💡 SYARAH HADITS KE 24 ARBA’IIN ANNAWAWIYYAH

💡 SYARAH HADITS KE 24
ARBA’IIN ANNAWAWIYYAH

لحديث الرابع والعشرون
بشرح و تعليق : الشيخ محمد بن صالح العثيمين

Ditulis : Imam An-Nawawy
Syarah : Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin

📗 Hadits Ke 24:

عن أبي ذر الغفاري رضي الله عنه، عن النبي صلي الله علية وسلم، فيما يرويه عن ربه تبارك وتعالى، أنه قال:

{ يا عبادي: إني حرمت الظلم على نفسي، وجعـلته بيـنكم محرماً؛ فلا تـظـالـمـوا }

{ يا عبادي ! كلكم ضال إلا من هديته، فاستهدوني أهدكم }

{ يا عبادي ! كلكم جائع إلا من أطعمته، فاستطعموني أطعمكم }

{ يا عبادي ! كلكم عار إلا من كسوته، فاستكسوني أكسكم }

{ يا عبادي ! إنكم تخطئون بالليل والنهار، وأنا أغفر الذنوب جميعاً فاستغفروني أغفر لكم }

{ يا عبادي ! إنكم لن تبلغوا ضري فتضروني، ولن تبلغوا نفعي فتنفعوني }

{ يا عبادي ! لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم كانوا على أتقى قلب رجل واحد منكم، ما زاد ذلك في ملكي شيئاً }

{ يا عبادي ! لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم كانوا علي أفجر قلب رجل واحد منكم، ما نقص ذلك من ملكي شيئاً }

{ يا عبادي ! لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم قاموا في صعيد واحد، فسألوني، فأعطيت كل واحد مسألته، ما نقص ذلك مما عندي إلا كما ينقص المخيط إذا أدخل البحر }

{ يا عبادي ! إنما هي أعمالكم أحصيها لكم، ثم أوفيكم إياها؛ فمن وجد خيراً فليحمد الله، ومن وجد غير ذلك فلا يلومن إلا نفسه }.

[رواه مسلم].

 

Dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam apa yang beliau riwayatkan dari Allah ta’ala, bahwa Dia berfirman, “Wahai hamba-hambaKu, sesungguhya Aku telah haramkan kezhaliman atas diriKu, dan Aku telah menetapkannya sebagai sesuatu yang diharamkan di antara kalian, maka jauhilah kalian saling menzhalimi. Wahai hamba-hambaKu, kalian semua sesat, kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepadaKu, niscaya Aku akan memberikannya kepada kalian. Wahai hambaKu, kalian semua lapar, kecuali orang yang Aku beri makan, maka mintalah makan kepadaKu, niscaya Aku akan memberikannya untuk kalian. Wahai hambaKu, kalian semua telanjang, kecuali orang yang Aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepadaKu, niscaya Aku akan memberikannya untuk kalian. Wahai hambaKu, sesungguhnya kalian berbuat salah di siang dan di malam hari, sedangkan Aku mengampuni dosa-dosa seluruhnya, maka minta ampunlah kepadaKu, niscaya Aku akan mengampuni kalian. Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian tidak akan bisa mendatangkan kemudharatan kepadaKu lalu menimpakannya kepadaKu, dan kalian takkan bisa memberikan manfaat kepadaKu lalu kalian memberikannya kepadaKu. Wahai hamba-hambaKu, seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari bangsa manusia dan jin, mereka semua berada pada taraf ketakwaan seorang paling tinggi tingkat ketakwaannya di antara kalian, hal itu takkan menambah kerajaanKu sedikit pun. Seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari kalangan bangsa jin dan manusia, mereka semua berada pada taraf kedurhakaan seorang yang paling tinggi tingkat kedurhakaannya di antara kalian, hal itu takkan mengurangi kerajaanKu sedikit pun. Wahai hambaKu, seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari bangsa manusia dan jin, semuanya berdiri di atas tanah yang tinggi, lalu mereka semua meminta kepadaKu, lalu aku penuhi permintaan mereka, untuk yang demikian itu, tidaklah mengurangi apa-apa yang Aku miliki, kecuali seperti berkurangnya jarum jika dimasukkan ke dalam lautan. Wahai hambaKu, sesungguhnya itu hanyalah amalan kalian. Aku menghitungnya untuk kalian, kemudian Aku memberikannya secara sempurna kepada kalian, maka barangsiapa mendapatkan kebaikan, maka hendaklah dia memuji Allah. Dan barangsiapa yang mendapatkan yang selain dari itu, maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri. (HR. Muslim)

