WAJIBNYA ITTIBA’ (MENGIKUTI) RASULULLAH -shalallaahu ‘alaihi wasallam-

WAJIBNYA ITTIBA’ ( MENGIKUTI ) RASULULLAH -shalallaahu ‘alaihi wasallam-

Tidak ada seorang pun dari para imam – yang diakui imamahnya oleh seluruh umat yang sengaja menyelisihi sunnah Rasulullah ( bahkan mereka selalu memerintahkan umat agar selalu ittiba terhadap sunnah Rasulullah ( .
Al-Imam Abu Hanifah berkata : Tidak halal atas seorangpun mengambil perkataan kami selama dia tidak tahu dari mana kami mengambilnya dalam riwayat lain beliau berkata : Orang yang tidak tahu dalilku haram atasnya berfatwa dengan perkataanku ( Dinukil oleh Ibnu Abidin dalam Hasyiyahnya atas Bahru Raiq 6/293 dan Syarany dalam Al-Mizan 1/55 ).
Al-Imam Malik berkata : Sesungguhnya aku adalah manusia yang bisa benar dan keliru, lihatlah pendapatku, setiap yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah maka ambillah, dan setiap yang tidak sesuai dengan Kitab dan Sunnah maka tinggalkanlah ( Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Al-Jami 2/32 ).
Al-Imam Asy-Syafii berkata : Jika kalian menjumpai sunnah Rasulullah ( ittibalah kepadanya, janganlah kalian menoleh kepada perkataan siapapun ( Diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam Hilyatul Auliya 9/107 dengan sanad yang shahih )
Beliau juga berkata : Setiap yang aku katakan, kemudian ada hadits shahih yang menyelisihinya, maka hadits Nabi ( lebih utama untuk diikuti, janganlah kalian taklid kepadaku ( Diriwayatkan oleh Abu Hatim dalam Adab Syafii hal. 93 dengan sanad yang shahih ).
Al-Imam Ahmad berkata : Janganlah Engkau taklid dalam agamamu kepada seorangpun dari mereka, apa yang datang dari Nabi ( dan para sahabatnya ambillah , beliau juga berkata : Ittiba adalah jika seseorang mengikuti apa yang datang dari Nabi ( dan para sahabatnya ( Masail Al-Imam Ahmad oleh Abu Dawud hal.276-277 ).
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata : ” Kita semua mengetahui dengan ilmu al-yaqin bahwasanya tidak ada seorang pun dari ahli ilmu – yang terpercaya keilmuannya, amanahnya, dan agamanya yang dengan sengaja menyelisihi apa yang ditunjukkan oleh Kitabullah dan Sunnah RasulNya ( , karena sesungguhnya orang yang disifati dengan ilmu dan agama maka tentulah selalu mengikuti al-haq, dan barangsiapa yang selalu mengikuti al-haq maka sesungguhnya akan memudahkan baginya kepada al-haq, simaklah firman Alloh ( :
( وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ (
“ Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran? “ ( Al-Qomar : 17 )
( فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى * فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى ٍ (
“ Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), Maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. “ ( Al-Lail : 5-7 ) ” ( Al-Khilaf Bainal Ulama hal. 2 ).

KESALAHAN ADALAH TABIAT MANUSIA

Betapa pun para ulama berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengikuti al-haq akan tetapi kadang terjatuh di dalam kesalahan sebagaimana tabiat manusia yang tercipta dalam keadaan lemah sebagaimana Alloh ( berfirman:
( وَخُلِقَ الإِنسَـنُ ضَعِيفاً (
“ dan manusia dijadikan bersifat lemah.“ ( An-Nisa’ : 28 ).
Manusia diciptakan oleh Alloh dalam keadaan lemah di dalam ilmu dan pemahamannya, lemah tidak mungkin mengetahui dan menguasai segala sesuatu, yang pasti akan terjatuh di dalam kesalahan di dalam sebagian permasalahan.
Karena itulah kadang kita dapati bahwa para ulama keliru di dalam ijtihad mereka dan kadang mengeluarkan pendapat yang datang dalil yang shahih yang menyelisihinya.

TIDAK BOLEH MENGIKUTI KETERGELINCIRAN PARA ULAMA

Orang-orang yang setengah matang ilmunya menjadikan hawa nafsu mereka sebagai hakim dalam masalah-masalah khilafiyah (perselisihan). Mereka memilih pendapat yang paling mudah dan yang paling enak menurut hawa nafsu mereka tanpa bersandar kepada dalil syar’i. Bahkan karena taqlid kepada kesalahan seorang alim, yang seandainya orang alim tersebut mengetahui kebenaran maka dia akan meninggalkan pendapatnya (yang salah tersebut) tanpa ragu-ragu.
Bahkan mereka mengambil rukhsah dari para fuqaha’ pada suatu permasalahan dan meninggalkan pendapat-pendapat para fuqaha itu pada permasalahan yang lain. Mereka menyesuaikan antara madzhab-madzhab dan menggabungkan pendapat-pendapat menurut hawa nafsu mereka !.
Padahal yang wajib atas setiap muslim adalah ittiba’ ( mengikuti ) dalil dan bukan menuruti hawa nafsunya sebagaimana Aloh wajibkan setiap manusia agar selalu ittiba kepada wahyu yang diturunkan oleh Alloh kepada RasulNya, Alloh jadikan wahyu tersebut sebagai petunjuk kepada manusia di dalam kehidupannya.
Tidak ada seorang pun dari para imam – yang diakui imamahnya oleh seluruh umat yang sengaja menyelisihi sunnah Rasulullah ( bahkan mereka selalu memerintahkan umat agar selalu ittiba terhadap sunnah Rasulullah ( .
Betapa pun para ulama berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengikuti al-haq akan tetapi kadang terjatuh di dalam kesalahan sebagaimana tabiat manusia yang tercipta dalam keadaan lemah sebagaimana Alloh ( berfirman:
ﭽ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭼ
“ dan manusia dijadikan bersifat lemah.“ ( An-Nisa’ : 28 ).
Manusia diciptakan oleh Alloh dalam keadaan lemah di dalam ilmu dan pemahamannya, lemah tidak mungkin mengetahui dan menguasai segala sesuatu, yang pasti akan terjatuh di dalam kesalahan di dalam sebagian permasalahan.
Maka tidak boleh mengikuti kesalahan-kesalahan para ulama sebagaimana juga tidak boleh merendahkan para ulama dengan sebab ketergelinciran mereka..
Al-Hafizh Adz-Dzahabi berkata : ” Sesungguhnya seorang dari para imam jika banyak benarnya, diketahui usahanya untuk mengikuti al-haq, diketahui keluasan ilmunya, nampak kecerdasannya, diketahui keshalihannya, waro’nya,dan ittiba’nya, maka diampuni ketergelincirannya, tidaklah kita menyesatkannya dan melemparkannya dan melupakan kebaikan-kebaikannya. Ya, kita tidak mengikuti dia dalam kebid’ahannya dan kesalahnnya dan kita mengharapkan baginya taubat dari hal itu ” ( Siyar A’lam Nubala’ 5/271 ).

