BUKU KAFIR TANPA SADAR MENGUSUNG PEMAHAMAN KHAWARIJ

BUKU KAFIR TANPA SADAR
MENGUSUNG PEMAHAMAN KHAWARIJ

Disusun oleh : Abu Ahmad Arif Fathul Ulum bin Ahmad

Telah sampai kepada kami sebuah buku yang berjudul Kafir Tanpa Sadar oleh Abdul Qadir bin Abdul Aziz. Buku ini adalah salah satu dari buku-buku yang sangat kencang menghembuskan syubhat-syubhat Khawarij dari awal hingga akhirnya. Yang sangat disayangkan bahwa buku-buku seperti ini sangat marak akhir-akhir ini, hal ini menunjukkan bahwa fitnah Takfir saat ini begitu deras menerpa
Karena itulah maka Insya Alloh dalam pembahasan kali ini kami berusaha menyingkap syubhat-syubhat yang berada di dalam buku tersebut tersebut sebagai nasehat kepada kaum muslimin dan pembelaan kepada manhaj yang haq.

PENULIS DAN PENERBIT BUKU INI

Judul Asli buku ini adalah Al-Jami Fi Thalab Al-Ilmi Asy-Syarif Al-Iman wa Al-Kufr, ditulis oleh Abdul Qadir bin Abdul Aziz, diterjemahkan oleh Abu Musa Ath-Tahyyar, dan diterbitkan oleh Media Islamika Solo cetakan pertama September 2006.
Buku ini diberi kata pengantar oleh Abu Bakar Baasyir ! Pengasuh PP Al-Mukmin Ngruki Cemani Solo dan didistribusikan oleh CV Arofah Group Ngruki Cemani Solo.

MENGIKUTI MADZHAB KHAWARIJ DALAM MEMAHAMI AYAT HUKUM

Penulis berkata di dalam hal. 212 : Sesungguhnya kekafiran yang disebut di dalam ayat ini ( ayat 44 dari Surat Al-Maidah ) adalah kufur akbar. Ini karena diterangkan dengan kata-kata yang menggunakan alif dan lam tarif ( al ). Sebab, setiap kekafiran yang diungkapkan dengan isim marifah maka maksudnya adalah kufur akbar, dan semua pendapat yang menguatkannya sebagai kufrun duna kufrin adalah pendapat yang salah …”
Sebelumnya pada hal. 64 penulis berkata : ” Pedoman umum : sesungguhnya, semua kata kafir yang diungkapkan dengan isim yang ber-lam tarif… maksudnya adalah akbar….”
Kami katakan : Perkataan penulis ” setiap kekafiran yang diungkapkan dengan isim marifah maka maksudnya adalah kufur akbar ” berbenturan dengan sebagian atsar yang datang dari para sahabat yang di dalamnya mensifati sebagian dosa-dosa dengan lafadz kufr yang menggunakan alif dan lam ta’rif, bersamaan dengan itu dosa-dosa tersebut dianggap kufur ashghar dengan kesepakatan para ulama ahli Sunnah ; seperti hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Bukhari di dalam Shahihnya : 5273 dari Ibnu Abbas yang di dalamnya istri Tsabit bin Qais berkata :
ولكني أكره الكفر في الإسلام
“ Dan akan tetapi aku membenci kekufuran di dalam Islam ” , dia maksudkan mengkufuri suami sebagaimana dijelaskan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari 9/400.
Demikian juga diriwayatkan oleh Nasai di dalam Sunan Kubra ( 118- ‘Isyratun Nisa’ ) dan Abdurrazzaq di dalam Mushonnaf : 20953 dari Ibnu Abbas bahwasanya dia berkomentar tentang mendatangi wanita dari duburnya :
ذلك الكفر
“ Itu adalah kekufuran ” , dan sanadnya adalah kuat sebagaimana dijelaskan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar di dalam Talkhishul Habir 3/181.
Kedua atsar di atas lafadz kufur menggunakan alif dan lam ta’rif dalam keadaan maksudnya adalah kufur ashghar.