الشرح:

عن أبي ذر الغفاري  عن النبي  واله وسلم فيما يرويه عن ربه عز وجل وهذا الحديث وأشباهه يسمى الحديث القدسي، لأنه يرويه النبي  عن الله عز وجل قال: { يا عبادي إني حرمت الظلم على نفسي وجعلته بينكم محرما } فبين الله عز وجل في هذا الحديث أنه حرم الظلم على نفسه فلا يظلم أحداً لا بزيادة سيئة ولا بنقص حسنة كما قال تعالى:  وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا  [طه:112].

Penjelasan:

Dari Abu Dzar Al Ghifari dari Nabi, dari apa yang diriwayatkan dari Rabbnya. Hadits ini dan semisalnya dinamakan hadits qudsi. Karena hadits tersebut telah diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, dari Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya Aku telah haramkan kezhaliman atas diriKu.” Allah telah menjelaskan dalam hadits ini, bahwa Dia telah mengharamkan kezhaliman atas diriNya. Oleh karena itu, Dia tidak menzhalimi siapa pun, tidak dengan menambah dosa, dan tidak pula mengurangi kebaikan, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala.

وَمَن يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا

“Dan barangsiapa yang mengerjakan amal-amal shaleh dan dia dalam keadaan beriman, maka dia tidak akan khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan mengurangi haknya.” (Thaahaa: 112)

 

{ وجعلته بينكم محرماً } أي جعلت الظلم بينكم محرماً، فيحرم عليكم أن يظلم بعضكم بعضاً، ولهذا قال: { فلا تظالموا } والفاء للتفريع على ما سبق { يا عبادي، كلكم ضال إلا من هديته فاستهدوني أهدكم } العباد كلهم ضال في العلم وفي العمل إلا من هداه الله عزوجل وإذا كان الأمر كذلك فالواجب طلب الهداية من الله، ولهذا قال: {فاستهدوني أهدكم } أي اطلبوا مني أهدكم، والهداية هنا تشمل هداية العلم وهداية التوفيق، { يا عبادي كلكم جائع إلا من أطعمته فاستطعموني أطعمكم }، وهذه كالتي قبلها بين سبحانه وتعالى أن العباد كلهم جياع إلا من أطعمه الله ثم يطلب من عباده أن يستطعموه ليطعمهم، وذلك لأن الذي يخرج الزرع ويدر الضرع هو سبحانه وتعالى كما قال سبحانه وتعالى:  أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَحْرُثُونَ* أَأَنْتُمْ تَزْرَعُونَهُ أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَ *لَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَاهُ حُطَامًا فَظَلْتُمْ تَفَكَّهُونَ  [الواقعة:63-65] ثم المال الذي يحصل بهالحرث هو لله عزوجل.

 

“Aku telah menetapkannya sebagai suatu yang diharamkan di antara kalian.” Yakni, Aku menetapkan kezhaliman itu sebagai suatu yang haram di antara kalian, maka Dia mengharamkan sebagian kalian menzhalimi sebagian yang lain. Dia subhanahu wata’ala berfirman, “Maka janganlah kalian saling menzhalimi.” Huruf fa’ pada kalimat ini berfungsi untuk merinci apa-apa yang sebelumnya.

