan semua rasul dan para pengikut mereka, untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan kepada cahaya yang terang benderang, dari kekufuran kepada keimanan, dari kesyirikan kepada tauhid, dan dari neraka ke surga.
Dakwah para rasul ini berlandaskan asas-asas yang wajib diikuti oleh setiap juru dakwah, agar dakwah mereka membuahkan hasil yang baik, barangsiapa yang berdakwah tanpa memakai asas-asas dakwah para rasul maka dakwah itu tidak bernilai sama sekali di sisi Alloh dan menjadikan daya upaya yang dicurahkan padanya sia-sia.
Di antara asas-asas dakwah yang benar adalah hendaknya berlandaskan ilmu yang diiringi dengan amalan, ikhlash kepada Alloh bukan untuk mendapatkan dunia dan kedudukan, mendahulukan hal yang paling penting yaitu memperbaiki aqidah dengan mengikhlaskan ibadah semata kepada Alloh dan melarang dari segala macam kesyirikan, inilah jalan dakwah semua rasul sebagaimana dalam firman Alloh ( :
( وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ (
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, “ ( An-Nahl : 36 ).
Setiap dakwah yang tidak ditegakkan atas asas-asas ini, dan tidak mengikuti manhaj dakwah para rasul, maka akan berakhir dengan kesia-siaan, dan hanya menghabiskan waktu dan tenaga tanpa faidah, sebagai bukti yang kongkrit terhadap hal ini adalah realita jamaah-jamaah dakwah masakini yang membuat manhaj dakwah sendiri yang menyelisihi manhaj dakwah para rasul, mereka lalaikan masalah yang prinsip, yaitu seruan penegakan aqidah, mereka justru berkutat habis dalam memperjuangkan masalah lainnya.
Di antara jama’ah-jama’ah dakwah yang menyelisihi manhaj para rasul adalah jama’ah dakwah yang mengkonsentrasikan dakwahnya untuk merebut kekuasaan dan mendirikan Khilafah Islamiyyah ( negara Islam ) , model dakwah seperti nampak dengan jelas pada Ikhwanul Muslimin ,Hizbut Tahrir, NII, dan yang sejalan dengan mereka.
Demikian banyak syubhat yang mereka hembuskan ke dalam tubuh kaum muslimin untuk melariskan dakwah mereka, maka kami melihat pentingnya bantahan kepada mereka dan penjelasan tentang penyimpangan mereka dari dakwah yang haq.

MANHAJ DAKWAH PARA NABI

Para nabi adalah manusia-manusia terbaik yang dipilih oleh Alloh ( sebagai penyampai risalahNya kepada seluruh umat manusia, mengingatkan mereka kepada hikmah penciptaan mereka yaitu agar mereka beribadah kepada Alloh ( semata, mengagungkanNya, mensucikanNya dari segala kekurangan , sekutu dan tandingan-tandingan bagiNya, Allah ( berfirman :
(وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ(
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. “ ( Adz-Dzariyyat : 56 ).
Karena inilah maka Tauhid Uluhiyyah adalah prioritas utama dari dakwah semua rasul sejak rasul Yang pertama Nuh ( hingga yang terakhir Muhammad ( dan merupakan sebab utama pergulatan semua rasul dengan kaumnya, dan merupakan sebab pergulatan semua umat manusia hingga sekarang dengan pewaris para rasul sebagai ujian bagi mereka untuk meniti kedudukan yang tinggi di sisi Alloh ( . Alloh ( berfirman :
( وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ(
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). “ ( An-Nahl : 36 ).
Maka tauhid uluhiyyah adalah da’wah seluruh para nabi, maka tauhid adalah asas terpenting dari risalah yang mereka bawa kepada umat manusia di semua keadaan,tempat dan zaman. Inilah jalan yang wajib ditempuk di dalam berdakwah kepada manusia, dan sunnah yang digariskan oleh Alloh ( kepada para rasulNya dan kepada para pengikut mereka yang hakiki, tidak boleh diubah dan tidak boleh diganti dengan yang lainnya.

