SYARAH HADITS ARBA’IN ANNAWAWIYYAH: Hadits ke-20

? SYARAH HADITS KE 20
ARBA’IIN ANNAWAWIYYAH

الحديث العشرون
بشرح و تعليق : الشيخ محمد بن صالح العثيمين

Ditulis : Imam An-Nawawy
Syarah : Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin

? Hadits Ke 20:

عن أبي مسعود عقبة بن عمرو الأنصاري البدري رضى الله عنه قال: قال رسول الله صلي الله عليه وسلم: إن مما أدرك الناس من كلام النبوة الأولى: إذا لم تستح فاصنع ما شئت.

[رواه البخاري].

 

Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al Anshari Al Badri radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya di antara ucapan kenabian yang pertama kali ditemui manusia adalah jika engkau tidak merasa malu, maka berbuatlah semaumu.” (HR. Bukhari)

الشرح :

الحديث العشرون عن أبي مسعود عقبة بن عمروالأنصاري البدري  قال: قال رسول الله : { إن مما أدرك الناس من كلام النبوة الأولى، إذا لم تستح فاصنع ما شئت } يعني أن من بقايا النبوة الأولى التي كانت في الأمم السابقة. وأقرتها هذه الشريعة { إذا لم تستح فاصنع ما شئت } يعني إذا لم تفعل فعلاً يستحى منه فاصنع ما شئت هذا أحد وجهين، أي ففعله في المعنى الثاني أن الإنسان إذا لم يستح يصنع ما شاء ولا يبالي وكلا المعنين صحيح.

Penjelasan:

Hadits Arba’in yang ke 20 ini dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al Anshari Al Badri radhiyallahu’anhu, beliau berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya di antara ucapan kenabian yang pertama kali ditemui manusia adalah jika engkau tidak merasa malu, maka berbuatlah semaumu.”
Yakni, di antara peninggalan para nabi terdahulu yang terdapat pada umat sebelum ini yang telah dilegalisasi oleh syari’at ini: “ Jika engkau tidak merasa malu, maka berbuatlah semaumu.”
Yakni, jika kamu tidak mengerjakan perbuatan yang memalukan, maka berbuatlah apa yang engkau mau.
Ini adalah salah satu dari dua pandangan. Maksudnya adalah, maka ia mengerjakannya.
Menurut pandangan yang kedua, bahwa maknanya adalah jika seseorang tidak merasa malu, ia bisa berbuat apapun yang ia mau dan tidak lagi peduli.
Masing-masing dari kedua makna tersebut benar.

يستفاد من هذا الحديث:

Dari hadits ini dapat dipetik faedah:

أن الحياء من الأشياء التي جاءت بها الشرائع السابقة،

1. Rasa malu termasuk perkara yang dibawa oleh syari’at-syari’at terdahulu.

وأن الإنسان ينبغي له أن يكون صريحاً، فإذا كان الشيء لا يستحى منه فليفعله
وهذا الإطلاق مقيد بما إذا كان في فعله مفسدة
فإنه يمتنع الفعل خوفاً من هذه المفسدة.

2. Seseorang seyogyanya menjadi orang yang jujur (berterus terang). Karena jika suatu perkara bukanlah sesuatu yang memalukan, silakan ia mengerjakannya. Hal ini dibatasi dengan apa-apa yang jika itu dilakukan akan menimbulkan kemafsadatan.
Jika demikian, maka perbuatan itu tidak boleh dilakukan, karena dikhawatirkan akan terjerumus dalam kerusakan tersebut.

(In Syaa Allah Bersambung)

One comment

  • Khamdan Jauhari

    jazakumulloh Khoiron katsiro, ustadz. baru kali ini saya mendapati group wa yang sarat dengan sarah hadis.
    Wahana ilmu yang sudah lama saya angan dan inginkan. Allohuma limpahkanlah ampunan dan rahmatMu kepada para ustadz kami.
    Ya Alloh anugerahkan ilmu yang bermanfaat kepada kami. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.