“Wahai hamba-hambaKu, kalian semua sesat, kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepadaKu, niscaya Aku akan memberikannya kepada kalian.” Para hamba semuanya sesat dalam hal keilmuwan dan dalam hal amalan, kecuali orang yang diberi petunjuk oleh Allah. Jika perkaranya demikian, maka yang wajib adalah memohon petunjuk kepada Allah. Oleh karena itu, Dia subhanahu wata’ala berfirman, “maka mintalah petunjuk kepadaKu, niscaya Aku akan memberikannya kepada kalian.” Hidayah (petunjuk) di sini mencakup hidayah ilmu dan hidayah taufiq.

“Wahai hambaKu, kalian semua lapar, kecuali orang yang Aku beri makan, maka mintalah makan kepadaKu, niscaya Aku akan memberikannya untuk kalian.” Perkataan ini seperti perkataan yang sebelumnya, Allah menjelaskan bahwa para hamba seluruhnya lapar, kecuali orang-orang yang diberi makan olehNya. Kemudian Dia memerintahkan kepada hamba-hambaNya untuk meminta makan kepadaNya, agar Dia memberi makan kepada mereka. Hal yang demikian itu, karena Dzat yang mengeluarkan tanaman dan memenuhi ambing-ambing susu hewan adalah Allah. Sebagaimana firmanNya,

أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَحْرُثُونَ
أَأَنْتُمْ تَزْرَعُونَهُ أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَ
لَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَاهُ حُطَامًا فَظَلْتُمْ تَفَكَّهُونَ
[الواقعة:63-65]

“Maka terangkanlah kepadaKu tentang apa yang kamu tanam, kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya? Seandainya Kami menghendaki, benar-benar Kami jadikan dia kering dan hancur, maka jadilah kamu heran tercengang.” (Al Waaqi’ah: 63-65)

Kemudian harta yang diperoleh dari hasil tanaman itu adalah milik Allah subhanahu wata’ala.

{ يا عبادي كلكم عار } أي قد بدت عورته إلا من كساه الله ويسر له الكسوة، ولهذا قال: { إلا من كسوته فاستكسوني أكسكم }اطلبوا مني الكسوة أكسكم، لأن كسوة بني ادم مما أخرجه الله تعالى من الأرض، ولو شاء الله تعالى لم يتيسر ذلك.

{ يا عبادي إنكم تخطئون بالليل والنهار وأنا أغفر الذنوب جميعاً فاستغفروني أغفر لكم } وهذا كقوله  في الحديث الصحيح: { كل ابن ادم خطاء وخير الخطائين التوابون } فالناس يخطئون ليلاً ونهاراً أي يرتكبون الخطأ وهو مخالفة أمر الله ورسوله بفعل المحذور أو ترك المأمور، ولكن هذا الخطأ له دواء – ولله الحمد – وهو قوله: {فاستغفروني أغفر لكم } أي اطلبوا مغفرتي أغفر لكم، والمغفرة: ستر الذنب مع التجاوز عنه.

“Wahai hambaku, kalian semua telanjang.” Yakni, tampak auratnya, kecuali orang yang diberi pakaian oleh Allah dan dimudahkan untuk mendapatkannya. Oleh karena itu, Dia berfirman, “Kecuali yang Aku berikan pakaian, maka mintalah.”

“Kecuali orang yang Aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepadaKu.” Yakni, mintalah pakaian kepadaku, niscaya Aku akan memberikannya untuk kalian, karena pakaian yang dikenakan oleh anak keturunan Adam adalah di antara perbendaharaan yang telah Allah keluarkan dari bumi. Jika Allah menghendaki, hal itu tidak akan mudah untuk didapatkan.