Kemudian tentang perkataan penulis ” dan semua pendapat yang menguatkannya sebagai kufrun duna kufrin adalah pendapat yang salah …” perlu diketahui bahwa yang berpendapat bahwa maksud ayat tersebut adalah para ulama Ahli Sunnah yang terdahulu dan belakangan, di antara mereka adalah Ibnu Abbas yang berkata : ” Dia bukanlah kekufuran yang kalian katakan, sesungguhnya dia adalah kekufuran yang tidak mengeluarkan dari Islam
( ((((( (((( ((((((( (((((( ((((((( (((( (((((((((((((( (((( (((((((((((((( (
Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah ,maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir ( Al-Maidah : 44 ) Ini adalah kufur duna kufrin ( kufur ashghar ) ( Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Mustadraknya 2/342 dan dia berkata : Ini adalah hadits yang shahih sanadnya, dan disetujui oleh Dzahabi dalam Talkhis Mustadrak 2/342 dan Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah 6/113 ).
Pendapat Ibnu Abbas ini diikuti oleh para para ulama ahli sunnah wal jamaah dari zaman tabiin hingga zaman ini sebagaimana di dalam nukilan-nukilan di bawah ini :
1. Atha bin Abi Rabah seorang tabiin menyebut ayat 44-46 dari surat Al-Maidah dan berkata : Kufrun duna kufrin, fisqun duna fisqin, dan dhulmun duna dhulmin ( Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam Tafsirnya 6/256 dan dishahihkan sanadnya oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah 6/114 ).
2. Thawus bin Kaisan salah seorang tabiin menyebut ayat hukum dan berkata : Bukan kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari agama ( Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam Tafsirnya 6/256 dan dishahihkan sanadnya oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah 6/114 ).
3. Al-Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang maksud kufur dalam ayat hukum maka beliau berkata : Kekufuran yang tidak mengeluarkan dari keimanan ( Majmu Fatawa 7/254 ).
4. Al-Imam Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam membawakan tafsir Ibnu Abbas dan Atha bin Abi Rabah terhadap ayat hukum dan berkata : Maka telah jelas bagi kita bahwa kekufuran dalam ayat ini tidak mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, dan bahwasanya agama tetap exist meskipun tercampur dengan dosa-dosa ( Kitabul Iman hal. 45 ).
5. Al-Imam Bukhari berkata dalam Shahihnya 1/83 : Bab Kufranil Asyir wa Kufrun duna kufrin , Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata : Penulis ( Al-Imam Bukhari ) mengisyaratkan kepada atsar yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam Kitabul Iman dari jalan Atha bin Abi Rabah dan yang lainnya ( Fathul Bari 1/83 ).
Perkataan semakna juga datang dari Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari, Al-Imam Baihaqi, Al-Imam Ibnu Abdil Barr, Al-Imam Qurthubi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Al-Imam Ibnul Qayyim, Syaikh Al-Albani, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, dan Syaikh Muhammad Al-Utsaimin .
Kalau begitu pendapat siapakah yang diikuti oleh penulis di dalam pemahaman ayat ini / tidak lain dan tidak bukan adalah madzhab Khawarij sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Albani tatkala mengomentarai perkataan Ibnu Abbas di atas ” Dia bukanlah kekufuran yang kalian katakan ” : Seakan-akan beliau mengisyaratkan kepada orang-orang khawarij yang memberontak kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib ( Silsilah Shahihah 6/113 ).

