💡 SYARAH HADITS KE 22 ARBA’IIN ANNAWAWIYYAH

💡 SYARAH HADITS KE 22
ARBA’IIN ANNAWAWIYYAH

الحديث الثاني والعشرون
بشرح و تعليق : الشيخ محمد بن صالح العثيمين

Ditulis : Imam An-Nawawy
Syarah : Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin

📗 Hadits Ke 22:

عن أبي عبد الله جابر بن عبد الله الأنصاري رضي الله عنهما: أن رجلاً سأل رسول الله، فقال: ( أرأيت إذا صليت المكتوبات، وصمت رمضان، وأحللت الحلال، وحرمت الحرام، ولم أزد على ذلك شيئاً؛ أأدخل الجنة؟ ) قال: { نعم }.

[رواه مسلم].

Dari Abu Abdillah Jabir bin Abdillah Al Anshari radhiyallahu’anhuma bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku mengerjakan shalat fardhu dan berpuasa ramadhan, aku haramkan yang haram, dan aku halalkan yang halal, apakah aku akan masuk surga?” Beliau menjawab, “Ya.”
(H.R Muslim)

قال النووي: ( ومعنى حرمت الحرام: اجتنبته… ومعنى الحلال: فعلته معتقداً حله ).

Imam Annawawy rahimahullah berkata :
Makna dari sabda Nabi : “Aku haramkan yang haram”, maknanya adalah aku menjauhinya. Sedangkan “aku halalkan yang halal”, maknanya adalah mengerjakan dengan meyakini kehalalannya.

الشرح:

قال الشيخ رحمه الله:

الحديث الثاني والعشرون: عن أبي عبدالله جابر بن عبدالله الأنصاري رضي الله عنهما أن رجلاً سأل رسول الله  فقال: ( أرأيت ) بمعني: أخبرني.

( أرأيت إذا صليت المكتوبات ) بمعنى الفرائض، وهي الفرائض الخمس والجمعة.

( وصمت رمضان ) وهو الشهر الذي بين شعبان وشوال.

( وأحللت الحلال ) أي فعلته معتقداً حله.

( وحرمت الحرام ) أي اجتنبته معتقداً تحريمه.

( ولم أزد على ذلك، أأدخل الجنة؟ قال: { نعم }
[رواه مسلم] ).

Penjelasan:

Asy Syaikh rahimahullah mengatakan, hadits yang ke 22 ini perkataannya, “Bagaimana pendapatmu?” Maknanya adalah beritakanlah kepadaku. “Bagaimana pendapatmu jika aku mengerjakan shalat yang faedhu.” Maksudnya adalah shalat-shalat fardhu, yakni shalat lima waktu dan shalat jum’at. “Aku berpuasa Ramadhan.” Yakni bulan di antara bulan Sya’ban dan Syawwal. “Dan aku halalkan yang halal.” Yakni aku mengerjakannya dan meyakini kehalalannya. “Aku haramkan yang haram.” Yakni, aku menjauhi dan meyakini keharamannya. “Dan aku tidak melakukan lebih dari itu, apakah aku akan masuk surga?” Beliau menjawab, “Ya.”

 

في هذا الحديث يسأل الرجل رسول الله  إذا صلى المكتوبات وصام رمضان وأحل الحلال وحرم الحرام ولم يزد على ذلك شيئاً هل يدخل الجنة ؟ قال: { نعم }.

وهذا الحديث لم يذكر فيه الزكاة ولم يذكر فيه الحج، فإما أن يقال: إن ذلك داخلاً في قوله: ( حرمت الحرام ) لأن ترك الحج حرام وترك الزكاة حرام.

ويمكن أن يقال: أما بالنسبة للحج فربما يكون هذا الحديث قبل فرضه، وأما بالنسبة للزكاة فلعل النبي  علم من حال هذا الرجل أنه فقير وليس من أهل الزكاة فخاطبه على قدر حاله.

Dalam hadits ini, seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jika dia mengerjakan shalat fardhu, berpuasa di bulan Ramadhan, menghalalkan yang halal, dan mengharamkan yang haram, dan dia tidak melakukan lebih dari itu sedikit pun, apakah ia akan masuk surga?” Beliau menjawab, “Ya.” Dalam hadits ini tidak disebutkan zakat dan ibadah haji. Ada yang berpendapat bahwa hal itu masuk dalam sabdanya, “Aku haramkan yang haram.” Karena meninggalkan haji haram hukumnya, demikian juga meninggalkan zakat. Mungkin juga dikatakan terkait dengan ibadah haji, bisa jadi hadits ini diucapkan sebelum diwajibkannya ibadah haji. Adapun yang berkaitan dengan zakat, bisa jadi Nabi mengetahui keadaan orang tersebut. Bahwa dia adalah orang miskin, tidak tergolong orang yang diwajibkan untuk mengeluarkan zakat, maka beliau berbicara kepadanya sesuai dengan keadaannya.

في هذا الحديث من الفوائد: حرص الصحابة رضي الله عنهم على سؤال النبي .

وفيه: أن الغاية من هذه الحياة هي دخول الجنة.

وفيه أيضاً: أهمية الصلوات المكتوبات، وأنها سبب لدخول الجنة مع باقي ما ذكر في الحديث.

Hadits ini mengandung beberapa faedah:

1. Antusias para sahabat untuk bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

2. Tujuan akhir dari kehidupan ini adalah masuk ke dalam surga.

3. Pentingnya shalat-shalat fardhu. Bahwa shalat-shalat tersebut merupakan sebab masuknya seseorang ke dalam surga dengan disertai amalan-amalan lainnya yang disebutkan dalam hadits ini.

وفيه أيضاً: أهمية الصيام، وفيه وجوب إحلال الحلال وتحريم الحرام، أي أن يفعل الإنسان الحلال معتقداً حله وأن يتجنب الحرام معتقداً تحريمه، ولكن الحلال يخير فيه الإنسان إن شاء فعله وإن شاء لم يفعله، أما الحرام فلا بد أن يتجنبه ولا بد أن يصطحب هذا اعتقاداً. تفعل الحلال معتقداً حله، والحرام تجتنبه معتقداً تحريمه.

ومن فوائد هذا الحديث: أن السؤال معادٌ في الجواب فإن قوله: { نعم } يعني تدخل الجنة.

قال النووي رحمه الله: ( ومعنى حرمت الحرام: اجتنبته ) وينبغي أن يقال: ( اجتنبته معتقداً تحريمه ) والله أعلم

4. Pentingnya ibadah puasa.

5. Wajibnya menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, yaitu seseorang mengerjakan perkara yang halal, seraya meyakini kehalalannya. Akan tetapi, dalam hal-hal yang halal, seseorang diberi pilihan, jika ia mau, ia bisa mengerjakannya, jika tidak, ia bisa meninggalkannya. Adapun perkara yang haram ia harus menjauhinya, dan ia pun harus meyakini bahwa hal itu adalah sesuatu yang haram. Engkau mengerjakan yang halal dengan meyakini kehalalannya dan menjauhi yang haram dengan meyakini keharamannya.

6. Pertanyaan adalah tempat kembalinya jawaban. Karena jawaban beliau “Ya”, maksudnya adalah engkau akan masuk surga. Al Imam An Nawawi berkata, “Aku haramkan yang haram”, maknanya adalah aku menjauhinya. Seyogyanya adalah dikatakan, “Menjauhinya dengan meyakini keharamannya.”
Wallahu a’lam.

(In Syaa Allah Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.