BERSABAR ATAS UJIAN YANG MENIMPA

BERSABAR ATAS UJIAN YANG MENIMPA.

Sabar adalah menahan jiwa dari (melakukan) apa apa yang diharamkan oleh Allah, menahanya ( supaya tetap melaksanakan) apa apa yang diwajibkan oleh Allah, dan menahan dari (perbuatan) murka dan berkeluh kesah terhadap takdir takdir Allah- (Risalaatu Ibnil Qoyyim ilaa ahadi ikhwaanihi hlm. 20)

Rasulullah shallallahu’ alaihi wa sallam bersabda:

اِنَّ اللّٰهَ اِذَا أَحَبَّ قَوْماً اِبْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِي فلَهُ الرًَضِى، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السٌُخْطُ.
Sesungguhnya, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridha (terhadap ujian tersebut), maka baginya keridhaan (dari Allah), dan barang siapa yang murka maka, baginya kemurkaan (dari Allah). Hadist Hasan HR.َTirmidzi no 2396.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda yang artinya:
“Manusia yang paling berat cobaanya adalah para nabi, kemudian yang semisal kemudian yang semisal” (HR.Tirmidzi no 2398)

Para Rasul, shiddiqiin, syuhadaa, dan kaum mukminin, mereka semua diuji oleh Allah (dengan berbagai macam musibah), akan tetapi mereka bersabar. Kehidupan dunia ini tidak selamanya kenikmatan, kemewahan, kelezatan, kebahagiaan, dan kemenangan, tidak selamanya demikian..!!

Allah menggilirkankan hal tersebut diantara hamba hamba Nya. Maka hendaklah seorang hamba mempersiapkan diri (untuk bersabar) ketika diuji dengan suatu ujian atau musibah, dan hendaklah dia mengetahui bahwa ujian tersebut tidaklah khusus menimpa dirinya saja. (Syarah qawaa ‘idil arba’ hlm 10-11 oleh syaikh Shalih bin fauzan al-fauzan hafizhahullah-)

Ketika menghadapi musibah manusia terbagi menjadi 4 (empat):

1. Ada yang murka, baik dengan hatinya, lisanya, atau dengan anggpta badanya.

2. Ada yang bersabar, dia menahan jiwanya (dari berkeluh kesah dan murka). Dia benci kepada musibah tersebut, dan dia tidak ingin musibah itu terjadi, akan tetapi dia menyabarkan dirinya, ( yakni dia menahan jiwanya dari murka dan berkeluh kesah).

3. Ada yang ridha yakni hatinya lapang dalam menghadapi musibah tersebut dan seakan akan dia tidak ditimpa musibah.

4. Ada yang bersyukur, yakni dia bersyukur kepada Allah atas musibah tersebut, karena Allah telah menyiapkan untuknya pahala atas musibah tersebut, yang pahala tersebut lebih banyak dan lebih besar dari pada musibah yang menimpanya.

(Syarhu riaadhish shaalihiin 1/173-175 karya syekh Muhamad bin shaliih Al-Utsaimin rahiimahullah-)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.