SEBAB-SEBAB TERJATUHNYA PARA ULAMA DI DALAM KESALAHAN DALAM IJTIHAD

Ada hal-hal yang menyebabkan terjatuhnya seorang ulama di dalam kesalahan ketika berijtihad, sebab-sebab ini banyak sekali sebagaimana disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam kitab Raf’ul Malam ‘An Aimmatil A’lam yang akan kami sebutkan di bawah ini di antaranya :
Belum sampai dalil padanya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : ” Sebab inilah yang dominan pada kebanyakan perkataan sebagaian ulama Salaf yang menyelisihi sebagian hadits-hadits. Karena sesungguhnya tidak ada seorang pun dari umat ini yang mengetahui hadits Rasulullah ( secara keseluruhan ” ( Raf’ul Malam ‘An Aimmatil A’lam hal. 6 ).
Di antara contoh dalam hal ini adalah kisah Umar bin Khaththab ketika melakukan perjalanan ke negeri Syam, di tengah perjalanan tiba-tiba terdengar berita bahwa di Syam terjadi tha’un ( wabah penyakit ), maka Umar bermusyawarah dengan para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang masuk Islam setelah Fathu Makkah, maka masing-masing dari mereka menyodorkan pendapatnya dan tidak ada seorang pun yang mengkhabarkan tentang Sunnah dalam hal itu, hingga datanglah Abdurrahman bin Auf yang mengkhabarkan kepada Umar tentang Sunnah Rasulullah ( di dalam menghadapi Tha’un bahwasanya beliau bersabda :
إذا سمعتم به بأرض فلا تقدموا عليه وإذا وقع بأرض وأنتم بها فلا تخرجوا فرارا منه
“ Jika kalian mendengar tha’un di suatu negeri maka janganlah datang kepadanya, dan jika terjadi tha’un di suatu negeri yang kalian tinggal padanya maka janganlah keluar untuk lari darinya ( Shahih Bukhari 6/2557 dan Shahih Muslim 4/1740 ).
Lihatlah bagaimana hadits tersebut tersembunyi atas pemuka para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar hingga datang Abdurrahman bin ‘Auf yang menyampaikannya kepada mereka.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : ” Mereka para sahabat adalah yang paling berilmu di antara umat ini, paling faham, paling bertakwa, dan paling utama. Sedangkan orang-orang yang datang sesudah mereka di bawah mereka dari segi itu semua. Maka tersembunyinya Sunnah Rasulullah ( atas mereka lebih utama. Hal ini tidaklah membutuhkan kepada penjelasan. Barangsiapa yang meyakini bahwa setiap hadits yang shahih telah sampai kepada setiap para imam, atau kepada imam tertentu, maka orang tersebut telah keliru dengan kekeliruan yang parah ” ( Raf’ul Malam ‘An Aimmatil A’lam hal. 17 ).
Telah sampai hadits padanya akan tetapi tidak tsabit ( shahih ) menurutnya.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata : ” Betapa banyak kita lihat pendapat ahli ilmu, di dalamnya ada hadirts-hadits, lalu sebagian ahli ilmu memandang bahwa itu shahih maka mereka memeganginya, dan sebagian ahli yang lain memandangnya dha`if (lemah) maka mereka tidak memeganginya dengan memandang karena tidak adanya keterpercayaan pada penukilannya (periwayatan) dari Rasulullah ( ” ( Al-Khilaf Bainal Ulama hal. 3 ).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : ” Karena sesungguhnya hadits-hadits telah masyhur dan menyebar. Akan tetapi sampai kepada kebanyakan para ulama dari jalan-jalan yang lemah, dan sampai juga kepada para ulama selain mereka dari jalan-jalan lain yang shahih. Sehingga menjadi hujjah bagi yang menerimanya dari jalan-jalan yang shahih dan tidak menjadi hujjah bagi yang belum sampai jalan-jalan yang shahih tersebut padanya.
Karena inilah banyak dari para imam yang menggantungkan pendapatnya dengan isi hadits jika shahih hadits tersebut. Seperti perkataan mereka : ‘ Pendapatku dalam masalah ini demikian, dan telah diriwayatkan dalam masalah ini hadits demikian. Jika hadits tersebut shahih maka itulah pendapatku ‘ ” ( Raf’ul Malam ‘An Aimmatil A’lam hal. 20-21 ).
Hadits telah datang pada ulama tersebut tetapi ia lupa.
Jarang sekali orang yang tidak pernah lupa. Betapa banyak manusia yang lupa suatu hadits, bahkan kadang lupa suatu ayat. Rasulullah ( pernah shalat pada suatu hari mengimami sahabat-sahabatnya bahwasanya, ketika membaca ayat beliau rancu di dalam membacanya, ketika selesai beliau bersabda kepada Ubay bin Ka’b : Apakah kamu sholat bersama kami ? , Ubay berkata : Ya , Rasulullah ( bersabda : Apa yang menghalangimu untuk menuntunku ? ( Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan Thabrani, dan dishahihkan sanadnya oleh Syaikh al-Albani dalam Sifat Shalat Nabi ( hal. 128 ).
Rasulullah ( pernah lupa, padahal beliaulah yang diituruni wahyu, maka selain beliau lebih pantas untuk lupa.
Di antara contoh hadits telah sampai pada seseorang tetapi ia lupa adalah kisah Umar bin Khathab bersama Ammar bin Yasir ketika keduanya diutus oleh Rasulullah ( dalam suatu keperluan, lalu dua-duanya, Amar dan Umar semuanya junub (berhadats besar). Adapun Ammar maka ia berijtihad dan berpendapat bahwa bersuci dengan debu itu seperti bersuci dengan air. Maka ia berguling-guling di atas tanah seperti bergulingnya binatang melata, agar supaya debu meratai badannya, seperti air meratai badannya, dan ia shalat. Adapun Umar maka ia belum shalat.. Kemudian keduanya datang kepada Rasulullah ( maka beliau menunjuki keduanya kepada yang benar. Dan beliau bersabda kepada Ammar: “Sesungguhnya kamu cukup hanya menepukkan kedua tapak tanganmu beginidan beliau memukulkan kedua tapak tangannya ke bumi satu kalikemudian yang kiri mengusap atas yang kanandan luar dua tapak tangannya dan wajahnya.