“Wahai hambaKu, sesungguhnya kalian berbuat salah di siang dan di malam hari, sedangkan Aku mengampuni dosa-dosa seluruhnya, maka minta ampunlah kepadaKu, niscaya Aku akan mengampuni kalian.” Sabda beliau ini seperti sabda beliau dalam hadits shahih lainnya,

“Setiap bani Adam berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang-orang yang bertaubat.”
(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah], dan dihasankan oleh Al Albani rahimahullah di dalam Shahihul Jami’)

Manusia berbuat salah di siang dan di malam hari, yakni melakukan kesalahan, yaitu menyelisihi perintah Allah dan rasulNya dengan melakukan hal-hal yang dilarang atau meninggalkan hal yang diperintahkan, akan tetapi kesalahan ini ada obat (penawar)nya, -segala puji bagi Allahlah-, yakni firmanNya, “Mintalah ampun kepadaKu, niscaya Aku akan mengampuni kalian.” Yakni, minta ampunanKu, niscaya Aku akan mengampuni kalian. Maghfirah (ampunan) adalah menutupi kesalahan dan memaafkannya.

{ يا عبادي إنكم لن تبلغوا ضري فتضروني ولن تبلغوا نفعي فتنفعوني } لأن الله سبحانه وتعالى غني عن العالمين ولو كفر كل أهل الأرض فلن يضروا الله شيئاً، ولو آمن كل أهل الأرضلن ينفعوا الله شيئاً، لأنه غني بذاته عن جميع مخلوقاته.

{ يا عبادي لو أن أولكم وآخركم وإنكسم وجنكم كانوا على أتقى قلب رجل واحد منكم ما زاد ذلك في ملكي شيئا } لأن طاعة الطائع إنما تنفع الطائع نفسه أما الله عزوجل فلا ينتفع بها لأنه غني عنها، فلو كان الناس كلهم على أتقى قلب رجل واحد ما زاد ذلك ملك الله شيئاً.

{ يا عبادي لو أن أولكم وآخركم وإنكسم وجنكم كانوا على أفجر قلب رجل واحد منكم ما نقص ذلك في ملكي شيئاً } وذلك لأن الله غني عنا، فلو كان الناس والجن على أفجر قلب رجل مانقص ذلك من ملك الله شيئاً.

“Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian tidak akan bisa mendatangkan kemudharatan kepadaKu lalu menimpakannya kepadaKu, dan kalian takkan bisa memberikan manfaat kepadaKu lalu kalian memberikannya kepadaKu.” Karena Allah tidak membutuhkan para makhluk. Seandainya seluruh penduduk bumi ini kafir, maka mereka tidak akn dapat mendatangkan kemudharatan sedikit pun kepada Allah. Sebaliknya, jika seluruh penduduk bumi ini beriman, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikit pun kepada Allah. Karena Dia maha cukup, sehingga Dia tidak butuh kepada para makhlukNya.

“Wahai hamba-hambaKu, seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari bangsa manusia dan jin, mereka semua berada pada taraf ketakwaan seorang paling tinggi tingkat ketakwaannya di antara kalian, hal itu takkan menambah kerajaanKu sedikit pun.” Hal itu karena ketaatan orang-orang yang taat, hanyalah bermanfaat bagi dirinya sendiri. Adapun Allah, Dia tidak mengambil manfaat darinya karena Dia tidak butuh kepada hal tersebut. Seandainya seluruh manusia berada pada taraf ketakwaan seorang yang paling tinggi tingkat ketakwaannya, hal itu sedikit pun tidak akan menambah kerajaan Allah.

“Seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari kalangan bangsa jin dan manusia, mereka semua berada pada taraf kedurhakaan seorang yang paling tinggi tingkat kedurhakaannya di antara kalian, hal itu takkan mengurangi kerajaanKu sedikit pun.” Hal itu karena Allah tidak butuh kepada kita. Seandainya manusia dan jin, mereka semua berada pada taraf kedurhakaan seorang yang paling durhaka di antara kalian, maka hal itu sedikit pun takkan mengurangi kerajaan Allah.

{ يا عبادي لو أن أولكم وآخركم وإنكسم وجنكم قاموا على صعيد واحد فسألوني فأعطيت كل واحد مسألته ما نقص ذلك مما عندي إلا كما ينقص المخيط إذا أدخل البحر } وذلك لكمال جوده وكرمه وسعة ما عنده، فإنه لو أعطى كل إنسان مسألته لم ينقصه شيئاً، وقوله: { إلا كما ينقص المخيط إذا دخل البحر } وهذا من باب تأكيد عدم النقص، لأنه من المعلوم أن المخيط إذا دخل في البحر ثم نزع منه فإنه لا ينقص البحر شيئاً لأن البلل الذي لحق هذا المخيط ليس بشيء.