REAKSI UMAT PARA RASUL TERHADAP DAKWAH TAUHID

Semua nabi memprioritaskan dakwah mereka kepada tauhid, mengajak kaumnya untuk beribadah kepada Alloh ( semata dan meninggalkan segala macam kesyirikan, tetapi kaum-kaum mereka – kecuali yang diberi hidayah oleh Alloh ( – tidak mudah menerima seruan setiap nabi mereka, bahkan demikian sangat ejekan, cemoohan, dan pendustaan mereka kepada da’wah setiap nabi mereka, sebagaimana dikisahkan oleh Alloh ( dalam kitabNya :
( وَكَمْ أَرْسَلْنَا مِنْ نَبِيٍّ فِي الْأَوَّلِينَ.وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ(
“Berapa banyaknya nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu. Dan tiada seorang nabipun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. “ ( Az-Zukhruf : 6-7 ).
Demikian sangat ejekan, cemoohan, dan pendustaan setiap umat kepada da’wah setiap nabi mereka, yang dirasakan sakitnya oleh setiap nabi mereka lebih dari tikaman pedang dan siksaan yang keji.
Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah ( : “ Wahai Rasulullah adakah saat yang lebih berat bagimu dibandingkan dengan saat perang Uhud ? “
Rasulullah ( menjawab : “ Sungguh aku telah menerima perlakuan yang menyakitkan dari kaummu, dan saat yang paling menyakitkan bagiku adalah pada hari ‘Aqabah, waktu itu aku berdakwah kepada kaum Abdu Yalail bin Abdu Kilab, mereka tidak menjawab seruanku, maka pergilah aku meninggalkan mereka dalam keadaan gundah … “ ( Muttafaq Alaih, Shahih Bukhary : 3231 dan Shahih Muslim 3/1421 ).
Kitab-kitab sirah menyebutkan ejekan dan cemoohan kaum Abdu Yalail bin Abdu Kilab dari Tsaqif kepada Rasulullah ( , seorang dari mereka berkata : “ Jikasaja Alloh mengutusmu “, orang kedua berkata : “ Apakah Alloh tidak mendapatkan orang yang diutus selainmu ?! “, orang ketiga berkata : “ Aku tidak mau bicara denganmu selama-lamanya, jika benar kamu adalah utusan Alloh sebagaimana yang kamu omongkan, maka kamu lebih agung dari kuajak bicara, dan kamu berdusta kepada Alloh maka tidak pantas kamu kuajak bicara “. Maka pergilah Rasulullah ( meninggalkan mereka dalam keadaan gundah ( Bidayah wan Nihayah oleh Ibnu Katsir 3/135 dan Ad-Durar fi Ikhtisharil Maghazi was Siyar oleh Ibnu Abdil Barr hal. 35 ).
Syahid dari hadits dan kisah di atas bahwasanya apa yang diterima oleh para nabi dari kaumnya yang berupa ejekan dan cemoohan lebih berat bagi mereka dibandingkan dengan semua ujian, bahkan lebih berat dari peperangan yang berkecamuk yang menelan nyawa dan menumpahkan darah para sahabat mereka.
Pada waktu perang Uhud banyak para sahabat Rasulullah ( yang gugur, diantara mereka Mush’ab bin Umair dan Hamzah bin Abdul Muthallib paman Rasulullah ( , bahkan Rasulullah ( terluka dan patah gigi serinya.Bersamaan dengan itu Rasulullah ( melihat bahwa ujian terberat yang dia hadapi adalah ejekan dan cemoohan kaum Abdu Yalail pada hari Aqabah.
Karena inilah kita melihat bahwa panyak para da’i yang berpaling dari da’wah para nabi, berpaling dari da’wah tauhid, karena setiap da’i yang menempuh jalan ini akan menempuh jalan yang terjal, akan berhadapan dengan ibunya, bapaknya, saudaranya, para kekasihnya, dan para handai taulannya, bahkan dia akan berhadapan dengan masyarakatnya secara keseluruhan, berhadapan dengan permusuhan, ejekan dan cemoohan mereka.
Kami katakan kepada para aktivis Islam ini : Hentikan dulu langkah kalian ! , betapapun indah slogan-slogan kalian, dan betapapun lantang suara kalian meneriakkan nama Islam, tetapi sungguh kalian telah keluar dari jalan Alloh yang telah ditempuh oleh kafilah para nabi di dalam dakwah kepada tauhid dan mengikhlaskan agama semata-mata kepada Alloh, apapun alasan dan filsafat kalian sungguh kalian telah berpaling dari manhaj para nabi, kalian sibuk dengan sarana hingga mengorbankan tujuan…