Kemudian Ammar menceritakan hadits ini dalam masa kekhalifahan Umar, dan masa sebelumnya, tetapi Umar mengundangya pada suatu hari dan berkata padanya (Ammar): Hadits apakah yang kamu ceritakan ini? Lalu Ammar mengabarinya dan berkata: Apakah Engkau tidak ingat ketika Rasulullah ( mengutus kita (berdua) dalam suatu keperluan, lalu kita berdua junub, maka adapun engkau belum shalat, sedangkan aku maka berguling-guling di atas tanah, maka Nabi ( bersabda: “Sesungguhnya cukup kamu hanya menepuk begini dan begini“. Tetapi Umar tidak ingat yang demikian itu, dan ia berkata: Bertaqwalah kamu kepada Allah wahai Ammar. Lalu Ammar berkata kepada Umar: “Kalau kamu menghendaki orang yang dijadikan Allah untuk taat padamu ini agar tidak menceritakannya maka kerjakanlah.“ Lalu Umar berkata kepadanya: “Kami kuasakan padamu apa yang kamu kuasaiartinya maka ceritakanlah hal itu pada orang-orang-“ ( Shahih Bukhari 1/133 dan Shahih Muslim 1/280 ).
Dalil telah sampai padanya tetapi ia memahaminya berbeda dengan yang dimaksud dalil itu.
Di antara contoh dalam hal ini adalah firman Alloh ( :
( ( ((((( (((((( (((((((( (((( (((((( (((((( (((( (((((( (((((( ((((((( ((((( (((((((((((( (((( ((((((((((( (((((((((((( (((((( ((((((((( (((((( ((((((((((((( (((((((( (((((((( (
“ Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci)…“(An-Nisaa`: 43).
Para ulama rahimahumullah berbeda pendapat dalam makna ( أَوْ لَـمَسْتُمُ النِّسَآءَ ) di dalam ayat diatas. Sebagian mereka memahami bahwa yang dimaksud itu adalah mutlaknya menyentuh, sedang yang lain memahami bahwa yang dimaksud lafazh itu adalah menyentuh yang membangkitkan syahwat, dan ulama yang lain lagi memahami bahwa yang dimaksud lafazh itu adalah jima` (bersetubuh), dan pendapat ini adalah pendapat Ibnu Abbas .
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata : ” Jika Anda renungkan ayat itu maka Anda dapati bahwa yang benar itu adalah orang yang berpendapat bahwa lafal ` لَـمَسْتُمُ ` itu artinya jima` (bersetubuh). Karena Alloh Tabaraka wa Ta`ala menyebutkan dua macam dalam bersuci pakai air, yaitu bersuci dari hadats kecil dan besar. Dalam hal hadats kecil, firman-Nya: “…maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki..“ .Adapun hadats besar maka firman-Nya: “..dan jika kamu junub maka mandilah”.
Dan sesuai dengan keharusan balaghah dan bayan hendaknya disebutkan pula hal yang mewajibkan bersuci dari dua hadats dalam tayammum. Maka firman Alloh Ta`ala :“atau kembali dari tempat buang air“ itu menunjukkan kepada hal yang mewajibkan bersuci dari hadats kecil. Dan firman-Nya:“atau kamu telah menyentuh perempuan“ menunjukkan kepada hal yang mewajibkan bersuci dari hadats besar.. Kalau kita jadikan “ الملامسة “ (saling bersentuhan) di sini dengan arti “ اللمس “ (menyentuh), maka pastilah dalam ayat itu disebutkan dua hal yang mewajibkan bersuci dari hadats kecil. Dan tidak disebutkan sama sekali di dalam ayat tersebut tentang hal yang mewajibkan bersuci dari hadats besar, maka pemahaman ini menyelisihi apa yang dituntut oleh balaghah (kejelasan makna) Al-Quran. Orang-orang yang memahami ayat itu bahwa maksudnya adalah mutlaknya menyentuh, mereka mengatakan: kalau lelaki menyentuh kulit wanita maka batallah wudhu`nya, atau jika menyentuhnya karena syahwat maka batal, sedang tanpa syahwat maka tidak batal. Padahal yang benar adalah tidak batal dalam dua keadaan itu (menyentuh ataupun menyentuh dengan syahwat). Karena sungguh telah diriwayatkan bahwa Rasulullah ( mencium salah satu isterinya, kemudian beliau pergi ke shalat dan tidak berwudhu. Riwayat itu datang dari berbagai jalan yang saling kuat menguatkan ” ( Al-Khilaf Bainal Ulama hal. 4 ).
Hadits telah sampai tetapi dimansukh ( dihapus hukumnya) sedang ulama tersebut belum tahu nash yang memansukhkannya.
Hadits itu sendiri shahih dan difahami maksudnya akan telah dimansukh oleh hadits yang lain, sedangkan ulama tersebut belum tahu hadits yang memansukhkanya. Maka dalam keadaan ini ulam tersebut memiliki udzur, karena hukum asalnya adalah tidak adanya pemansukhan sehingga ia tahu dalil yang memansukhkannya.
Di antara contoh di dalam hal ini adalah pendapat Abdullah bin Mas`ud tentang apa yang orang perbuat dengan tangannya ketika ia ruku’ ? . Dahulu pada awal Islam, disyari`atkan bagi orang yang shalat agar menthathbiq ( mengatupkan ) antara kedua tangannya dan meletakkan keduanya di antara dua pahanya. Ini adalah syari`at di awal Islam, kemudian dimansukh ( dihapus hukumnya ). Dan jadilah yang disyari`atkan adalah meletakkan kedua tangan di dua lutut.
Penghapusan hukum tersebut datang di dalam riwayat Sa’d bin Abi Waqqash di dalam Shahih Bukhari 2/319 dan yang lainnya, sedangkan Abdullah bin Mas`ud belum sampai padanya naskh ( penghapusan ) hukum itu, maka ia mengatupkan dua tangannya, lalu ia sholat di sisi `Alqomah dan Aswad dua orang tabi’in, kedua orang itu meletakkan dua tangan mereka di lutut mereka, tetapi Ibnu Mas`ud melarang mereka berdua dari yang demikian, dan menyuruhnya untuk menthathbiq ( mengatupkan ) antara kedua tangannya.
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata : ” Hal ini diarahkan kepada bahwa Abdullah bin Mas’ud belum sampai kepadanya penghapusan hukum tathbiq tersebut ” ( Fathul Bari 2/320 ).

SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP IKHTILAF PARA ULAMA

Yang kami maksudkan dengan ikhtilaf ulama di sini adalah di antara para ulama yang terpercaya secara agama dan keilmuannya, bukan orang yang dianggap berilmu padahal mereka bukan ahlinya, karena mereka bukanlah ulama, akan tetapi kami maksudkan dalam hal ini adalah para ulama yang sebenarnya.
Al-Imam Ibnu Abdil Barr berkata : Telah sepakat para ahli fiqh dan atsar dari seluruh penjuru negeri bahwasanya ahli kalam, ahli bidah dan kesesatan, mereka semua tidak termasuk golongan ulama, karena ulama hanyalah ahli fiqh dan atsar, mereka bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkatan mereka dalam keahlian, ketelitian, dan pemahaman ( Jami Bayanil Ilmi 2/96 ).
Bagaimanakah sikap kita menghadapai ikhtilaf para ulama ?
Apakah manusia akan mengikuti seorang imam dan tidak akan keluar dari pendapat imamnya walaupun kebenaran berada pada ulama lainnya, seperti kebiasaan orang-orang fanatik madzhab? Ataukah akan mengikuti yang dalilnya lebih kuat walaupun menyeleisihi apa yang dinisbatkan kepada para imam?
Maka jawabnya adalah yang kedua yaitu wajib bagi orang yang mengetahui dalilnya untuk mengikuti dalil walaupun menyelisihi imam. Barangsiapa berkeyakinan bahwa ada seseorang selain Rasulullah ( itu wajib dipegangi ucapannya, baik berbuatnya maupun tidak berbuatnya pada setiap keadaan dan setiap waktu, maka sungguh ia telah bersaksi kepada selain Rasul dengan kekhususan-kekhususan kerasulan. Karena seseorang tidak bisa perkataannya itu menjadi hukum kecuali Rasulullah ( dan tidak ada seorangpun ucapannya wajib dipegangi dan larangannya harus ditinggalkan kecuali Rasulullah ( sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Malik :
ليس أحد بعد النبي صلى الله عليه وسلم إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه وسلم
” Tidak ada seorang pun setelah Nabi ( melainkan diambil dan ditinggalkan perkataannya kecuali Nabi ( ” ( Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr di dalam Jami’ Bayan Ilmi wa Fadhlihi 2/91 dan dishahihkan oleh Ibnu Abdil Hadi di dalam Irsyadi Salik 1/227 ).
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata : ” Akan tetapi ada perkara yang masih harus dilihat lagi, karena kita masih tetap mempertanyakan siapa yang mampu untuk mengistinbatkan hukum (menarik kesimpulan) dari dalil-dalil ? Ini suatu problema, karena setiap orang bisa mengatakan: Sayalah orangnya yang berhak. Dan ini sebenarnya tidak baik. Ya dari segi tujuan dan asalnya adalah baik, yaitu kalau penuntun manusia itu kitab Alloh dan Sunnah rasul-Nya. Akan tetapi keberadaan kita membuka pintu bagi setiap orang yang mengerti untuk berbicara dengan dalil walaupun tidak tahu makna dan kandungan dalil. Kita katakan kepadanya : Kamu adalah mujtahid dan berkatalah semaumu !. Maka inilah yang mengakibatkan timbulnya kerusakan syari`at, kerusakan makhluk dan masyarakat.
Sedangkan manusia dalam hal ini terbagi menjadi 3 golongan:
1. Orang alim yang Allah beri rizqi ilmu dan kefahaman.
2. Penuntut ilmu yang memiliki ilmu, tetapi ia belum sampai derajat yang mendalam seperti golongan pertama.
3. Orang awam yang tidak tahu apapun.
Adapun yang pertama, ia berhak untuk berijtihad dan berkata, bahkan ia wajib mengatakan sesuatu yang dikehendaki oleh dalil sekalipun ia menyelisihi orang-orang yang menyelisihi dalil, karena ia diperintah untuk bersikap demikian. Alloh ( berfirman :
( (((((( ((((((( ((((( (((((((((( (((((((( ((((((( (((((((( (((((((( (((((((((( ((((((((( (((((((((((((((((( (((((((( ( (
“ Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri( Orang yang berwenang dan Ulama ) di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil Amri) ” (An-Nisaa`: 83).
Golongan ini adalah termasuk ahli istinbath yang mengetahui apa yang diitunjukkan oleh Al-Quran dan Sunnah.
Adapun yang kedua: Orang yang Allah beri rizqi ilmu dan kefahaman tetapi belum sampai derajat yang pertama itu maka dia tidak ada halangan apabila memegangi hal-hal yang umum, mutlak, dan yang telah sampai padanya. Tetapi ia wajib menjaga hal itu dan tidak boleh lengah untuk menanyakan kepada orang yang lebih tinggi darinya yaitu ahli ilmu, karena ia (si tingkat kedua ini) kadang-kadang salah, dan kadang ilmunya tidak sampai pada suatu pengkhususan dari suatu keumumam, atau taqyi ( batasan ) dari yang mutlak, atau pemansukhan hal yang dia pandang muhkam. Dalam keadaan ia tidak tahu tentang hal itu semua.
Adapun golongan yang ketiga: Yaitu orang yang tidak punya ilmu. Ia ini wajib bertanya kepada ahli ilmu berdasarkan firman Alloh ( :
( ( (((((((((((( (((((( (((((((((( ((( ((((((( (( ((((((((((( ((( (
“…maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui ” (Al-Anbiyaa`: 7).
Dan dalam ayat lain:
( ( (((((((((((( (((((( (((((((((( ((( ((((((( (( ((((((((((( (((( (((((((((((((((( ((((((((((( ( (

“…maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui keterangan-keterangan (mu`jizat) dan kitab-kitab.“ ( An-Nahl : 43-44 ).
Tugas orang awam ini adalah bertanya, tetapi siapakah yang akan ditanya? Di negerinya banyak ulama, masing-masing berkata, bahwa dirinya alim, atau masing-masing dikatakan alim, maka siapakah yang akan ditanya? Apakah kita katakan kepadanya : ‘ Wajib atasmu untuk berusaha mencari yang lebih dekat kepada kebenaran kemudian kamu bertanya kepadanya dan kamu ambil perkataannya ‘ , ataukah kita katakan padanya : ‘ Bertanyalah kepada siapa yang kamu kehendaki dari para ulama, karena kadanga orang yang lebih rendah ilmunya kadang diberi taufiq di dalam suatu masalah tertentu yang orang lebih utama darinya dan lebih berilmu tidak diberi taufiq ‘.
Para ulama berselisih di dalam hal ini : Ada yang berpendapat: Wajib atas orang awam untuk bertanya kepada ulama di negerinya yang paling terpercaya dalam hal keilmuannya. Karena sebagaimana orang yang tertimpa penyakit di badannya maka ia mencari dokter yang paling ahli, maka demikian pula hal ini, karena ilmu itu adalah obat hati. Sebagaimana kamu pilih dokter paling ahli untuk penyakitmu maka wajib pula kamu pilih ulama yang paling ahli ilmu, jadi tiada beda.
Ada yang berpendapat bahwa hal itu tidak wajib, karena orang yang paling ahli kadang tidak lebih tahu dalam setiap masalah secara sebenarnya. Pendapat ini menguatkan bahwa manusia pada zaman sahabat mereka bertanya kepada orang-orang yang lebih rendah ilmunya padahal ada orang yang lebih utama darinya.
Yang saya pandang dalam masalah ini bahwa hendaklah ia bertanya kepada orang yang dipandang lebih utama dalam hal agama dan ilmunya, akan tetapi hal ini bukanlah hal yang wajib, karena orang yang dirinya dipandang lebih utama itu kadang salah dalam masalah tertentu, sedangkan orang yang tidak di bawahnya kadang dia benar, maka hal di atas adalah secara prioritas. Dan pendapat yang terkuat adalah : hendaknya bertanya kepada orang yang lebih dekat kepada kebenaran karena ilmunya, wara`nya (sikap hati-hatinya), dan agamanya ” ( Al-Khilaf Bainal Ulama hal. 7 ).