{ يا عبادي إنما أعمالكم أحصيها لكم } أي أعدها لكم وتكتب على الإنسان [ ثم أوفيكم إياها فمن وجد خيراً فليحمد الله ومن وجد غير ذلك فلا يلومن إلا نفسه } ومع هذا فإنه سبحانه يجزي الحسنة بعشرة أمثالها إلى سبعمائة ضعف إلى أضعاف كثيرة، ويجزي السيئة بمثلها أو يعفو ويصفح فيما دون الشرك والله أعلم.

وهذا حديث عظيم حديث أبي ذر الغفاري  فيما يرويه عن النبي  عن ربه تبارك وتعالى أنه قال: { إني حرمت الظلم على نفسي } وقد شرحه شيخ الإسلام رحمه الله في رسالة جيدة كما شرحه ابن رجب ضمن الأحاديث الأربعين النووية.

 

“Wahai hambaKu, seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari bangsa manusia dan jin, semuanya berdiri di atas tanah yang tinggi, lalu mereka semua meminta kepadaKu, lalu aku penuhi permintaan mereka, untuk yang demikian itu, tidaklah mengurangi apa-apa yang Aku miliki, kecuali seperti berkurangnya jarum jika dimasukkan ke dalam lautan.” Hal itu karena sempurnanya kemurahan dan kedermawanan Allah, keluasan apa yang dimilikiNya, karena seandainya Dia memberi setiap manusia permintaan mereka, hal itu tidak mengurangi apa yang dimilikiNya sedikit pun.

“Kecuali seperti berkurangnya jarum jika dimasukkan ke dalam lautan.” Ini adalah sebagai penguat tidak berkurangnya kerajaan Allah. Karena telah dimaklumi bahwa jika jarum dimasukkan ke dalam lautan, kemudian jarum itu ditarik kembali, maka lautan itu tidak akan berkurang sedikit pun, karena basah yang menempel pada jarum tersebut tidaklah teranggap apa-apa.

“Wahai hambaKu, sesungguhnya itu hanyalah amalan kalian. Aku menghitungnya untuk kalian.” Yakni, Aku persiapkan untuk kalian dan digariskan bagi setiap orang.

“Kemudian Aku memberikannya secara sempurna kepada kalian, maka barangsiapa mendapatkan kebaikan, maka hendaklah dia memuji Allah. Dan barangsiapa yang mendapatkan yang selain dari itu, maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri.” Bersama dengan itu, Allah akan membalas satu kebaikan dengan sepuluh kali lipatnya, hingga tujuh ratus kali lipat, hingga kelipatan yang banyak. Sedangkan Dia membalas satu kejelekan dengan yang semisalnya, atau Dia akan mengampuni dan memaafkan dosa-dosa selian syirik. Wallahu a’lam. Hadits ini adalah hadits yang begitu agung, yakni hadits Abu Dzar Al Ghifari yang diriwayatkan dari Rasulullah dari Rabbnya, bahwa Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Sesungguhnya Aku telah haramkan kezhaliman atas diriku.” Syaikhul Islam rahimahullah telah menjelaskan hadits ini dalam sebuah tulisan yang bagus. (Saya mengatakan [pentakhrij]: dan syarah tersebut berada di dalam Al Fatawa Al Kubra). Hadits ini pun telah disyarah oleh Ibnu Rajab rahimahullah dalam syarah hadits Arba’in An Nawawi.

وفيه من الفوائد: رواية النبي عن ربه وهو ما يسميه أهل العلم بالحديث القدسي.