HIKMAH MANHAJ DAKWAH PARA NABI

Seluruh nabi memulai dakwah mereka dengan memperbaiki aqidah umat mereka dan memerangi kesyirikan, hal ini mengandung hikmah yang agung di antaranya :
1. Kerusakan-gambar gambar yang berhubungan dengan aqidah manusia dari kesyirikan, khurafat, dan berbagai macam kesesatan lebih berbahaya beribu kali dibandingkan dengan kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan oleh jeleknya pemerintahan dan yang lainnya, jika ini tidak kita katakan dan kita yakini maka secara tidak langsung kita telah membodohkan seluruh para nabi, kita berlindung kepada Alloh dari kesesatan.
Kerusakan-kerusakan yang berhubungan dengan aqidah manusia ini terdapat pada rakyat dan penguasa, karena para penguasa di semua tempat dan zaman – kecuali yang beriman – tunduk kepada berhala-berhala dan kuburan-kuburan, membangunnya dan memberikan persembahan kepadanya, mereka meyakini bahwa berhala-berhala dan kuburan-kuburan itu memiliki kekuasaan gaib di atas kekuatan mereka yang bersifat materi.
Contoh yang paling jelas dari hal ini adalah seorang thaghut yang menuhankan dirinya yaitu Fir’aun yang berkata dengan congkaknya : “ Aku adalah tuhan kalian yang tertinggi “, Alloh mengkisahkan tentang ucapan kaumnya yang menunjukkan kecemburuan dan pembelaan Fir’aun kepada berhala-berhalanya : “ Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir`aun (kepada Fir`aun): “Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?” ( Al-A’raf : 127 ).
Tidakkah Engkau melihat bahwa thaghut terbesar di muka bumi yang mengaku dirinya tuhan dia tunduk dan menyembah berhala-berhala.
Demikian juga Namrudz raja Kaledonia yang mengaku dirinya tuhan membakar Ibrahim karena Ibrahim menghancurkan berhala-berhalanya.
Demikian juga raja-raja India dan Persia menyembah berhala-berhala dan api, raja-raja Romawi masalalu dan penguasa-penguasa Eropa dan Amerika masakini menyembah patung-patung dan salib, dan berapa banyak penguasa-penguasa kaum muslimin masalalu dan masakini yang terfitnah dengan orang-orang yang sudah mati, membangun kuburan-kuburan mereka, melakukan kesyirikan dengan memberikan kecintaan, harapan dan rasa takut kepada kuburan-kuburan ini.
Dari sini nampaklah kepadamu kebenaran dan kelurusan manhaj dakwah para nabi, dan pentingnya sikap yang tegas dari berhala-berhala dan kuburan-kuburan.
2. Sesungguhnya Alloh tidaklah mengutus para rasul melainkan untuk mengajarkan kebaikan kepada manusia dan memperingatkan mereka dari adzab Alloh dan semua kejelekan.
Merupakan hal yang dimaklumi bahwa kebaikan terbesar adalah tauhidullah yang akan membawa kepada kebahagiaan yang abadi di syurga dan kejelekan terbesar adalah kesyirikan yang akan membawa kepada adzab Alloh yang kekal.
3. Alloh tidak pernah membebani setiap pembawa risalahNya untuk mendirikan suatu daulah dan menjatuhkan yang lainnya, dan ini adalah puncak hikmah, karena seruan untuk menegakkan suatu daulah tidak akan terlepas dari tendensi mencari dunia, pangkat, dan kedudukan.Dan usaha pencapaian kekuasaan sering diperani oleh orang-orang yang rakus dan dengki. Tak jarang muncul sekelompok juru dakwah yang berjuang untuk menegakkan daulah, namun terselinap niat untuk merealisasikan dorongan nafsu, kerakusan, dan ambisi untuk memperoleh hajat yang mereka idamkan.
Sesungguhnya dakwah mengajak orang untuk menegakkan Daulah jauh lebih mudah, dan bahkan lebih cepat mendapat pengikut, sebab kebanyakan manusia menghendaki perolehan dunia dan pemenuhan hawa nafsu.
Karena beberapa pertimbangan seperti inilah – Wallahu A’lam – dan yang lainnya yang diketahui oleh Alloh Sang Pencipta yang Maha Mengetahui , maka manhaj dakwah para nabi jauh sekali dari slogan-slogan yang menyilaukan dan menarik bagi pengikut hawa nafsu dan pencari kedudukan, mereka menempuh manhaj yang penuh hikmah, bersih dan suci, yang penuh dengan kendala dan ujian, maka tidak ada yang mengikuti dan beriman kepada mereka kecuali orang-orang yang jujur, ikhlas, dan jauh dari segala macam tendensi-tendensi pribadi.