Akhukum : Abu Ahmad Arif Fathul Ulum

Tidak ada seorang pun dari para imam – yang diakui imamahnya oleh seluruh umat yang sengaja menyelisihi sunnah Rasulullah ( bahkan mereka selalu memerintahkan umat agar selalu ittiba terhadap sunnah Rasulullah ( .
Al-Imam Abu Hanifah berkata : Tidak halal atas seorangpun mengambil perkataan kami selama dia tidak tahu dari mana kami mengambilnya dalam riwayat lain beliau berkata : Orang yang tidak tahu dalilku haram atasnya berfatwa dengan perkataanku ( Dinukil oleh Ibnu Abidin dalam Hasyiyahnya atas Bahru Raiq 6/293 dan Syarany dalam Al-Mizan 1/55 ).
Al-Imam Malik berkata : Sesungguhnya aku adalah manusia yang bisa benar dan keliru, lihatlah pendapatku, setiap yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah maka ambillah, dan setiap yang tidak sesuai dengan Kitab dan Sunnah maka tinggalkanlah ( Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Al-Jami 2/32 ).
Al-Imam Asy-Syafii berkata : Jika kalian menjumpai sunnah Rasulullah ( ittibalah kepadanya, janganlah kalian menoleh kepada perkataan siapapun ( Diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam Hilyatul Auliya 9/107 dengan sanad yang shahih )
Beliau juga berkata : Setiap yang aku katakan, kemudian ada hadits shahih yang menyelisihinya, maka hadits Nabi ( lebih utama untuk diikuti, janganlah kalian taklid kepadaku ( Diriwayatkan oleh Abu Hatim dalam Adab Syafii hal. 93 dengan sanad yang shahih ).
Al-Imam Ahmad berkata : Janganlah Engkau taklid dalam agamamu kepada seorangpun dari mereka, apa yang datang dari Nabi ( dan para sahabatnya ambillah , beliau juga berkata : Ittiba adalah jika seseorang mengikuti apa yang datang dari Nabi ( dan para sahabatnya ( Masail Al-Imam Ahmad oleh Abu Dawud hal.276-277 ).
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata : ” Kita semua mengetahui dengan ilmu al-yaqin bahwasanya tidak ada seorang pun dari ahli ilmu – yang terpercaya keilmuannya, amanahnya, dan agamanya yang dengan sengaja menyelisihi apa yang ditunjukkan oleh Kitabullah dan Sunnah RasulNya ( , karena sesungguhnya orang yang disifati dengan ilmu dan agama maka tentulah selalu mengikuti al-haq, dan barangsiapa yang selalu mengikuti al-haq maka sesungguhnya akan memudahkan baginya kepada al-haq, simaklah firman Alloh ( :
( وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ (
“ Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran? “ ( Al-Qomar : 17 )
( فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى * فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى ٍ (
“ Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), Maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. “ ( Al-Lail : 5-7 ) ” ( Al-Khilaf Bainal Ulama hal. 2 ).

KESALAHAN ADALAH TABIAT MANUSIA

Betapa pun para ulama berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengikuti al-haq akan tetapi kadang terjatuh di dalam kesalahan sebagaimana tabiat manusia yang tercipta dalam keadaan lemah sebagaimana Alloh ( berfirman:
( وَخُلِقَ الإِنسَـنُ ضَعِيفاً (
“ dan manusia dijadikan bersifat lemah.“ ( An-Nisa’ : 28 ).
Manusia diciptakan oleh Alloh dalam keadaan lemah di dalam ilmu dan pemahamannya, lemah tidak mungkin mengetahui dan menguasai segala sesuatu, yang pasti akan terjatuh di dalam kesalahan di dalam sebagian permasalahan.
Karena itulah kadang kita dapati bahwa para ulama keliru di dalam ijtihad mereka dan kadang mengeluarkan pendapat yang datang dalil yang shahih yang menyelisihinya.

TIDAK BOLEH MENGIKUTI KETERGELINCIRAN PARA ULAMA

Orang-orang yang setengah matang ilmunya menjadikan hawa nafsu mereka sebagai hakim dalam masalah-masalah khilafiyah (perselisihan). Mereka memilih pendapat yang paling mudah dan yang paling enak menurut hawa nafsu mereka tanpa bersandar kepada dalil syar’i. Bahkan karena taqlid kepada kesalahan seorang alim, yang seandainya orang alim tersebut mengetahui kebenaran maka dia akan meninggalkan pendapatnya (yang salah tersebut) tanpa ragu-ragu.
Bahkan mereka mengambil rukhsah dari para fuqaha’ pada suatu permasalahan dan meninggalkan pendapat-pendapat para fuqaha itu pada permasalahan yang lain. Mereka menyesuaikan antara madzhab-madzhab dan menggabungkan pendapat-pendapat menurut hawa nafsu mereka !.
Padahal yang wajib atas setiap muslim adalah ittiba’ ( mengikuti ) dalil dan bukan menuruti hawa nafsunya sebagaimana Aloh wajibkan setiap manusia agar selalu ittiba kepada wahyu yang diturunkan oleh Alloh kepada RasulNya, Alloh jadikan wahyu tersebut sebagai petunjuk kepada manusia di dalam kehidupannya.
Tidak ada seorang pun dari para imam – yang diakui imamahnya oleh seluruh umat yang sengaja menyelisihi sunnah Rasulullah ( bahkan mereka selalu memerintahkan umat agar selalu ittiba terhadap sunnah Rasulullah ( .
Betapa pun para ulama berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengikuti al-haq akan tetapi kadang terjatuh di dalam kesalahan sebagaimana tabiat manusia yang tercipta dalam keadaan lemah sebagaimana Alloh ( berfirman:
ﭽ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭼ
“ dan manusia dijadikan bersifat lemah.“ ( An-Nisa’ : 28 ).
Manusia diciptakan oleh Alloh dalam keadaan lemah di dalam ilmu dan pemahamannya, lemah tidak mungkin mengetahui dan menguasai segala sesuatu, yang pasti akan terjatuh di dalam kesalahan di dalam sebagian permasalahan.
Maka tidak boleh mengikuti kesalahan-kesalahan para ulama sebagaimana juga tidak boleh merendahkan para ulama dengan sebab ketergelinciran mereka..
Al-Hafizh Adz-Dzahabi berkata : ” Sesungguhnya seorang dari para imam jika banyak benarnya, diketahui usahanya untuk mengikuti al-haq, diketahui keluasan ilmunya, nampak kecerdasannya, diketahui keshalihannya, waro’nya,dan ittiba’nya, maka diampuni ketergelincirannya, tidaklah kita menyesatkannya dan melemparkannya dan melupakan kebaikan-kebaikannya. Ya, kita tidak mengikuti dia dalam kebid’ahannya dan kesalahnnya dan kita mengharapkan baginya taubat dari hal itu ” ( Siyar A’lam Nubala’ 5/271 ).