ومن فوائده: أن الله عزوجل حرم الظلم عل نفسه لكمال عدله جل وعلا، فهو قادر على أن يظلم، قادر على أن يبخس المحسن من حسناته وأن يضيف إلى المسيء أكثر من سيئاته ولكنه لكمال عدله حرم ذلك على نفسه جل وعلا.

ومن فوائده: أن الظلم بيننا محرم وقد بين الرسول  أنه يكون في الدماء والأموال والأعراض قال عليه الصلاة والسلام في مِنى يوم { إن دماءكم وأموالكم وأعراضكم عليكم حرام كحرمة يومكم هذا في شهركم هذا في بلدكم هذا }.

ومن فوائد هذا الحديث: أن الأصل في الإنسان الضلال والجهل بقوله تعالى:  وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا  [النحل:78] وقوله في هذا الحديث: { يا عبادي كلكم ضال إلامن هديته فاستهدوني أهدكم }. والأصل فيه أيضاً الغي والظلم.

ومن فوائده: وجوب طلب الهداية من الله لقوله تعالى في الحديث { استهدوني أهدكم }.

ومن فوائد الحديث: أن الإنسان بل كل العباد جائعون مضطرون إلى الطعام إلا من أطعمه الله عزوجل , ويترتب على هذهالفائدة سؤال الإنسان ربه واستغناؤه بسؤال الله عن سؤال عباد الله , ولهذا قال – فاستطعموني أطعمكم – .

ومن فوائد هذا الحديث: أن العباد عراة إلا من كساه الله عزوجل ويسر له الكسوة وسهلها له، ولهذا قال: { فاستكسوني أكسكم } أي اطلبوا مني الكسوة أكسيكم، وإنما ذكر الله عز وجل العري بعد ذكر الطعام، لأن الطعام كسوة الداخل واللباس كسوة الظاهر.

ومن فوائد هذا الحديث: أن بني آدم خطاء يخطئون كثيراً في الليل والنهار، ولكن هذا الخطأ يقابله مغفرة الله عز وجل لكل ذنب، وأن الله يغفر الذنوب جميعاً، كما قال تعالى:  قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا  [الزمر:53]، ويترتب على هذا أن الإنسان يعرف قدر نفسه، فكلما أخطأ استغفر الله عز وجل.

ومن فوائد هذا الحديث: أن الذنوب مهما كثرت فإن الله تعالى يغفرها إذا استغفر الله الإنسان ربه، لقوله تعالى في الحديث القدسي: { وأنا أغفر الذنوب جميعاً فاستغفروني أغفرلكم } وقوله: { يا عبادي إنكم لن تبلغوا ضري فتضروني ولنتبلغوا نفعي فتنفعوني } وذلك لأن الله سبحانه وتعالى مستغن عن جميع خلقه، ومن أسمائه العزيز وهو الذي عز أن يناله ضرر، وكذلك هو الغني الحميد فلا حاجة إلى أن يسعى أحد لنفعه ولن يبلغ أحد ضرره لكمال غناه جل وعلا.

{ يا عبادي لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم كانوا على أتقى قلب رجل واحد منكم ما زاد ذلك في ملكي شيئاً } وذلك لكمال غناه عزوجل فلو كان الناس كلهم من إنس وجن على أتقى قلب رجل فأن ذلك لا يزيد من ملك الله شيئاًً.

{ يا عبادي لو أن أولكم وآخركم وإنكسم وجنكم كانوا على أفجر قلب رجل واحد منكم ما نقص ذلك في ملكي شيئاً } وذلك لكمال غناه فلا تنفعه طاعة الطائعين، ولا تضره معصية العاصين والمقصود من هاتين الجملتين: الحث على طاعة الله عز وجل والبعد عن معصيته.

{ يا عبادي لو أن أولكم وآخركم وإنكسم وجنكم قاموا على صعيد واحد فسألوني فأعطيت كل واحد مسألته ما نقص ذلك مما عندي إلا كما ينقص المخيط إذا أدخل البحر } وذلك لكمال غناه جل وعلا وسعته، فيستفاد من هذه الجملة: أن الله سبحانه وتعالى واسع الغنى والكرم وقوله: { إلا كما ينقص المخيط إذا أدخل البحر} سبق لنا أن المقصود بذلك المبالغة في أن ذلك لا ينقص من الله شيئاً.