Kemudian penulis berkata di dalam hal. 216 : ” Sesungguhnya ayat tersebut bersifat umum, mencakup semua orang yang tidak memutuskan hukum dengan hukum Alloh. Karena, ayat tersebut menggunakan man syarthiyyah ( barangsiapa atau siapa saja yang berfungsi sebagai syarat ) yang merupakan bentuk kalimat paling umum …
Kami katakan : Jika diambil keumuman ayat ini maka konsekwensinya adalah mengkafirkan kaum muslimin di dalam setiap kasus yang mereka tidak adil di dalamnya, termasuk seorang bapak terhadap anak-anaknya, bahkan seseorang terhadap dirinya sendiri jika dia mashiyat kepada Rabbnya ; karena tatkala dia mashiyat kepada Rabbnya maka saat itu dia tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Alloh.
Padahal banyak sekali dalil-dalil yang menunjukkan bahwa sekedar kemashiyatan tidaklah menjadikan pelakunya kafir seperti firman Alloh ( :
( ((((( ((((((((((((( (((( ((((((((((((((( ((((((((((((( ((((((((((((( ((((((((((( ( ( (
Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! ( Al-Hujurat : 9 ), maka nash-nash yang menunjukkan tidak kafirnya setiap pelaku kemashiyatan adalah yang memalingkan kufur akbar dalam ayat di atas kepada kufur ashghar, karena itulah maka para ulama sepakat tidak mengambil keumuman ayat ini, berbeda dengan orang-orang khawarij yang memakai keumuman ayat ini di dalam mengkafirkan para pelaku dosa dan kemashiyatan tanpa melihat kepada dalil-dalil yang lain yang memalingkan ayat ini dari keumumannya.
Al-Imam Ibnu Abdil Barr berkata : Telah sesat sekelompok ahli bida dari khawarij dan mutazilah dalam bab ini, mereka berargumen dengan ayat-ayat di dalam Kitabullah yang tidak atas dhahirnya seperti firman Alloh ( :
( ((((( (((( ((((((( (((((( ((((((( (((( (((((((((((((( (((( (((((((((((((( (
Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah ,maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir ( Al-Maidah : 44 ) ( At-Tamhid 17/16 ).
Beliau juga berkata : Para ulama sepakat bahwa kecurangan dalam menghukumi termasuk dosa-dosa besar bagi seorang yang sengaja melakukannya dalam keadaan mengetahui hukumnya … ( At-Tamhid 5/74-75 ).