DAULAH BUKANLAH TUJUAN DAKWAH PARA NABI

Kadang Alloh memberikan hidayah kepada suatu kaum sehingga mereka mengikuti ajakan nabi mereka, hingga tegaklah sebuah daulah bagi mereka, sebagai buah kebaikan yang dipetik dari keimanan dan amal shalih mereka, anugerah Daulah ini akhirnya dilimpahkan Alloh kepada mereka karena keteguhan mereka melaksanakan kewajiban-kewajiban seperti jihad, melaksanakan syari’at dan perkara-perkara yang disyari’atkan Alloh kepada mereka. Anugerah inilah yang diperoleh Rasulullah ( dan para sahabatnya, karena kesabaran mereka dalam menempuh manhaj dakwah yang haq, menghadapi kekejian dan kebrutalan kaum musyrikin. Alloh menolong Rasulullah ( dan para sahabatnya, memenangkan din mereka, dan mengokohkan mereka di muka bumi, sebagai perwujudan janji Alloh dalam KitabNya :
( وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا(
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. “ ( An-Nur : 55 ).
Bersamaan dengan itu semua nabi bukanlah manusia-manusia pencari kekuasaan, tetapi mereka adalah para da’i kepada tauhid, dan tidak pernah menyiapkan para pengikutnya untuk revolusi dan kudeta.
Rasulullah ( pada awal dakwahnya telah ditawari kedudukan sebagai “ penguasa ‘ di Makkah, tetapi beliau menolak dan tetap melanjutkan dakwah tauhidullah dan memerangi kesyirikan ( Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dalam Sirahnya 1/293-294 dan memiliki syahid dari hadits Jabir yang diriwayatkan oleh Abd bin Humaid dan Abu Ya’la. Syaikh Rabi’ berkata : Dengan syahid ini kuatlah sanad kisah ini. Manhajul Anbiya’ hal. 116 ).
Kesimpulannya bahwa dakwah para nabi bukanlah untuk mendirikan suatu daulah dan menjatuhkan yang lainnya, mereka tidaklah mencari kekuasaan dengan mendirikan partai-partai politik, tetapi mereka berdakwah untuk memberikan hidayah kepada manusia, menyelamatkan mereka dari keseatan dan kesyirikan, mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya dan mengingatkan mereka kepada hari pembalasan.

BOLEHKAH JURU DAKWAH BERPALING DARI MANHAJ PARA NABI ?

Tidak diperbolehkan secara syar’i bagi setiap juru dakwah di setiap zaman untuk berpaling dari manhaj para nabi dan memilih jalan yang lainnya karena :
1. Manhaj dakwah para nabi adalah jalan yang paling lurus yang digariskan oleh Alloh kepada semua nabi.
Allohlah yang meletakkan jalan ini, dan Dia adalah pencipta manusia, paling tahu tentang tabiat-tabiat manusia, dan apa yang paling sesuai bagi mereka.
2. Para nabi berpegangteguh dengan jalan ini dan menerapkannya, tidak pernah kita jumpai satupun nabi yang memulai dakwahnya dengan tashawwuf, ilmu kalam, filsafat, ataupun politik !!!.
Bahkan kita dapatkan mereka semua menempuh jalan yang satu yaitu menjadikan dakwah tauhid sebagai prioritas pertama, hal ini menunjukkan bahwa permasalahan ini tidak termasuk medan ijtihad.
3. Sesungguhnya Alloh telah mewajibkan Rasulullah ( agar menempuh jalan para nabi, Alloh berfirman – setelah menyebut 18 orang dari para nabi – : “ Mereka adalah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Alloh, maka ikutilah petunjuk mereka ! “ ( Al-An’am : 90 ).
4. Alloh telah menciptakan alam semesta dan menatanya secara kauni dan syar’i, Alloh jadikan alam semesta berjalan sunnah-sunnah kauniyyahNya, jika sunnah-sunnah kauniyyah ini berubah maka rusaklah alam semesta.
Termasuk sunnah kauniyyah bahwa makhluk hidup dari manusia dan yang lainnya tidak akan hidup kecuali dengan ruh dan jasad, jika ruh memisahkan diri dari jasad maka matilah jasad sehingga menjadi rusak dan busuk.
Demikian juga tidak akan tegak syari’at kecuali di atas aqidah, jika syari’at kosong dari aqidah maka rusaklah syari’at, sebagaimana rusaknya syari’at Ibrahim di jazirah Arab ketika Amr bin Luhay memasukkan kesyirikan ke jazirah Arab, sebagaimana rusaknya syari’at Musa dan Isa ketika orang-orang Yahudi mengucapkan “ Uzair anak Alloh” dan orang-orang Nashara mengucapkan “ Isa adalah anak Alloh “.
Maka perumpamaan aqidah tauhid dengan syari’at seluruh nabi adalah seperti bangunan dan pondasinya, tidak akan tegak bangunan kecuali dengan pondasi.