وقوله: { يا عبادي إنما أعمالكم …} الخ فيستفاد منها الحث على العمل الصالح حتى يجد الإنسان الخير.

ومن فوائده أيضاً: أن الله سبحانه وتعالى لا يظلم الناس شيئاً.

ومن فوائده: أن العاصي سوف يلوم نفسه إذا كان في وقت لا ينفعه اللوم ولا الندم لقوله: { ومن وجد غير ذلك فلا يلومن إلا نفسه }.

Faedah yang dapat dipetik dari hadits ini:

1. Riwayat yang telah dinukil Nabi dari RabbNya. Itulah yang dinamakan oleh para ulama dengan hadits qudsi.

2. Allah telah mengharamkan kezhaliman atas diriNya, itu karena kesempurnaan keadilanNya, padahal Dia Maha Kuasa untuk berbuat zhalim, Maha Kuasa untuk mengurangi kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan orang-orang yang berbuat baik, dan Maha Kuasa pula untuk menambah kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat maksiat lebih dari kadar yang dilakukan oleh mereka. Akan tetapi, karena kesempurnaan keadilanNya, Dia haramkan hal itu atas diriNya.

3. Kezhaliman –di antara kita- diharamkan. Rasulullah telah menjelaskan, bahwa kezhaliman itu bisa terjadi dalam hal darah, harta, dan kehormatan. Di mana pada hari raya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya darah-darah kalian, harta-harta kalian, dan kehormatan kalian, diharamkan atas kalian, seperti haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini, dan di negeri kalian ini.” (Shahih, HR. Bukhari dan Muslim)

4. Manusia pada dasarnya berada di dalam kesesatan dan kebodohan, berdasarkan firman Allah subhanahu wata’ala,

وَاللّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ شَيْئًا

“Dan Allah mengeluarkanmu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. (An Nahl: 78)

Dan firmanNya di dalam hadits ini, “Wahai hamba-hambaKu, kalian semua sesat, kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepadaKu, niscaya Aku akan memberikannya kepada kalian.” Pada dasarnya manusia berada di dalam penyimpangan dan kezhaliman.

5. Wajibnya memohon hidayah kepada Allah, berdasarkan firman Allah dalam hadits ini, “Mintalah petunjuk kepadaKu, niscaya Aku akan memberikannya kepada kalian.”

6. Manusia, bahkan seluruh makhluk kelaparan dan sangat membutuhkan makanan, kecuali orang-orang yang diberi makan oleh Allah. Konsekuensi dari faedah ini adalah sesungguhnya manusia hanya meminta kepada Rabbnya, dan hanya meminta kepadaNya semata, dan tidak memohon kepada sesama hamba. Oleh karena itu, Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Mintalah makan kepadaKu, niscaya Aku akan memberikannya kepada kalian.”

7. Para hamba adalah telanjang, kecuali yang diberi pakaian oleh Allah, dimudahkan dan digampangkan untuk memperoleh pakaian itu untuknya. Karena itu, Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Maka mintalah pakaian kepadaKu, niscaya Aku akan memberikannya untuk kalian.” Yakni, mintalah pakaian kepadaKu, niscaya Aku akan memberikannya untuk kalian. Allah menyebutkan telanjang setelah menyebutkan makanan. Hal itu tidak lain karena makanan adalah pakaian dalam, sedangkan sandang adalah pakaian untuk yang nampak.

8. Anak keturunan Adam (manusia) banyak berbuat kesalahan di siang dan di malam hari, akan tetapi segala kesalahan itu dapat diimbangi dengan ampunan Allah, karena Allah mengampuni dosa-dosa seluruhnya, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا

“Katakanlah, Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”
(Az Zumar: 53)

Konsekuensi dari hal itu, setiap orang (hendaknya) mengetahui kapasitas dirinya. Setiap kali dia bersalah, maka ia meminta ampunan kepada Allah.