KERANCUAN PENULIS DI DALAM MEMAHAMI DARUL KUFUR DAN DARUL ISLAM

Penulis berkata di dalam hal. 20 : ” Negeri yang menggunakan undang-undang kafir adalah daru kufrin ( negeri kafir ). Jika sebelumnya negeri itu menggunakan hukum syari’ah, lalu berganti dengan undang-undang kafir, sedangkan penduduknya masih Islam maka negeri itu Daru Kufrin Thari’ ( negeri kafir yang tidak asli ) “.
Kami katakan : Penulis mengikuti pemahaman Khawarij yang berpendapat bahwa setiap yang berhukum dengan selain hukum Alloh maka dia kafir keluar dari Islam secara mutlak tanpa perincian mengingkari kewajiban berhukum dengan hukum Alloh atau tidak – dan memahami secara rancu tentang hal yang menyebabkan suatu negeri dikatakan sebagai Darul Islam atau Darul Kufur.
Yang benar bahwa suatu negeri dikatakan sebagai Darul Islam jika nampak syi’ar-syi’ar Islam dari penduduk negeri seperti sholat lima waktu, sholat jumat, dan sholat Ied, sebagaimana ditunjukkan oleh dalil-dalil berikut ini :
1. Hadits Anas bahwasanya dia berkata :
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يغير إذا طلع الفجر وكان يستمع الأذان فإن سمع أذانا أمسك وإلا أغار
“ Adalah Rasulullah e hendak menyerang daerah musuh ketika terbit fajar , beliau menunggu suara adzan, jika beliau mendengar adzan maka beliau menahan diri, dan jika tidak mendengar adzan maka beliau menyerang ( Muttafaq Alaih, Shahih Bukhari : 610 dan Shahih Muslim : 1365 ).
Al-Imam Nawawi berkata : Hadits ini menunjukkan bahwa adzan menahan serangan kaum muslimin kepada penduduk negeri daerah tersebut, karena adzan tersebut merupakan dalil atas keislaman mereka ( Syarah Nawawi pada Shahih Muslim 4/84 ).
Al-Imam Qurthuby berkata : Adzan adalah tanda yang membedakan antara darul Islam dan Darul kufr ( Al-Jami Liahkamil Qur’an 6/225 ).
Az-Zarqany berkata : “ Adzan adalah syi’ar Islam dan termasuk tanda yang membedakan antara darul Islam dan darul kufur “ ( Syarah Zarqany atas Muwaththa’ 1/215 ).
2. Hadits ‘Isham Al-Muzany bahwasanya dia berkata :
كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا بعث السرية يقول إذا رأيتم مسجدا وسمعتم مناديا فلا تقتلوا أحد
“ Adalah Nabi e jika mengutus suatu pasukan beliau bersabda : “ Jika kalian melihat masjid atau mendengar adzan maka janganlah kalian membunuh seorangpun ( Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya 3/448, Abu Dawud dalam Sunannya : 2635 dan Tirmidzy dalam Jaminya : 1545 dan dilemahkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Dhaif Sunan Abu Dawud hal. 202 ).
Al-Imam Asy-Syaukany berkata : Hadits ini menunjukkkan bahwa sekedar keberadaan sebuah masjid di suatu negeri maka ini cukuk menjadi dalil atas keislaman penduduknya, walaupun belum didengar adzan dari mereka, karena Nabi e memerintahkan pasukan-pasukannya agar mencukupkan dengan salah satu dari dua hal : Adanya masjid atau mendengar adzan ( Nailul Authar 7/287 ).
Berdasarkan uraian di atas maka jika didengar adzan di suatu negeri atau didapati suatu masjid, dan penduduknya muslim, maka negeri tersebut adalah darul Islam, meskipun para penguasanya tidak menerapkan syariat Islam, hal inilah yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, beliau berkata : Keberadaan suatu tempat sebagai negeri kafir atau negeri Iman atau negeri orang-orang fasiq, bukanlah sifat yang tidak terpisah darinya, tetapi dia adalah sifat yang insidental sesuai dengan keadaan penduduknya, setiap jengkal bumi yang penduduknya orang-orang mukmin yang bertaqwa maka tempat tersebut adalah negeri para wali Alloh di saat itu, setiap jengkal tanah yang penduduknya orang-orang fasiq, maka dia adalah negeri kefasiqan di saat itu, dan jika para penduduknya selain yang kita sebutkan tadi, dan berubah dengan selain mereka, maka negeri itu adalah negeri mereka ( Majmu Fatawa 18/282 ) .
Lalu kapankah suatu negeri Islam menjadi Darul Kufur ? Yang rajih dari pendapat para ulama bahwa negeri Islam tidak berubah menjadi darul kufur dengan sekedar dominannya hukum-hukum kekafiran padanya, atau sekedar penguasaan orang-orang kafir padanya, selama para penduduknya masih mempertahankan keislaman mereka, bahkan selama mereka masih menegakkan sebagian dari syiar-syiar Islam khususnya sholat.
Al-Kaasany berkata : Tidak ada khilaf di antara para sahabat kami ( madzhab Hanafi ) bahwasanya darul kufur berubah menjadi darul Islam dengan nampaknya hukum-hukum Islam padanya, dan mereka berselisih dengan apa darul Islam berubah menjadi darul kufur, Abu Hanifah berkata : Darul Islam tidak berubah menjadi darul kufur kecuali dengan tiga syarat : yang pertama dominannya hukum-hukum kafir padanya, yang kedua bersambungnya dengan darul kufur, yang ketiga tidak tersisa di dalamnya seorang muslim dan seorang dzimmy yang merasa aman dengan jaminan keamanan dari kaum muslimin ( Badai Shonai 7/130 ).
Ad-Dasuqy berkata : Sesungguhnya negeri Islam tidaklah berubah menjadi darul harbi sekedar dengan penguasaan orang-orang kafir atasnya, tetapi hingga terputus penegakan syiar-syiar Islam darinya, adapun selama tetap ditegakkan syiar-syiar Islam atau sebagian besar darinya, maka tidaklah dia berubah menjadi darul harbi ( Hasyiyah Dasuqy 2/188 ).
Merupakan kaidah dalam syariat bahwa الأصل بقاء ما كان على ما كان : Hukum asal sesuatu adalah dikembalikan pada asalnya, tidak berubah hukum asal ini kecuali jika ada yang memindahkannya ke hukum yang lainnya dengan cara yang yakin.
Di antara contoh-contoh dalam hal ini adalah negeri Andalusia yang berubah menjadi darul kufur sesudah kaum muslimin diusir darinya, dan sejak syiar-syiar Islam di situ dihukumi tidak ada.
Di antara contoh-contoh hal ini juga adalah negeri Islam yang para penguasanya tidak menerapkan hukum Islam bersamaan dengan itu para penduduknya menampakkan syiar-syiar Islam maka negeri itu adalah darul Islam, karena tidak ada indikasi yang memindahkannya dari hukum asalnya ( Lihat Al-Ghuluww fid Din oleh Syaikh Abdurrahman bin Mala Al-Luwaihiq hal. 340 ) .

