💧Tidak ada yang ma’shum…

💧Tidak ada yang ma’shum…

✍Ulama juga bisa salah dalam pendapatnya, sehingga seorang muslim tidak boleh fanatik buta kepada seorang imam atau kepada madzhabnya.
Sikap seperti ini bukan berarti merendahkan para imam atau ulama.

Karena yang ma’shum (tidak pernah bersalah) dan disepakati kema’shumannya hanyalah Rasululloh صلى الله عليه وسلم.
Betkata Imam Malik,
Siapa pun perkataannya bisa ditolak dan bisa diterima, kecuali hanya Nabi صلى الله عليه وسلم sendiri”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abdul Barr dalam kitab Al-Jami’ (II/291)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم, sebagaimana disebutkan dalam suatu riwayat:

إِنِّي أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي مِنْ بَعْدِي مِنْ أَعْمَالٍ ثَلاثَةٍ قَالُوا: مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: زَلَّةُ الْعَالِمِ، أَوْ حُكْمٌ جَائِرٌ، أَوْ هَوًى مُتَّبَعٌ

“Sungguh yang aku khawatirkan atas umatku sepeninggalku adalah tiga hal, mereka bertanya: “Apa saja perkara itu wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “Ketergelinciran seorang alim, hukum yang lalim, dan hawa nafsu yang dituruti.” (HR. Thabrani)

Selain itu para ulama salaf pun telah mewanti-wanti terhadap perkara ini, di antaranya adalah yang diungkapkan oleh sahabat Umar bin Khattab:

يَهْدِمُ الْإِسْلَامَ ثَلَاثَةٌ : زَلَّةُ عَالِمٍ ، وَجِدَالُ الْمُنَافِقِ بِالْقُرْآنِ ، وَأَئِمَّةٌ مُضِلُّونَ

Tiga perkara yang menghancurkan Islam; tergelincirnya seorang alim, debatnya orang munafik tentang Al-Qur’an dan para pemimpin yang menyesatkan.” (Abu Nu’aim, Hilyatul Auliya’; 4/196)

Bersikap dengan baik terhadap ketergelinciran ulama merupakan hal ditekankan Rasulullah dan para ulama salaf, sebab jika tidak disikapi dengan benar hal ini akan menimbulkan perkara yang buruk, baik bagi si alim atau bagi orang yang mengikutinya. Maka penting bagi setiap da’i dan alim dan para pencari ilmu untuk memperhatikan hal ini.

Bagi setiap du’at dan ulama yang perlu diperhatikan adalah mengetahui sebab-sebab ketergelinciran dalam berfatwa atau berpendapat, di antara sebab-sebabnya sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Asy-Syatibi bahwa sebab yang melatarbelakangi tergelincirnya seorang alim ada dua hal.
Pertama, ketidaktahuannya terhadap sebagian dalil, sehingga menyimpulkan sesuatu yang bukan menjadi maksudnya.
Kedua, tidak membahas tema secara menyeluruh. (Imam Asy-Syathibi, Al-Muwafaqat: 132)

Sehingga ketika kita mengetahui yang demikian menjadikan kita punya sikap yang lurus saat mengetahui perbedaan pendapat para ulama.
Dan tidak menjadikan kita fanatik buta atas ijtihad mereka, dan tasamuh (toleran) ketika mendapati perbedaan dengan yang lain, selama hal itu ada hujjahnya
Wallohu a’lam.

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

✏📚✒.💧..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.