9. Dosa-dosa bagaimana pun banyaknya, sesungguhnya Allah akan mengampuninya, jika seseorang memohon ampunan kepadanya, berdasarkan firman Allah subhanahu wata’ala dalam hadits qudsi ini, “Aku mengampuni dosa-dosa seluruhnya, maka minta ampunlah kepadaKu, niscaya Aku akan mengampuni kalian.” Dan firmanNya, “Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian tidak akan bisa mendatangkan kemudharatan kepadaKu lalu menimpakannya kepadaKu, dan kalian takkan bisa memberikan manfaat kepadaKu lalu kalian memberikannya kepadaKu.” Hal itu karena Allah tidak butuh kepada semua makhlukNya. Dan di antara nama-namaNya adalah Al ‘Aziz (Yang Maha Perkasa), dan Dialah Yang Maha Kuat, tidak mungkin ditimpa kemudharatan. Demikian pula, Dia Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Karenanya, Dia tidak butuh pada upaya seseorang untuk memberikan manfaat kepadaNya, dan tidak seorang pun yang mampu mendatangkan kemudharatan kepadaNya, karena kesempurnaan kekayaanNya.

“Wahai hamba-hambaKu, seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari bangsa manusia dan jin, mereka semua berada pada taraf ketakwaan seorang paling tinggi tingkat ketakwaannya di antara kalian, hal itu takkan menambah kerajaanKu sedikit pun.” Hal itu karena kesempurnaan kekayaanNya. Sekalipun seluruh makhluk, baik dari bangsa jin dan manusia berada pada taraf ketakwaan seorang yang paling tinggi tingkat ketakwaannya, hal itu sedikit pun tidak akan dapat menambah kerajaan Allah, karena Allah subhanahu wata’ala tidak butuh kepada mereka.

“Seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari kalangan bangsa jin dan manusia, mereka semua berada pada taraf kedurhakaan seorang yang paling tinggi tingkat kedurhakaannya di antara kalian, hal itu takkan mengurangi kerajaanKu sedikit pun.” Hal itu karena kesempurnaan kekayaanNya, maka ketaatan orang yang taat takkan dapat mendatangkan manfaat kepadaNya dan kemaksiatan orang-orang yang bermaksiat tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepadaNya. Maksud dari kedua kalimat ini adalah untuk memberikan dorongan untuk taat kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan kepadaNya.

“Wahai hambaKu, seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari bangsa manusia dan jin, semuanya berdiri di atas tanah yang tinggi, lalu mereka semua meminta kepadaKu, lalu aku penuhi permintaan mereka, untuk yang demikian itu, tidaklah mengurangi apa-apa yang Aku miliki, kecuali seperti berkurangnya jarum jika dimasukkan ke dalam lautan.” Hal itu karena kesempurnaan kekayaanNya dan keluasanNya. Dari kalimat ini dapat dipetik faedah bahwa Allah Maha Luas Kekayaan dan KedermawananNya. Dan firmanNya, “Kecuali seperti berkurangnya jarum jika dimasukkan ke dalam lautan.” Telah disebutkan di muka bahwa yang dimaksud dengan itu adalah untuk menegaskan bahwa hal itu tidaklah mengurangi kekuasaan Allah sedikit pun.

Dan firmanNya, “Wahai hambaKu, sesungguhnya itu hanyalah amalan kalian.” Dapat diambil faedah dari ucapan ini: anjuran untuk beramal shaleh hingga manusia mendapatkan kebaikan.

10. Allah subhanahu wata’ala tidak menzhalimi manusia sedikit pun.

11. Orang yang bermaksiat akan mencela dirinya sendiri, di waktu yang tidak bermanfaat celaan ketika itu, tidak pula penyesalan. Berdasarkan firmanNya, “Dan barangsiapa yang mendapatkan yang selain dari itu, maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri.”

(In Syaa Allah Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.