PENULIS MENGHASUNG KEPADA PEMBERONTAKAN

Setelah membabi buta mensifati negeri-negeri Islam yang penguasanya tidak berhukum dengan hukum Alloh bahwasanya negeri-negeri itu adalah darul kufur, maka penulis menghasung para pembaca agar tidak taat kepada mereka, dia berkata di dalam hal. hal. 19 : ” Tiada kewajiban bagi seorang muslim untuk menaati para penguasa tersebut. Demikian pula, tidak wajib baginya mematuhi undang-undang negeri tersebut. Akan tetapi, dia bebas untuk melanggarnya, semau dia … ”
Bahkan penulis menganggap bahwa memberontak kepada para penguasa tersebut adalah jihad sebagaimana dia katakan di dalam hal. 30 : ” Mereka memandang bahwa penguasa mereka yang kafir itu adalh orang Islam yang bertakwa; dan mereka memandang orang-orang muslim yang berjihad sebagi Khawarij yang sesat…” .
Tidak diragukan lagi bahwa penulis telah menyelisihi pokok yang agung dari syari’at islam yaitu wajibnya ta’at kepada waliyyul amr di dalam hal yang ma’ruf sebagaimana dalam firman Alloh :
( يا أيها الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ(
“Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian. “ ( An-Nisa’ : 59 )
Adapun dari Sunnah Rasullullah ( maka di antaranya adalah perintah Rasulullah ( agar selalu taat kepada waliyyul amr, tidak membatalkan baiat, dan sabar atas kecurangan para penguasa :
Dari Ubadah bin Shamit bahwasanya dia berkata :
دعانا رسول الله صلى الله عليه وسلم فبايعناه فكان فيما أخذ علينا أن بايعنا على السمع والطاعة في منشطنا ومكرهنا وعسرنا ويسرنا وأثرة علينا وأن لا ننازع الأمر أهله قال إلا أن تروا كفرا بواحا عندكم من الله فيه برهان
“Rasullullah ( menyeru kami maka kami membaiatnya, di antara yang diambil atas kami bahwasanya kami berbaiat atas mendengar dan taat dalam keadaan yang lapang dan sempit, dalam keadaan sulit dan mudah, dan atas sikap egois atas kami, dan agar kami tidak merebut kekuasaan dari pemiliknyam beliau bersabda : Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang jelas dan nyata yang kalian punya bukti di hadapan Alloh ( Shahih Muslim : 1709 ).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Ini adalah perintah agar selalu taat walaupun ada sikap egois dari waliyyul amr, yang ini merupakan kezhaliman darinya, dan larangan dari merebut kekuasaan dari pemiliknya, yaitu larangan dari memberontak kepadanya, karena pemiliknya adalah para waliyul amr yang diperintahkan agar ditaati, dan mereka adalah orang-orang yang memiliki kekuasaan untuk memerintah ( Minhajus Sunnah 3/395 ).
Al-Hafidz Ibnu Hajar menukil ijma para ulama dalam masalah ini dari Ibnu Baththal yang berkata : Para fuqaha telah sepakat atas wajibnya taat kepada pemerintah yang menguasai keadaan, wajibnya berjihad bersamanya, bahwasanya ketaatan kepadanya lebih baik daripada memberontak kepadanya, karena dengan ketaatan akan bisa menjaga tertumpahnya darah, dan menenangkan keadaan … mereka tidak mengecualikan dari hal ini kecuali jika telah terjadi kekufuran yang jelas dari penguasa ( Fathul Bari 13/7 ) .