SEBAB-SEBAB TERJATUHNYA PARA ULAMA DI DALAM KESALAHAN DALAM IJTIHAD

Ada hal-hal yang menyebabkan terjatuhnya seorang ulama di dalam kesalahan ketika berijtihad, sebab-sebab ini banyak sekali sebagaimana disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam kitab Raf’ul Malam ‘An Aimmatil A’lam yang akan kami sebutkan di bawah ini di antaranya :
Belum sampai dalil padanya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : ” Sebab inilah yang dominan pada kebanyakan perkataan sebagaian ulama Salaf yang menyelisihi sebagian hadits-hadits. Karena sesungguhnya tidak ada seorang pun dari umat ini yang mengetahui hadits Rasulullah ( secara keseluruhan ” ( Raf’ul Malam ‘An Aimmatil A’lam hal. 6 ).
Di antara contoh dalam hal ini adalah kisah Umar bin Khaththab ketika melakukan perjalanan ke negeri Syam, di tengah perjalanan tiba-tiba terdengar berita bahwa di Syam terjadi tha’un ( wabah penyakit ), maka Umar bermusyawarah dengan para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang masuk Islam setelah Fathu Makkah, maka masing-masing dari mereka menyodorkan pendapatnya dan tidak ada seorang pun yang mengkhabarkan tentang Sunnah dalam hal itu, hingga datanglah Abdurrahman bin Auf yang mengkhabarkan kepada Umar tentang Sunnah Rasulullah ( di dalam menghadapi Tha’un bahwasanya beliau bersabda :
إذا سمعتم به بأرض فلا تقدموا عليه وإذا وقع بأرض وأنتم بها فلا تخرجوا فرارا منه
“ Jika kalian mendengar tha’un di suatu negeri maka janganlah datang kepadanya, dan jika terjadi tha’un di suatu negeri yang kalian tinggal padanya maka janganlah keluar untuk lari darinya ( Shahih Bukhari 6/2557 dan Shahih Muslim 4/1740 ).
Lihatlah bagaimana hadits tersebut tersembunyi atas pemuka para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar hingga datang Abdurrahman bin ‘Auf yang menyampaikannya kepada mereka.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : ” Mereka para sahabat adalah yang paling berilmu di antara umat ini, paling faham, paling bertakwa, dan paling utama. Sedangkan orang-orang yang datang sesudah mereka di bawah mereka dari segi itu semua. Maka tersembunyinya Sunnah Rasulullah ( atas mereka lebih utama. Hal ini tidaklah membutuhkan kepada penjelasan. Barangsiapa yang meyakini bahwa setiap hadits yang shahih telah sampai kepada setiap para imam, atau kepada imam tertentu, maka orang tersebut telah keliru dengan kekeliruan yang parah ” ( Raf’ul Malam ‘An Aimmatil A’lam hal. 17 ).
Telah sampai hadits padanya akan tetapi tidak tsabit ( shahih ) menurutnya.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata : ” Betapa banyak kita lihat pendapat ahli ilmu, di dalamnya ada hadirts-hadits, lalu sebagian ahli ilmu memandang bahwa itu shahih maka mereka memeganginya, dan sebagian ahli yang lain memandangnya dha`if (lemah) maka mereka tidak memeganginya dengan memandang karena tidak adanya keterpercayaan pada penukilannya (periwayatan) dari Rasulullah ( ” ( Al-Khilaf Bainal Ulama hal. 3 ).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : ” Karena sesungguhnya hadits-hadits telah masyhur dan menyebar. Akan tetapi sampai kepada kebanyakan para ulama dari jalan-jalan yang lemah, dan sampai juga kepada para ulama selain mereka dari jalan-jalan lain yang shahih. Sehingga menjadi hujjah bagi yang menerimanya dari jalan-jalan yang shahih dan tidak menjadi hujjah bagi yang belum sampai jalan-jalan yang shahih tersebut padanya.
Karena inilah banyak dari para imam yang menggantungkan pendapatnya dengan isi hadits jika shahih hadits tersebut. Seperti perkataan mereka : ‘ Pendapatku dalam masalah ini demikian, dan telah diriwayatkan dalam masalah ini hadits demikian. Jika hadits tersebut shahih maka itulah pendapatku ‘ ” ( Raf’ul Malam ‘An Aimmatil A’lam hal. 20-21 ).
Hadits telah datang pada ulama tersebut tetapi ia lupa.
Jarang sekali orang yang tidak pernah lupa. Betapa banyak manusia yang lupa suatu hadits, bahkan kadang lupa suatu ayat. Rasulullah ( pernah shalat pada suatu hari mengimami sahabat-sahabatnya bahwasanya, ketika membaca ayat beliau rancu di dalam membacanya, ketika selesai beliau bersabda kepada Ubay bin Ka’b : Apakah kamu sholat bersama kami ? , Ubay berkata : Ya , Rasulullah ( bersabda : Apa yang menghalangimu untuk menuntunku ? ( Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan Thabrani, dan dishahihkan sanadnya oleh Syaikh al-Albani dalam Sifat Shalat Nabi ( hal. 128 ).
Rasulullah ( pernah lupa, padahal beliaulah yang diituruni wahyu, maka selain beliau lebih pantas untuk lupa.
Di antara contoh hadits telah sampai pada seseorang tetapi ia lupa adalah kisah Umar bin Khathab bersama Ammar bin Yasir ketika keduanya diutus oleh Rasulullah ( dalam suatu keperluan, lalu dua-duanya, Amar dan Umar semuanya junub (berhadats besar). Adapun Ammar maka ia berijtihad dan berpendapat bahwa bersuci dengan debu itu seperti bersuci dengan air. Maka ia berguling-guling di atas tanah seperti bergulingnya binatang melata, agar supaya debu meratai badannya, seperti air meratai badannya, dan ia shalat. Adapun Umar maka ia belum shalat.. Kemudian keduanya datang kepada Rasulullah ( maka beliau menunjuki keduanya kepada yang benar. Dan beliau bersabda kepada Ammar: “Sesungguhnya kamu cukup hanya menepukkan kedua tapak tanganmu beginidan beliau memukulkan kedua tapak tangannya ke bumi satu kalikemudian yang kiri mengusap atas yang kanandan luar dua tapak tangannya dan wajahnya.