PERBEDAAN ANTARA DAULAH DAN HAKIMIYYATULLAH

Di antara syubhat yang dilontarkan oleh para da’i “ politik “ adalah apa yang mereka namakan hakimiyyah, yaitu bahwasanya siapa saja yang ingin menegakkan hukum Alloh maka wajib bagi dia untuk berjuang untuk mendirikan Daulah Islam, barangsiapa yang tidak berjuang untuk mendirikan Daulah Islam maka berarti dia tidak ingin menegakkan hukum Alloh bahkan dia tidak beriman kepada hakimiyyahNya ?!…
Untuk menjawab syubhat ini perlu kita jelaskan tentang perbedaan antara daulah ( negara ) dan hakimiyyah ( berhukum dengan hukum Alloh ) :
Adapun daulah ( negara ) maka dia adalah kumpulan dari para manusia yang bisa disifati sebagai daulah yang kafir, sesat, atau beriman. Kumpulan manusia yang merupakan komponen daulah yang beriman tidak lebih dari sarana-sarana untuk melaksanakan syari’at seperti jihad, amar ma’ruf nahi munkar, menegakkan hukum had, qishash, dan sebagainya.
Wajib bagi bagi kaum muslimin untuk menegakkan daulah Islam sebagai sarana untuk menegakkan syari’at, dengan cara yang syar’i , dengan membaiat seorang khalifah yang disepakati oleh seluruh kaum muslimin, atau kepada para penguasa muslim yang menguasai bagian-bagian dari wilayah Islam – sebagaimana hal ini terjadi setelah lemahnya kekhilafahan -, dengan perincian yang dijelaskan oleh para ulama dalam pembahasan siyasah syar’iyyah.
Adapun hakimiyyah maka dia adalah termasuk sifat dan kekhususan Alloh sebagaimana dalam firmanNya :
(إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ(
“Hukum itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. “ ( Yusuf : 40 ).
Tidak ada yang mengingkari hakimiyyah ini kecuali orang yang kafir kepada Alloh dan RasulNya, jika dia mengingkarinya dengan ilmu, adapun orang yang jahil maka dia berudzur sampai tegak hujjah atasnya. Hal ini berlaku bagi setiap muslim, sebagai rakyat atau penguasa ( Lihat Minhajus Sunnah 3/32 dan Madarijus Salikin 1/336 ).
Barangsiapa yang berpegangteguh dengan hukum Alloh di dalam semua segi Islam seperti masalah aqidah, ibadah, dakwah, mu’amalah, siyasah, dan akhlaq maka dia adalah seorang mu’min, dan barangsiapa yang tidak berpegangteguh dengan hukum Alloh di sebagiannya atau semuanya maka dia kafir, entah itu berupa person atau kelompok, rakyat atau penguasa, da’i atau mad’u.
Maka ayat Alloh :
ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون “المائدة : 44
“Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah ,maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”. ( Al Maidah ayat 44)
berlaku bagi person atau kelompok, rakyat atau penguasa, maka merupakan kesesatan dan kejahilan yang nyata jika ada yang membatasi khithab ayat ini pada penguasa saja dan tidak berlaku bagi kelompok-kelompok sesat yang tidak berhukum kepada hukum Alloh dalam aqidah, ibadah, dan akhlaq mereka.
Demi Alloh sungguh kami mengkhawatirkan banyak kelompok-kelompok Islam, dan partai-partai Islam kalau-kalau mereka telah terjatuh ke dalam kekufuran karena mereka tidak berpegangteguh dengan hukum Alloh di dalam segi-segi agama, kami mengkhawatirkan kelompok-kelompok yang melecehkan dakwah para nabi dan menyelisihi hukum Alloh dalam manhaj dakwah akan terjatuh ke dalam kekufuran !!. ( Pembahasan ini disarikan dari kitab Manhajul Anbiya’ fid Da’wah Ilallah oleh Syaikh Al-‘Allamah Rabi’ bin Hadi Al-Madkhaly cetakan kedua tahun 1413 H ).

( Akhukum Abu Ahmad Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah )

والله أعلم بالصواب

5 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.