MENUDUH PARA ULAMA SUNNAH SEBAGAI MURJI’AH

Buku ini dari awal hingga akhir sarat dengan tuduhan-tuduhan keji kepada para ulama Ahli Sunnah bahwa mereka adalah Murji’ah, seperti perkataan penulis hal. 183-187 : ” Beberapa ulama yang berpendapat : tiada kekafiran kecuali dengan keyakinan : Syaikh Al-Albani…intinya pendapat Al-Albani adalah sama dengan pendapat ghulatul Mrjiah…pada kesempatan lain Al-Alabni membatasi kekafiran pada ingkar ( juhud )…”
Penulis juga berkata di dalam hal. hal. 215 : ” Ketahuilah bahwa kesalahan Al-Hudhaibi ( dia atas ) telah dilakukan oleh mayoritas ulama zaman sekarang, yang dalam hal ini mereka taklid kepada Ibnu Abil Izz dan Ibnul Qayyim…Pendapat mereka ini tidak ada dasarnya, tidak ada pula dalilnya yang diterima …”
Kami katakan : Tuduhan Khawarij bahwa Ahli Sunnah adalah Murjiah bukan perkara baru, Al-Imam Ishaq bin Rahuwiyah berkata : Suatu saat Abdullah bin Mubarak datang ke kota Ray maka berdiri menghampirinya seorang dari ahli ibadah dugaan terkuat dia ini mengikuti pemikiran Khawarij dia berkata kepada Abdullah bin Mubarak : Wahai Abu Abdirrahman apa pendapatmu tentang orang yang berzina, mencuri, dan minun khamr ? , Abdullah bin Mubarak berkata : Aku tidak mengeluarkannya dari keimanan , orang tersebut berkata : Wahai Abu Abdirrahman dalam usia setua ini Engkau menjadi Murjiah ?! , Abdullah bin Mubarak berkata : Orang-orang murjiah tidak setuju dengan kami, mereka mengatakan : Amalan-amalan kami diterima dan dosa-dosa kami diampuni, dan seandainya aku tahu bahwa satu amalan baikku diterima maka aku akan mempersaksikan bahwa diriku di surga ( Diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Utsman Ash-Shabuni dalam Aqidah Salaf Ashabul Hadits hal. 84 dengan sanad yang shahih ).
Tentang tuduhan irja’ kepada Syaikh Al-Albani maka telah dibantah oleh para ulama sunnah di antaranya Syaikh Dr. Husain bin Abdul Aziz Alu Syaikh yang mengatakan : Yang kami yakini dan yang kami pertanggungjawabkan di hadapan Alloh : Bahwasanya Syaikh Ali dan gurunya Syaikh Al-Albani paling jauh di antara manusia dari madzhab Murjiah sebagaimana telah kami katakan sebelumnya -.
Syaikh Ali demikian juga Syaikh Al-Albani – jika ditanyakan kepadanya : Apakah definisi Iman ? : Tidak akan kita dapati dalam ucapannya perkataan Murjiah yang mengatakan bahwa amalan tidak masuk dalam keimanan.
Bahkan nash-nash Syaikh Al-Albani menashkan bahwa definisi Iman adalah : Keyakinan dengan hati, perkataan dengan lisan, dan amalan dengan anggota tubuh, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemashiyatan. ( Lihat Tanbihat Mutawaimah hal. 553-557 ).

PENUTUP

Inilah yang bisa kami sampaikan kepada para pembaca tentang jawaban-jawaban terhadap syubhat-syubhat buku ini, sebetulnya masih banyak hal-hal lain dari buku ini yang perlu dijelaskan, tetapi Insya Alloh yang telah kami paparkan sudah bisa memberikan peringatan kepada kita tentang bahaya buku ini. Semoga Alloh selalu menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengarkan nasehat dan mengikutinya. Amin
والله أعلم بالصواب

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.