Kemudian Ammar menceritakan hadits ini dalam masa kekhalifahan Umar, dan masa sebelumnya, tetapi Umar mengundangya pada suatu hari dan berkata padanya (Ammar): Hadits apakah yang kamu ceritakan ini? Lalu Ammar mengabarinya dan berkata: Apakah Engkau tidak ingat ketika Rasulullah ( mengutus kita (berdua) dalam suatu keperluan, lalu kita berdua junub, maka adapun engkau belum shalat, sedangkan aku maka berguling-guling di atas tanah, maka Nabi ( bersabda: “Sesungguhnya cukup kamu hanya menepuk begini dan begini“. Tetapi Umar tidak ingat yang demikian itu, dan ia berkata: Bertaqwalah kamu kepada Allah wahai Ammar. Lalu Ammar berkata kepada Umar: “Kalau kamu menghendaki orang yang dijadikan Allah untuk taat padamu ini agar tidak menceritakannya maka kerjakanlah.“ Lalu Umar berkata kepadanya: “Kami kuasakan padamu apa yang kamu kuasaiartinya maka ceritakanlah hal itu pada orang-orang-“ ( Shahih Bukhari 1/133 dan Shahih Muslim 1/280 ).
Dalil telah sampai padanya tetapi ia memahaminya berbeda dengan yang dimaksud dalil itu.
Di antara contoh dalam hal ini adalah firman Alloh ( :
( ( ((((( (((((( (((((((( (((( (((((( (((((( (((( (((((( (((((( ((((((( ((((( (((((((((((( (((( ((((((((((( (((((((((((( (((((( ((((((((( (((((( ((((((((((((( (((((((( (((((((( (
“ Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci)…“(An-Nisaa`: 43).
Para ulama rahimahumullah berbeda pendapat dalam makna ( أَوْ لَـمَسْتُمُ النِّسَآءَ ) di dalam ayat diatas. Sebagian mereka memahami bahwa yang dimaksud itu adalah mutlaknya menyentuh, sedang yang lain memahami bahwa yang dimaksud lafazh itu adalah menyentuh yang membangkitkan syahwat, dan ulama yang lain lagi memahami bahwa yang dimaksud lafazh itu adalah jima` (bersetubuh), dan pendapat ini adalah pendapat Ibnu Abbas .
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata : ” Jika Anda renungkan ayat itu maka Anda dapati bahwa yang benar itu adalah orang yang berpendapat bahwa lafal ` لَـمَسْتُمُ ` itu artinya jima` (bersetubuh). Karena Alloh Tabaraka wa Ta`ala menyebutkan dua macam dalam bersuci pakai air, yaitu bersuci dari hadats kecil dan besar. Dalam hal hadats kecil, firman-Nya: “…maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki..“ .Adapun hadats besar maka firman-Nya: “..dan jika kamu junub maka mandilah”.
Dan sesuai dengan keharusan balaghah dan bayan hendaknya disebutkan pula hal yang mewajibkan bersuci dari dua hadats dalam tayammum. Maka firman Alloh Ta`ala :“atau kembali dari tempat buang air“ itu menunjukkan kepada hal yang mewajibkan bersuci dari hadats kecil. Dan firman-Nya:“atau kamu telah menyentuh perempuan“ menunjukkan kepada hal yang mewajibkan bersuci dari hadats besar.. Kalau kita jadikan “ الملامسة “ (saling bersentuhan) di sini dengan arti “ اللمس “ (menyentuh), maka pastilah dalam ayat itu disebutkan dua hal yang mewajibkan bersuci dari hadats kecil. Dan tidak disebutkan sama sekali di dalam ayat tersebut tentang hal yang mewajibkan bersuci dari hadats besar, maka pemahaman ini menyelisihi apa yang dituntut oleh balaghah (kejelasan makna) Al-Quran. Orang-orang yang memahami ayat itu bahwa maksudnya adalah mutlaknya menyentuh, mereka mengatakan: kalau lelaki menyentuh kulit wanita maka batallah wudhu`nya, atau jika menyentuhnya karena syahwat maka batal, sedang tanpa syahwat maka tidak batal. Padahal yang benar adalah tidak batal dalam dua keadaan itu (menyentuh ataupun menyentuh dengan syahwat). Karena sungguh telah diriwayatkan bahwa Rasulullah ( mencium salah satu isterinya, kemudian beliau pergi ke shalat dan tidak berwudhu. Riwayat itu datang dari berbagai jalan yang saling kuat menguatkan ” ( Al-Khilaf Bainal Ulama hal. 4 ).
Hadits telah sampai tetapi dimansukh ( dihapus hukumnya) sedang ulama tersebut belum tahu nash yang memansukhkannya.
Hadits itu sendiri shahih dan difahami maksudnya akan telah dimansukh oleh hadits yang lain, sedangkan ulama tersebut belum tahu hadits yang memansukhkanya. Maka dalam keadaan ini ulam tersebut memiliki udzur, karena hukum asalnya adalah tidak adanya pemansukhan sehingga ia tahu dalil yang memansukhkannya.
Di antara contoh di dalam hal ini adalah pendapat Abdullah bin Mas`ud tentang apa yang orang perbuat dengan tangannya ketika ia ruku’ ? . Dahulu pada awal Islam, disyari`atkan bagi orang yang shalat agar menthathbiq ( mengatupkan ) antara kedua tangannya dan meletakkan keduanya di antara dua pahanya. Ini adalah syari`at di awal Islam, kemudian dimansukh ( dihapus hukumnya ). Dan jadilah yang disyari`atkan adalah meletakkan kedua tangan di dua lutut.
Penghapusan hukum tersebut datang di dalam riwayat Sa’d bin Abi Waqqash di dalam Shahih Bukhari 2/319 dan yang lainnya, sedangkan Abdullah bin Mas`ud belum sampai padanya naskh ( penghapusan ) hukum itu, maka ia mengatupkan dua tangannya, lalu ia sholat di sisi `Alqomah dan Aswad dua orang tabi’in, kedua orang itu meletakkan dua tangan mereka di lutut mereka, tetapi Ibnu Mas`ud melarang mereka berdua dari yang demikian, dan menyuruhnya untuk menthathbiq ( mengatupkan ) antara kedua tangannya.
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata : ” Hal ini diarahkan kepada bahwa Abdullah bin Mas’ud belum sampai kepadanya penghapusan hukum tathbiq tersebut ” ( Fathul Bari 2/320 ).

SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP IKHTILAF PARA ULAMA

Yang kami maksudkan dengan ikhtilaf ulama di sini adalah di antara para ulama yang terpercaya secara agama dan keilmuannya, bukan orang yang dianggap berilmu padahal mereka bukan ahlinya, karena mereka bukanlah ulama, akan tetapi kami maksudkan dalam hal ini adalah para ulama yang sebenarnya.
Al-Imam Ibnu Abdil Barr berkata : Telah sepakat para ahli fiqh dan atsar dari seluruh penjuru negeri bahwasanya ahli kalam, ahli bidah dan kesesatan, mereka semua tidak termasuk golongan ulama, karena ulama hanyalah ahli fiqh dan atsar, mereka bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkatan mereka dalam keahlian, ketelitian, dan pemahaman ( Jami Bayanil Ilmi 2/96 ).
Bagaimanakah sikap kita menghadapai ikhtilaf para ulama ?
Apakah manusia akan mengikuti seorang imam dan tidak akan keluar dari pendapat imamnya walaupun kebenaran berada pada ulama lainnya, seperti kebiasaan orang-orang fanatik madzhab? Ataukah akan mengikuti yang dalilnya lebih kuat walaupun menyeleisihi apa yang dinisbatkan kepada para imam?
Maka jawabnya adalah yang kedua yaitu wajib bagi orang yang mengetahui dalilnya untuk mengikuti dalil walaupun menyelisihi imam. Barangsiapa berkeyakinan bahwa ada seseorang selain Rasulullah ( itu wajib dipegangi ucapannya, baik berbuatnya maupun tidak berbuatnya pada setiap keadaan dan setiap waktu, maka sungguh ia telah bersaksi kepada selain Rasul dengan kekhususan-kekhususan kerasulan. Karena seseorang tidak bisa perkataannya itu menjadi hukum kecuali Rasulullah ( dan tidak ada seorangpun ucapannya wajib dipegangi dan larangannya harus ditinggalkan kecuali Rasulullah ( sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Malik :
ليس أحد بعد النبي صلى الله عليه وسلم إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه وسلم
” Tidak ada seorang pun setelah Nabi ( melainkan diambil dan ditinggalkan perkataannya kecuali Nabi ( ” ( Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr di dalam Jami’ Bayan Ilmi wa Fadhlihi 2/91 dan dishahihkan oleh Ibnu Abdil Hadi di dalam Irsyadi Salik 1/227 ).
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata : ” Akan tetapi ada perkara yang masih harus dilihat lagi, karena kita masih tetap mempertanyakan siapa yang mampu untuk mengistinbatkan hukum (menarik kesimpulan) dari dalil-dalil ? Ini suatu problema, karena setiap orang bisa mengatakan: Sayalah orangnya yang berhak. Dan ini sebenarnya tidak baik. Ya dari segi tujuan dan asalnya adalah baik, yaitu kalau penuntun manusia itu kitab Alloh dan Sunnah rasul-Nya. Akan tetapi keberadaan kita membuka pintu bagi setiap orang yang mengerti untuk berbicara dengan dalil walaupun tidak tahu makna dan kandungan dalil. Kita katakan kepadanya : Kamu adalah mujtahid dan berkatalah semaumu !. Maka inilah yang mengakibatkan timbulnya kerusakan syari`at, kerusakan makhluk dan masyarakat.
Sedangkan manusia dalam hal ini terbagi menjadi 3 golongan:
1. Orang alim yang Allah beri rizqi ilmu dan kefahaman.
2. Penuntut ilmu yang memiliki ilmu, tetapi ia belum sampai derajat yang mendalam seperti golongan pertama.
3. Orang awam yang tidak tahu apapun.
Adapun yang pertama, ia berhak untuk berijtihad dan berkata, bahkan ia wajib mengatakan sesuatu yang dikehendaki oleh dalil sekalipun ia menyelisihi orang-orang yang menyelisihi dalil, karena ia diperintah untuk bersikap demikian. Alloh ( berfirman :
( (((((( ((((((( ((((( (((((((((( (((((((( ((((((( (((((((( (((((((( (((((((((( ((((((((( (((((((((((((((((( (((((((( ( (
“ Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri( Orang yang berwenang dan Ulama ) di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil Amri) ” (An-Nisaa`: 83).
Golongan ini adalah termasuk ahli istinbath yang mengetahui apa yang diitunjukkan oleh Al-Quran dan Sunnah.
Adapun yang kedua: Orang yang Allah beri rizqi ilmu dan kefahaman tetapi belum sampai derajat yang pertama itu maka dia tidak ada halangan apabila memegangi hal-hal yang umum, mutlak, dan yang telah sampai padanya. Tetapi ia wajib menjaga hal itu dan tidak boleh lengah untuk menanyakan kepada orang yang lebih tinggi darinya yaitu ahli ilmu, karena ia (si tingkat kedua ini) kadang-kadang salah, dan kadang ilmunya tidak sampai pada suatu pengkhususan dari suatu keumumam, atau taqyi ( batasan ) dari yang mutlak, atau pemansukhan hal yang dia pandang muhkam. Dalam keadaan ia tidak tahu tentang hal itu semua.
Adapun golongan yang ketiga: Yaitu orang yang tidak punya ilmu. Ia ini wajib bertanya kepada ahli ilmu berdasarkan firman Alloh ( :
( ( (((((((((((( (((((( (((((((((( ((( ((((((( (( ((((((((((( ((( (
“…maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui ” (Al-Anbiyaa`: 7).
Dan dalam ayat lain:
( ( (((((((((((( (((((( (((((((((( ((( ((((((( (( ((((((((((( (((( (((((((((((((((( ((((((((((( ( (

“…maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui keterangan-keterangan (mu`jizat) dan kitab-kitab.“ ( An-Nahl : 43-44 ).
Tugas orang awam ini adalah bertanya, tetapi siapakah yang akan ditanya? Di negerinya banyak ulama, masing-masing berkata, bahwa dirinya alim, atau masing-masing dikatakan alim, maka siapakah yang akan ditanya? Apakah kita katakan kepadanya : ‘ Wajib atasmu untuk berusaha mencari yang lebih dekat kepada kebenaran kemudian kamu bertanya kepadanya dan kamu ambil perkataannya ‘ , ataukah kita katakan padanya : ‘ Bertanyalah kepada siapa yang kamu kehendaki dari para ulama, karena kadanga orang yang lebih rendah ilmunya kadang diberi taufiq di dalam suatu masalah tertentu yang orang lebih utama darinya dan lebih berilmu tidak diberi taufiq ‘.
Para ulama berselisih di dalam hal ini : Ada yang berpendapat: Wajib atas orang awam untuk bertanya kepada ulama di negerinya yang paling terpercaya dalam hal keilmuannya. Karena sebagaimana orang yang tertimpa penyakit di badannya maka ia mencari dokter yang paling ahli, maka demikian pula hal ini, karena ilmu itu adalah obat hati. Sebagaimana kamu pilih dokter paling ahli untuk penyakitmu maka wajib pula kamu pilih ulama yang paling ahli ilmu, jadi tiada beda.
Ada yang berpendapat bahwa hal itu tidak wajib, karena orang yang paling ahli kadang tidak lebih tahu dalam setiap masalah secara sebenarnya. Pendapat ini menguatkan bahwa manusia pada zaman sahabat mereka bertanya kepada orang-orang yang lebih rendah ilmunya padahal ada orang yang lebih utama darinya.
Yang saya pandang dalam masalah ini bahwa hendaklah ia bertanya kepada orang yang dipandang lebih utama dalam hal agama dan ilmunya, akan tetapi hal ini bukanlah hal yang wajib, karena orang yang dirinya dipandang lebih utama itu kadang salah dalam masalah tertentu, sedangkan orang yang tidak di bawahnya kadang dia benar, maka hal di atas adalah secara prioritas. Dan pendapat yang terkuat adalah : hendaknya bertanya kepada orang yang lebih dekat kepada kebenaran karena ilmunya, wara`nya (sikap hati-hatinya), dan agamanya ” ( Al-Khilaf Bainal Ulama hal. 7 ).

Akhukum : Abu Ahmad Arif Fathul Ulum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.